Menikahlah Karena Cinta

1135 Kata
Melissa tengah menikmati gemericik air yang membasahi puncak kepalanya hingga ke bawah. Dia tidak frustasi karena putus dari Ibram, justru dia sedang putus asa karena takut kalau dalam waktu enam bulan, dia tidak bisa menjadi orang tua untuk Biru.  Setelah selesai membuang semua busa sabun dan sampo, Melissa menyambar kimono handuk dan mengenakannya, setelah itu dia ke luar dari kamar mandi, kemudian dia mengeringkan rambut, setelah itu dia memilih piyama mana yang akan dia kenakan malam ini.  Entah kenapa dia terus teringat Reza, sedang apa pria itu dengan Biru? Sebenarnya Melissa tak ingin melewatkannya, tapi perkataan Reza tadi telah membuatnya merasa tidak dianggap.  Tiba-tiba ketukan di pintu, membuat Melissa berhenti mengeringkan rambut, dia kemudian berjalan ke arah pintu. “Ya, Bi?” tanyanya usai membuka pintu.  “Bapak minta bibi buat panggil Neng, makan malam sudah siap, Neng.” “Ya, nanti aku turun, aku di baju dulu.” “Baik, Neng.”  “Eh, Bi? Reza masih ada?” bisik Melissa. “Ada, lagi tidur di kamar Den Biru.” Melissa mencebik. “Malah tidur. Ya udah nanti aku turun.”  Melissa menutup pintu, dia bahkan tidak menunggu Bi Narsih untuk pamit dari depan kamarnya. Melissa mulai mengenakan baju yang sudah dia pilih.  Melissa mengambil ponsel dan mengecek cctv di kamar Biru, benar saja, Reza sedang tidur meringkuk di sebelah bayi itu. Senyum di bibir Melissa terbit. Dia menarik napas dan segera meletakkan ponselnya, kemudian mulai bersiap untuk makan malam dengan ayahnya, sudah pasti Reza akan ikut makam malam, ayahnya tidak akan membiarkan tamu tak tahu diri itu kelaparan.  Usai berpakaian dan mempercantik diri, Melissa turun dan segera menuju ruang makan. “Panggil Reza, ajak makan sekalian,” interupsi Pram.  Melissa berdecak sembari memutar badan dan segera ke kamar Biru. Melissa tak mengetuk, dia langsung masuk dan duduk di dekat ranjang, namun, tersenyum saat melihat bantal baru milik Biru, dia mengambilnya dan terus tersenyum melihat dia menjadi yang paling cantik dalam foto itu, jelaslah meski lucu, Biru tetap laki-laki, meski menyebalkan Reza juga laki-laki. Tak ada laki-laki yang cantik. Melissa kembali meletakkan bantal tersebut dekat kepala Biru. Dia kemudian menatap Reza. “Za, papi ngajak kamu makan.” Reza mengerjapkan mata, semudah itu bangunkan Reza, jangan-jangan pria itu pura-pura tidur dan sedari tadi memperhatikan Melissa yang tersenyum sembari memegang bantal yang dibawanya.  “Kenapa, Mel?” Tiba-tiba pertanyaan tidak berguna ke luar dari mulut Reza.  “Papi ngajak kamu makan,” ulang Melissa. “Dengar nggak?”  “Iya, ih kamu mah.” Reza segera menegakkan tubuhnya. “Aku nggak lapar, Mel, kamu aja yang makan.” “Papi loh yang ngajak, kamu nggak boleh nolak.” Reza tergemap. Melissa memang tetap Melissa, apa karena ayahnya polisi sehingga dia selalu bersikap seperti itu. Reza tak ingin ribut, dia menghela napas, kemudian turun dari ranjang. “Ya udah, oke.” Reza ke luar dari kamar lebih dulu, diikuti Melissa dari belakang. Piyama navy dengan motif bunga lily pink terlihat mewah membalut tubuh Melissa. “Apa?” Kedua mata Melissa membola saat dia menyadari kalau Reza tengah memperhatikannya.  “Mama kamu pasti cantik, Mel,” puji Reza.  Melissa tak melambung, sungguh Reza tidak sedang memuji dirinya. Wanita itu tetap bermuka judes. “Makan, nggak usah banyak ngomong,” ucap Melissa sembari duduk di sebelah ayahnya dan berada tepat di depan Reza.  Reza tersenyum kecut. Ingin sekali dia memeluk  Melissa dan mengajaknya terombang-ambing dalam kehidupannya, biar wanita itu tahu betapa menyebalkan hidup yang tengah dijalaninya saat ini.  Melissa dan Reza sama-sama tertunduk menikmati makan malamnya, Pram pun tak mengajak mereka berdua bicara, sepertinya ada sesuatu yang membuat mereka seperti ini. Namun, kesunyian membuat Pram kenyang sebelum waktunya, maka dia pun mengambil suara pertama untuk mengajak bicara kedua makhluk itu.  “Kalian, ‘kan sahabat, kenapa nggak saling curhat kalau ada masalah?” usul Pram. Melissa mengangkat wajahnya dan menatap Reza. Begitupun dengan Reza.  “Kalian, ‘kan orang tua Biru, kenapa harus bersikap seperti kalian tengah bermusuhan?” imbuh Pram.  “Dari tadi saya sudah mencoba mencairkan suasana, tapi, Melissa yang memang sepertinya sedang membawa bara api kemana-mana,” ucap Reza. “Please, Za, jangan ngajak ribut, emang aku lagi kesal banget. Jangan sampai nanti kamu aku makan,” gerutu Melissa sembari menggigit tempe goreng dengan kasar. Reza membasahi tenggorokannya. Dia kembali tertunduk. Sebenarnya dia tidak suka ini, hanya Melissa satu-satunya orang yang berani bersikap seperti itu di depannya, meski beberapa kali Melissa sempat mengalah dengan hidupnya dan bukankah dirinya yang menguatkan wanita itu, kenapa Melissa seperti lupa dengan apa yang terjadi waktu di Kalbar? Pram menghela napas. “Za, kamu nginep di sini aja deh, biar Biru tidur sama kamu.” “Enak aja, nggak! Nggak boleh, aku mamanya.” “Ya, papi takut aja, kamu makan Biru. Kasihan loh dia masih suci, nanti ketularan kayak kamu.” Melissa tercenung, sementara Reza tersenyum. “Boleh, Pak. Biar saya jagain Biru dari penyihir ini.” “Reza!” Melissa menggebrak meja. Suasana hati Melissa tengah buruk, ditambah kehadiran Reza semakin tambah buruk. Apalagi pria itu menyebutnya penyihir. “Papi belain aku kek, masa Reza sebut aku penyihir, papi diem aja?” “Ya, mau diapakan, kamu memang mirip penyihir,” sahut Pram.  Melissa bangkit, dia memutari meja makan dan menarik tangan Reza yang sedang duduk itu. “Ikut aku, aku mau ngomong penting.” “Bentar, Mel.” Reza menahan tangannya yang ditarik Melissa. Pria itu malah sengaja minum dulu, membuat Melissa semakin kesal. Setelah menenggak minumnya, Reza bangkit dan mengikuti Melissa yang mengajaknya ke halaman depan rumah.  “Aku putus sama Ibram,” bisik Melissa.  “Oh.” Reza memijat dagunya sendiri. “Jadi, itu yang bikin kamu memarahi semua orang? Bahkan kamu ingin makan orang?” “Aku nggak peduli dengan hubunganku sama Ibram, yang aku takutin aku nggak bisa jadi orang tua buat Biru,” lirih Melissa.  Reza tercenung. Melissa sepertinya memang benar-benar ingin mengadopsi Biru. Dia merangkul bahu Melissa dan mendekatkan ke dadanya. “Laki-laki, ‘kan nggak cuma dia, Mel.” “Nggak usah diingetin, aku juga tahu,” gumam Melissa. “Mending kamu nikah karena cinta, bukan karena itu, menikahlah sekali seumur hidup, Mel.” Reza menggenggam kedua bahu Melissa dan menatap keresahan yang tengah berpendar di kedua mata wanita itu. “Kalau Biru takdir kamu, apapun yang dikatakan Pak Rahmat sama papi kamu, nggak akan merubah apapun yang sudah ditakdirkan untuk kamu.” Melissa tercenung, sungguh untuk kali ini perkataan Reza telah mengikis rasa bimbangnya. Melissa memasukkan tangannya ke pinggang Reza dan memeluk pria itu dengan erat, bahkan dia merasa tenang dan damai berada dalam pelukan pria itu.  Pram tercenung menatap mereka. Bibirnya tersungging tipis. Dia kemudian kembali ke meja makan. Dia sempat mendengar apa yang dikatakan Reza, memang tindakan menguping bukanlah akhlak terpuji, tapi Pram benar-benar penasaran, dan ada satu yang membuatnya yakin kalau Reza pantas untuk Melissa. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN