Jangan Pulang Malam

2188 Kata
“Za, apa yang kamu pikirkan sekarang?” tanya Melissa di balik kamar. “Take care of you,” jawab Reza di depan kamar dekat dinding kayu. Sudah tiga bulan mereka di sini, setiap malam Melissa masih mengajukkan pertanyaan yang sama sebelum tidur dan Reza akan memberikan jawaban yang sama terkait itu. Entah Melissa bosan atau tidak mendengar jawaban yang sama dari mulut Reza, tapi  yang jelas Reza sudah bosan mendengar Melissa mengajukkan pertanyaan yang sama setiap malam.  Lalu obrolan-obrolan receh yang Melissa lemparkan dan hanya mendapat tanggapan berupa “Hmm”, tapi wanita itu seolah tak bosan, seolah belum lengkap rasanya jika dia tidak mengeluarkan dua ribu kata perhari. Reza tidak menyangka anak Pram Gunadi itu begitu cerewet. “Za, besok kamu sama Marinka ke rumah Pak Aria Lubis.” “Buat apa?”  Melissa menarik napas. “Aku menggunakan alamat Pak Aria untuk menerima obat-obatan dan peralatan dokter lainnya yang dikirim dari Jakarta.” “Oh.”  “Kamu nggak masalah, ‘kan, kalau pergi sama Marinka.” “Loh, emang kenapa?” tanya Reza sembari mempertahankan posisinya yang tidur terlentang dengan kedua tangan menyangga kepala.  “Takutnya risih aja.” “Aku yang harusnya nanya, kamu nggak masalah aku pergi sama dia?” seloroh Reza.  Melissa tertawa. Namun, tawanya begitu kikuk sehingga Reza merasa kalau Melissa mencoba bersikap biasa, padahal Reza sangat peka, sebenarnya Melissa tidak begitu suka pada Marinka.  “Kamu berangkat dari sini, pagi-pagi banget, Za, sehabis salat shubuh, biar nanti pas pulang nggak kemalaman.” Reza mencebikkan bibir, dia tahu kalau Melissa takut di tinggal sendiri jika dia kembali dalam kondisi langit yang sudah gelap. “Kamu tinggal aja dulu di rumah ibunya Marinka. Tunggu aku sampai pulang, kalau nggak pulang, kamu nginep dulu di sana,” usul Reza lembut. “Astaga, Za, kamu kayaknya niat banget nggak pulang. Kamu sengaja mau nginep di sana, biar bisa lama-lama sama Marinka, iya?” cerocos Melissa. “Sssshhh ….” Reza segera bangkit. Kemudian berdiri di depan kamar dengan gorden yang terbuka. “Melissa, hei, Melissa!” Wanita itu segera mendongak dan menatap Reza yang tengah berdiri tepat di atas kepalanya dengan kedua tangan dilipat di depan. “Kalau, Mel, kalau!” tegas Reza. “Kamu nggak dengar aku bilang ‘kalau’.” Reza memberi jeda. “Kamu jangan khawatir aku pasti pulang.” Melissa segera duduk dan menegakkan tubuhnya lalu menoleh menatap betapa mengesalkannya wajah Reza. Dia lupa kalau mereka hanya berpura-pura sebagai sepasang suami-istri, kenapa dia begitu menganggap serius akan hal ini? “Udah-udah. Aku mau tidur,  nggak usah dibahas, aku tau kok apa yang harus aku lakukan kalau kamu nggak ada,” ucap Melissa sembari merebahkan tubuhnya kembali dan membelakangi Reza yang masih mematung di depan tiang pintu.  Reza menggelengkan kepala, dia kemudian kembali tidur di atas tikar depan kamar Melissa. Reza tak habis pikir PMS membuat Melissa berkali lipat lebih menyebalkan dibanding hari sebelumnya.  *** Setelah shalat subuh dan sarapan kue bingke, Reza kini bersiap untuk pergi ke rumah Pak Aria Lubis bersama dengan Marinka. Sedari tadi Melissa memasang wajah masam. Reza tak habis pikir, kalau Melissa tak ingin dia pergi kenapa dia malah memintanya untuk pergi.  Wanita itu mengalihkan pandangannya dari Marinka, kemudian menatap Reza. “Jangan lupa, telepon Papi, bilang kalau aku kangen sama dia.” “Iya, nanti dibilangin,” ucap Reza sembari memakai tas ranselnya.  Melissa menarik napas dalam-dalam. “Ingat, jangan pulang malam.” “Iya, nanti aku pulang tengah malam.”  “Reza!” Melissa mengentak kaki. “Kamu harus pulang sebelum matahari terbenam. Titik!” “Diktator,” dengkus Reza. Melissa kembali menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Dia kemudian merogoh ponsel dan memberikannya pada Reza. “Kayak waktu itu, ya, direkam. Kamu jangan jelek-jelekin aku di depan Papi.” “Tanpa aku bilang apa-apa, papi kamu pasti udah tahu.” Marinka tertunduk sembari menggelengkan kepala. Beginikah pertengkaran suami istri dari kota? Baik Reza maupun Melissa sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah.  Melissa mencoba menenangkan diri dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini, cemburukah dia pada Marinka?  Reza tersenyum melihat Melissa, dia kemudian mengusap puncak kepala wanita itu. “Aku pasti kembali sebelum matahari terbenam, tapi kalau telat, kamu tunggu di rumah ibunya Marinka, ini bukan perintah, tapi ini permintaan.” Reza menutup kalimatnya dengan kecupan di puncak kepala.  Melissa yang sedang tertunduk itu tiba-tiba terperangah dengan kedua mata yang membola. Seorang pengawal berani mencium ratunya?  Marinka sudah naik ke atas perahu. Sementara Reza masih mencoba meyakinkan Melissa, sepertinya wanita itu takut kalau Reza tidak kembali dan meninggalkannya di sini sendirian.  Perlahan kaki Reza mundur bersamaan dengan Melissa yang mencoba mengangkat wajahnya untuk menatap Reza. “Aku pamit, assalamualaikum,” ucap Reza.  “Waalaikumsalam, hati-hati.” Reza mengangguk, dia kemudian naik ke atas perahu dan duduk berhadapan dengan Melissa. Sungai surut ini menjadi satu-satunya tempat mereka menyebrang untuk bisa sampai ke daratan. Jantung Melissa mencelus, dia bahkan tak membalas senyuman Marinka. Melissa berlalu dari dermaga bersamaan dengan perahu yang Reza tumpangi berlalu membawa pria itu pergi. Sepanjang jalan dia memegangi puncak kepala yang dikecup Reza. Beruntung Pram mengutus yang tampan, coba kalau jelek, Melissa pasti tak akan sudi, jangankan  dikecup, dipegang saja pasti dia ogah-ogahan.  “Bu Melissa kenapa?” tanya Marinka membuka percakapan. “Dia sepertinya tidak suka pak Reza pergi dengan saya?” Reza tersenyum menanggapi perkataan Marinka. Namun, dia tidak memberi tanggapan dengan berkomentar, biarlah Marinka berpikir sendiri apa yang ditampakan Melissa barusan. Wanita itu memang seperti telah menganggap kalau Reza adalah suami betulan.  Marinka mengalihkan pandangannya dari Reza, sialnya tak ada yang dapat menandingi keindahan yang Reza miliki. Pria itu adalah perpaduan keindahan alam dan ketampanan yang sempurna, tak pernah Marinka melihat wajah setampan itu dengan jarak sedekat ini.  Reza menyadari kalau sedari tadi istri kedua camat itu tengah memperhatikannya. Reza mencoba mengabaikannya dengan berbalik dan mengobrol dengan pria yang tengah berdiri di belakangnya sembari mengendalikan laju perahu.  Marinka sadar kalau Reza seperti menghindarinya, apa pria itu merasa kalau sedari  tadi dia iri dengan Melissa yang bisa mendapatkan pria sebaik dan setampan Reza.  Perahu berhenti tepat di depan jalan besar yang masih curam, yang jika setelah Reza melewatinya, seluruh badannya akan terasa ngilu seperti waktu pertama dia datang ke tempat ini. Belum lagi selama tiga bulan ini dia tidak merasakan empuknya tidur di kasur. Mobil tumpangan membawa mereka ke kota. Di perjalanan Marinka masih berusaha untuk memecah kebekuan yang entah dari mana datangnya. “Pak Reza kayaknya sayang banget ya sama Bu Melissa,” ucap Marinka tiba-tiba. Reza menatap Marinka. Andai wanita itu tahu kalau sebenarnya Reza ada di sini berawal dari sebuah pelarian, melarikan dari perasaan yang penuh desakan dan kebimbangan, tak disangka dia menemukan hidup barunya di sini, Melissa adalah hiburan terbaru dalam hidupnya, bagaimana wanita itu bersikap manja dan seenaknya, tapi tak pernah tersinggung setiap Reza berkata blak-blakkan terhadapnya.  “Pak Reza?” Marinka sepertinya masih menunggu jawaban Reza. Namun, pria itu tampak tidak ingin membagi perasaannya. Maka dia hanya bisa menghela napas. Reza benar-benar menutup diri terhadap orang asing seperti Marinka, namun, hal itu malah membuat Marinka semakin penasaran dengan sosok Reza. “Kamu banyak  membantu Melissa di sini, pasti banyak menguras emosi, waktu dan mengorbankan semuanya termasuk Pak Aria, pasti beliau sangat merindukan istri cantiknya,” tutur Reza. Sebenarnya dia tidak bermaksud memuji, hanya mencoba mengalihkan keingintahuan Marinka terhadap hubungannya dengan Melissa.  Namun, sepertinya Reza salah mengungkapkan kalimat itu di akhir ucapannya. Pipi Marinka berubah merah, wanita itu tersipu malu sembari tertunduk. Reza sampai mengernyit ada apa dengan Marinka ini, kenapa harus beraksi berlebihan seperti anak SMA yang dipuji gebetan? “Maaf jika Melissa pernah melukai kamu.” Seketika wajah Marinka terangkat dan menatap Reza. “Kenapa Pak Reza yang minta maaf?”  Reza mencoba mengusir rasa janggal di hatinya. “Meski menyebalkan, tapi, dia ‘kan istri saya.”  Jantung Marinka mencelus. Dia kemudian mengangguk. “Bu Melissa baik kok, Pak, dia ngajarin saya sedikit-sediki tentang ilmu kedokteran, meski kadang apa yang dijelaskannya membuat saya bingung dan saya dipaksa harus mengerti apa maksudnya.” Reza mengangguk. “Kamu yang sabar, Melissa orangnya memang tegas dan--” Marinka memiringkan wajahnya menunggu Reza menyelesaikan kalimatnya. Reza tak mungkin bilang kalau Melissa sedikit diktator dan otoriter. Nanti malah Marinka berpikir yang macam-macam. “Dan baik, dia cantik, dia pandai mengurus diri, meski memang sedikit judes dan egois, tapi, ya--” Reza mengedikkan bahunya. Entah kenapa perkataannya menjadi ngawur seperti ini.  Lagi-lagi jantung Marinka mencelus, Reza terlalu memuji Melissa, meski itu istrinya, tapi tak seharusnya dia memuji Melissa secara berlebihan di depannya. Marinka sampai lemas mendengarnya.  Reza menggaruk tengkuk lehernya, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke jendela. Melissa memang tak selamanya bersikap seperti itu, terkadang dia bisa demokratis,  mungkin karena dia egois jadi seperti terlihat otoriter dan ketegasannya tidak serta merta menjadi seorang diktator. Entahlah kenapa hati Reza meralat semua anggapan buruk tentang Melissa yang baru saja dia ucapkan, dia seperti sedang memaklumi sikap Melissa selama ini. “Saya terpaksa menikah dengan Pak Aria.” Tiba-tiba suara Marinka terdengar parau. Reza segera menoleh dan menatapnya. “Ketika pak Aria berkunjung ke desa kami, dia langsung menyatakan ketertarikannya pada saya dan berniat menjadikan saya istrinya.” Reza masih memperhatikan wanita berparas cantik dan bermata lembut itu. Marinka tampak menarik napas dalam-dalam. “Orang tua saya tidak setuju, tapi Pak Aria banyak menjanjikan sesuatu pada saya, dia juga berjanji akan membiayai kuliah saya.” “Sekarang kamu sudah mulai kuliah?” Marinka menggelengkan kepala. “Saya belum tahu mau mengambil jurusan apa.” “Dokter,” sahut Reza tanpa menoleh. “Kamu cocok jadi Dokter. Kamu akan menjadi orang pertama yang membuat perubahan untuk desamu sendiri.” Marinka tercenung menatap Reza. Pria itu kemudian menoleh. “Jangan pernah membuang peluang, karena bisa jadi itu tak datang dua kali,” tutur Reza. Marinka mengangguk, dia setuju, jika memang benar apa yang dikatakan Reza adalah tentang dirinya, maka dia akan melakukan itu. Tak terasa mobil sudah berhenti di kota dan perlu satu jam lagi untuk sampai ke rumah Pak Aria Lubis. Kini Marinka dan Reza sudah turun dan menunggu angkutan untuk bisa sampai ke tempat tujuan.  Kadang Reza tidak mengerti, kenapa Pak Aria Lubis tidak mengutus Pak Imran saja untuk mengantar ini sampai ke tempatnya, kenapa harus dia sendiri yang mengambilnya? Marinka berjalan lebih dulu, sementara Reza ada di belakangnya. “Pria itu sudah mendapat sinyal untuk bisa menghubungi Pram Gunadi, hanya saja dia tidak mungkin untuk meneleponnya sekarang. Maka dia pun mengirim pesan.  [Pak, saya sedang di kota, satu jam lagi saya telepon pak Pram.] Namun, sampai saat ini Reza belum mengabari ibunya, bahkan mengirim kabar pada Shafiyya sesuai dengan perintah ibunya pun tidak Reza lakukan. Sungguh dia sedang tidak memiliki ketertarikan apapun untuk mengenal Shafiyya.  Kini Reza dan Marinka sudah berada dalam angkutan menuju rumah Pak Aria Lubis. Reza membuka ponsel miliknya. Di sana deretan pesan datang dari Rinda yang memberi kabar sekitar tiga hari yang lalu, kalau hari ini Tania melangsungkan pernikahan. Reza mencoba tegar dan mengirim pesan balasan. [Sampaikan salamku untuknya, semoga bahagia. Maaf terlambat, aku baru mendapat sinyal.] Reza terus sibuk dengan ponselnya, dia bahkan tidak menikmati perjalanan hari ini, dia juga sesekali mengambil gambar dengan kamera ponselnya. Sementara Marinka hanya memperhatikan pria itu dalam diam.  Tiba-tiba saja ponsel Reza berdering, panggilan masuk dari ibunya, ini pasti karena barusan dia membalas pesan Rinda. “Assalamualaikum, Ma,” ucapnya usai menekan tanda terima di ponselnya.  [Waalaikumsalam, kamu gimana, Nak? Sehat?] “Alhamdulillah, sehat, Ma. Mama sama Papa gimana?”  [Kami di sini baik-baik aja, kamu jaga diri baik-baik, jaga kesehatan juga ya, jangan begadang.] Reza menarik napas, dia kemudian mengangguk, seolah ibunya ada di sana. “Iya, Ma.” [Kamu udah kasih kabar sama Shafiyya?]  Tiba-tiba saja dia merasa tidak enak dengan obrolan ini, selalu saja merusak moodnya.  “Aku lagi di jalan, Ma.” [Jangan lupa kabarin dia, biar kalian bisa dekat dan bisa cukup saling mengenal, cobalah kamu mengakrabkan diri.]  Tanpa diminta Reza akan mengakrabkan diri kalau dia mau.  “Ma, udah dulu ya, nanti kalau ada sinyal lagi aku kabarin Mama, assalamualaikum.” Reza memutus panggilan tanpa menunggu jawaban salam dari ibunya. Pria itu kemudian tercenung menatap Marinka yang sedari tadi ternyata memperhatikannya.  “Ibunya ya, Pak?” tanya Marinka. Gadis itu memang terlalu banyak ingin tahu, itu memang bagus jika soal ilmu, hanya saja jika terlalu banyak ingin tahu pada urusan orang, Reza sungguh tidak suka, sama Melissa saja dia terkadang menutup masa lalu dan tak banyak mengumbar kehidupannya, apalagi pada Marinka, orang yang tidak begitu dia kenal.  Reza hanya memberikan anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan Marinka. “Kenapa Pak Reza seperti tidak mau ngobrol banyak sama ibunya.” Kali ini Reza benar-benar ingin membungkam mulut Marinka. “Bukan urusan kamu!” ucapnya pelan, namun tegas.  Marinka nampak salah tingkah. “I-iya, maaf, Pak.” “Nggak semua hal perlu kamu tahu tentang saya ataupun Melissa, kami punya kehidupan pribadi yang tidak perlu diumbar dan tidak perlu diketahui oleh semua orang.” Marinka menarik napas dan mengangguk. “Maaf,” ucapnya seraya tertunduk.  Reza membasahi tenggorokannya. Mungkin dia keterlaluan pada Marinka, tapi dia memang harus melakukan ini agar Marinka tidak lagi mengurusi urusan pribadinya dengan Melissa.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN