Kanaya hanya mampu menahan napasnya ketika melihat wajah Alastair tinggal beberapa centi saja dari wajahnya. Jas pria itu dijatuhkan begitu saja di lantai hotel yang dingin. “Do you hear me?” tanya Alastair dengan nada suara yang renda, menggelitik indera pendengaran Kanaya sendiri. Kanaya menarik napasnya dalam-dalam dan menganggukkan kepalanya. “Yes,” jawabnya nyaris berbisik. Alastair sendiri tahu dia harus bersikap sabar pada Kanaya. Dia tidak bisa memaksakan keinginannya dan membuat wanita ini ketakutan. Tangan besarnya terulur untuk menyentuh ringan dagu Kanaya. Menyuruh Kanaya untuk mendongak dan menatapnya. “Apa kamu ragu?” Karena kenyamanan Kanaya sekarang adalah yang menjadi prioritasnya. Kanaya menatapnya untuk sesaat tanpa menjawab apapun. Lalu, dia menggeleng pelan. “Tidak.

