13 - Kelompok Tiga

1101 Kata
"Renatasya Edelweis?" Panggilan absen tersebut membuat satu kelas menoleh cepat ke meja paling sudut —meja Renat. Perempuan itu hanya mengangkat tangannya. Mengabaikan kernyitan di dahi guru yang sedang berdiri di depan kelas. "Kamu Renata?" tanya gurunya seperti tidak bisa menahan rasa penasaran. Sedang Renat hanya diam, memberikan tatapan datar kepada pria paruh baya tersebut. Anak-anak sekelas sibuk berbisik, masih bingung dengan perubahan Renat. Tapi tidak dengan Abi, lelaki itu tetap menunduk menatap buku. "Renata yang suka ketawa cekikikan di jam saya, kan?" Dahi Renat seketika berkerut. Mana pernah dia mencari gara-gara di jam pelajaran guru killer. Lalu, diberikannya gelengan sebagai jawaban. "Iya! Saya tau kamu suka ketawa cekikikan di jam saya sambil main HP. Kan minggu kemarin saya baru sita HP kamu." Renat menghela napas panjang, pertanda lelah karena guru tersebut terus saja memancingnya. Minggu kemarin? Ch, bagaimana bisa ponselnya disita guru sedangkan ia hanya sibuk mendekam di kamar. "Yang Bapak sita itu HP punya Kendall, Pak," celetuk ketua kelas sambil tertawa. "Eh, maksud saya punya Siti, Pak." Perempuan bernama Siti tersebut dengan cepat melayangkan tangannya ke arah Obin —sang ketua kelas. Membuat satu kelas terbahak, dan Abi menjadikan kesempatan itu untuk sebentar saja melirik Renat. Dan tepat, Renat juga ikut menatap Abi. Membuat kedua pasang manusia itu buru-buru membuang muka. Malu karena ketahuan. Posisi tempat duduk mereka memang berjauhan. Ada empat kelompok meja, dengan kelompok pertama dihitung dari pintu. Abi berada di kelompok pertama duduk di barisan ke empat. Sedang Renat di kelompok terakhir dan duduk di barisan ke lima. "Sudah-sudah," ujar sang guru. "Kita lanjutkan, dan Renata, bapak suka gaya potongan rambut kamu." Guru tersebut tertawa dengan kalimatnya, entah itu benar pujian atau malah sindiran, Renat tidak tau. Kegiatan mengabsen kembali dilanjutkan. Dan Renat kembali membuang muka ke arah bukunya. Pura-pura sibuk membaca atau memahami soal. Padahal jelas-jelas, pikirannya kosong. "Baik, kita mulai kegiatan belajar kita," ujar guru tersebut sambil menuliskan sesuatu di papan tulis. "Dan kali ini, Bapak akan membentuk kelompok." "Kelompoknya pilih sendiri ya, Pak?" "Bapak aja yang nentuin, Pak." Satu kelas berubah rusuh. Karena kegiatan pemilihan kelompok yang ditentukan guru memang akan membuat siswa-siswi sukses senam jantung. Tetapi bila dibiarkan memilih sendiri, maka akan tercipta sebuah kelompok dimana semua individu pintar berkumpul. "Pilih sendiri ajalah, Pak." "Gak usah, Pak, gak adil." "Diam dulu!" teriak guru tersebut sambil mengeluarkan botol kecil dari dalam tasnya. Sebuah undian. "Nah, satu kelompok cuma tiga orang. Kalau mendapatkan angka yang sama, langsung berkumpul. Itu kelompok kalian." Penjelasan tersebut membuat seisi kelas mengangguk paham. "Yasudah, Abirayyan, kamu maju. Disambung sama Anna, lalu Anggi." Abi yang sejak tadi memang diam membuang napas pelan. Tidak ada yang bisa ia perbuat karena namanya akan selalu berada di atas. "Semoga gue sekelompok sama Abi!" teriak Obin, sambil menengadahkan tangannya ke atas persis berdoa. "Kamu ngomong lagi siap-siap perut kamu saya putar, Bin," ujar guru tersebut sambil menatap Obin, sedang Obin hanya cengengesan tak tentu. Abi yang baru saja mengambil gulungan kertas langsung membukanya. Tampak angka 3 tertulis disana. Lalu lelaki itu mengambil spidol, dengan cepat menuliskan namanya di bagian kelompok tiga. "Gile, Anna sama Abi satu kelompok. Uwaw!" Obin kembali bersuara ketika Anna juga ikut menuliskan nama di kelompok tiga. "Bacod benersih lu dari tadi, Syaifullah!" teriak Victor ikutan gemas. "Eh, gak usah bawa-bawa nama belakang gue. Nama bokap soalnya juga Syaifullah." "Iyain biar cepet." Guru mereka lagi-lagi menyuruh diam. Namun pasti ada-ada saja celetukan tidak penting yang dikeluarkan. Beberapa siswa juga sudah maju dan mengambil undian. Tapi sejak tadi tidak ada yang mengisi lagi kelompok tiga sebagai penyempurna Abi dan Anna. "Renata, Renzo, Rima." Ketiga mereka berdiri serempak, walau Renat yang paling terlihat tidak niat. Tangannya membuka gulungan kertas perlahan. Dan Renat langsung saja melihat nomor dan mengalihkan tatapannya pada papan tulis. Kelompok 3; Abi, Anna, Renat. Lengkap. Dan satu kelas sontak berteriak tidak terima ketika Renat menuliskan namanya disana. Pasalnya, ketiga mereka merupakan murid dengan prestasi melimpah. Tidak usah diragukan, nilai sempurna akan mereka pegang untuk tugas kali ini. "Yah, Pak! Itu isi kelompok tiga kenapa emas semua?" Obin bersuara, dan disetujui oleh beberapa anak. "Terus kelompok lain kamu sebut apa? Tembaga? Besi? Batu?" Obin mencibir di bangkunya, tidak lagi menunjukkan perlawanan. "Asik, Abi bareng Renat," ujar Victor sambil tertawa ringan, memberikan tatapan berbinar pada Abi yang berada di sebelahnya. "Ngomong lo!" ketus Abi. "Gue udah bilang, kan? Kalian itu jodoh, Bebi." Kepala Victor menjadi korban kekerasan Abi setelah celetukan itu keluar. Membuat seisi kelas mengarah kepada mereka. "Ada nyamuk lagi, Bi?" tanya Obin, dan ditanggapi Abi dengan gelengan. "Kecoa," jawab lelaki itu ringan. "Buset!" Tawa sekelas sontak pecah. Sedang Abi hanya menatap bukunya tidak peduli. • r e t u r n • Renat diam membiarkan Anna berbicara bersama Abi. Dua manusia itu sibuk membahas perihal materi dan berbagi tugas. Sedang Renat, jika ditanya hanya akan menggeleng atau mengangguk. "Kamu sariawan?" tanya Abi akhirnya, kesal sebab Renat tak kunjung ikut andil dalam kelompok. "Biasanya paling cerewet. Kalau kamu gak minat disini, kamu bisa keluar dari kelompok." Renat seketika berdiri, mendorong kursinya ke belakang hingga benda tersebut sukses berdecit kuat akibat bersentuhan dengan lantai. Semua pasang mata menatap Renat penuh tanda tanya. Tapi Renat seakan tidak peduli sekitar tetap menatap Abi datar, tanda bahwa dia tidak ambil pusing. Guru yang sedang pergi sebentar membuat Renat dapat sesuka hati meninggalkan kelas. Perihal jika nanti ditanya, biarlah itu jadi urusan belakangan. Karena Renat sudah terlampau malas. Dia malas dengan semua makhluk yang berada di kelas. Dan tentu saja, Abi berada di peringkat pertama. Perempuan itu berjalan menuju tangga. Terus ke atas hingga tiba di pintu yang menghubungkan bagian dalam dengan rooftop sekolah. Renat membukanya, beruntung tidak dikunci. Langkah kakinya mendekati sebuah meja bangku yang bisa digunakan untuk siapapun berbaring. Renat duduk disana, kepalanya mendongak menatap langit. Apa yang akan terjadi jika Renat menghabiskan dirinya disini? Maksudnya, jika Renat melompat dari sini. Akankah dia langsung menuju neraka? Atau malah menghabiskan sisa hidup di kursi roda karena sudah kehilangan kaki dan tangan? Renat tertawa sendirian. Bahkan bila dia mati, Mamanya tidak akan pernah peduli, bukan? Lo bahagia, Re? "Nggak sama sekali!" Renat menjawab pertanyaan dari kepalanya. Kenapa? Padahal lo bisa buktiin ke Nyokap kalau lo bisa tanpa Nyokap. "Dan menurut lo Nyokap bakalan peduli?" Bisa aja. Kenapa gak dicoba? "Diem deh, banyakan bacod lo." Renat memilih memukul kepalanya. Kesalnya menjadi-jadi. Bahkan disaat seperti ini, bagian dari dirinya ada yang tidak mendukung pilihannya. "Kenapa ya, kehidupan gue bisa hancur kayak gini?" gumam Renat teramat pelan pada sunyi. Membiarkan rambut pendeknya dimainkan oleh angin. Renat menghela napas pelan, kepalanya sibuk menebak-nebak jawaban yang tepat. Oh, omong-omong, ini kali pertama Renat bolos di jam pelajaran. Rasanya? Lumayan. • r e t u r n •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN