Reza turun dari mobil, dia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Ibunya, seperti yang pernah Ranti katakan sebelumnya, Reza memang tak pernah mencarinya, tapi saat ini, Reza hanya tengah berusaha menghindari ibunya itu, dia malas sekali Ranti pasti banyak bertanya soal pertemuan pertamanya dengan Shafiyya.
Dia berjalan cepat menuju kamarnya, sialnya suara mobil Ranti baru saja berhenti. Reza menghela napas dan langsung masuk ke kamar. Dia meletakkan kunci mobil di atas meja. Kemudian saat hendak membuka baju, ia mendengar suara ibunya.
“Za, gimana tadi?” tanya Ranti yang kini sudah berada di depan kamar Reza yang masih terbuka.
“Gimana apanya?” tanya Reza sembari membuka kaosnya.
“Tadi sama Shafiyya?” Wajah Ranti tampak sumringah. Entahlah Ranti begitu antusias dengan perjodohan ini, pasalnya dia merasa kalau pilihannya kali ini tidak akan mengecewakannya.
Reza menoleh menatap ibunya, namun, dia tidak berkata apa-apa, justru beberapa detik setelah menatap ibunya itu, dia malah berjalan ke dekat lemari dan mengambil kaos yang baru. “Biasa aja, nggak ada yang istimewa,” jawabnya kali ini.
Ranti mendengkus, jawabannya sama persis seperti jawaban Shafiyya, meski terkesan biasa, tapi dia berharap ini merupakan awal yang baik. “Nanti Mama atur lagi pertemuan kalian, ya,” usulnya.
“Nggak usah,” sahut Reza sembari merapikan kaos V neck biru laut yang baru saja dia kenakan.
“Ayo dong, Za,” bujuk Ranti.
Reza menghela napas. “Terserah,” ucapnya seraya pergi melewati Ranti yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Dia kemudian menyambar jaket dan kembali pergi, padahal niatnya ingin tidur, tapi ibunya terlalu merecoki hidupnya yang sudah hampir kepala tiga itu.
Mobil Reza melesat memecah keheningan malam. Sepanjang jalan sang pemilik sibuk merenung, apakah sewaktu kakaknya masih ada, ibu dan ayahnya juga bersikap seperti itu? Sayangnya Reza tidak besar bersama mereka, jadi dia tidak cukup tahu akan hal itu.
Sebuah pesan singkat masuk melalui aplikasi w******p. Reza segera menepi dan membuka pesan tersebut, walau bagaimanapun mengendara mobil tidak boleh sambil memainkan ponsel, meski hanya membuka pesan singkat, itu bisa saja membahayakannya, atau membahayakan orang lain, baik pejalan kaki yang hendak menyebrang atau pengguna jalan lainnya.
Pesan tersebut datang dari Melissa yang dia beri nama Putri Jenderal. Dia lebih suka menyebutnya begitu daripada memanggilnya dengan nama. [Kamu ada waktu, nggak? Kalau ada, kamu temui saya di kafe, saya sherlock sekarang.]
[Siap.] Hanya itu pesan balasan yang dikirimkan pada Melissa yang langsung berubah menjadi centang biru.
Seketika mobil kembali melesat ke tempat yang sudah Melissa kirimkan dan tak perlu waktu sampai setengah jam, dia sudah sampai di kafe tersebut. Reza segera turun dan berjalan ke dalam kafe bernuansa klasik, musik jazz terdengar merdu di telinganya. Dia mengedarkan pandangan dan seorang wanita tampak melambaikan tangan padanya, dia pun segera menghampiri. “Selamat malam,” sapa Reza ramah, namun, terkesan kaku.
“Malam. Duduk,” pinta Melissa. Ibram segera menyikut pacarnya itu. “Ini orangnya?” bisik Ibram parau. Melissa segera mengangguk. Ibram pun tak kuasa membiarkan tenggorokannya kering.
Menurut Ibram, Reza lebih cocok jadi pemain Hollywood dibanding Polisi, apalagi pengawal Melissa. Wajah blasteran Swedia-Indonesia memang menjadi ciri khas Reza, apalagi mata coklat terang yang dia miliki. Jika Rega masih ada, cara membedakan keduanya sangat mudah, Reza bermata coklat terang sedangkan Rega bermata coklat gelap.
“Kenalin, ini Ibram pacar saya,” ucap Melissa.
Reza masih berdiri dan dia segera menganjurkan tangan dan berjabatan dengan Ibram. “Reza.”
Ibram menyambut tangan Reza, dia juga mengangguk, meski tanpa bersuara, namun, hatinya tengah bergejolak, ketakutannya hanya satu, takut kalau Melissa memilih untuk jatuh cinta pada pria di depannya ini. Dia memang sadar kalau selama dua bulan ini Melissa hanya merasa kasihan padanya, jelas, cinta dan kasihan itu sangat berbeda.
Perlahan Reza duduk. “Ada apa ya, Mbak?” tanyanya pada Melissa.
Ibram menutup mulutnya menahan tawa. “Baru kali ini ada dokter di panggil Mbak.”
Melissa mendelik tidak suka, tapi tidak apa untuk malam ini, mungkin nanti di sana dia akan mengatur Reza agar memanggilnya dengan sebutan yang lebih baik lagi.
“Saya meminta kamu karena Ibram ingin tahu, kenapa kamu menemani saya di sana.”
“Bukan menemani,”sahut Reza. “Saya di sana untuk menjaga Mbak Melissa sesuai tugas dari Pak Pram Gunadi.”
Melissa tertunduk menahan malu karena Ibram tampak tertawa mengejeknya, lantaran Reza masih saja memanggilnya dengan sebutan Mbak. Apa perlu dia katakan kalau dia ini bukan Mbak-Mbak SPG rokokk, jadi tak seharusnya pria di depannya itu memanggilnya dengan sebutan Mbak.
Ibram kemudian berdehem. “Jangan buat dia jatuh cinta sama kamu karena dia cuma milik saya.” Ibram tampak menginterupsi.
Melissa mengangkat wajahnya, kemudian dia tertawa mengejek Ibram. Entahlah itu tak sungguh-sungguh dirinya, karena Ibram juga seperti tengah bercanda mengatakan hal tersebut.
Reza sampai mengernyitkan dahi, dia melihat kalau cinta diantara keduanya adalah palsu, entahlah apakah itu hanya perasaannya saja atau karena dia merasa iri lantaran tidak memiliki pacar?
“Mungkin saya yang akan jatuh cinta padanya,” ucap Reza. Sebenarnya dia tak sungguh-sungguh, dia hanya sedang bercanda, tapi sungguh, dia terlalu kaku untuk dikatakan bercanda, sehingga Ibram menangkap apa yang dikatakan Reza adalah sebuah keseriusan yang keluar dari hati pria itu.
“Awas kalau kamu sampai merebut Melissa dari saya,” ancam Ibram.
Kedua mata Melissa membola menatap Ibram. Namun, Reza tampak menggelengkan kapala. “Saya cuma bercanda.”
“Begini ya, bercandanya Polisi?” Ibram menautkan kedua alisnya. “Kaku banget,” komentarnya.
Reza menggaruk kepala. Ah sungguh dia tak dapat berbaur lebih lama di sini, sangat tidak nyaman berada diantara kepalsuan sepasang kekasih itu. Di kemudian bangkit. “Saya permisi.”
“Lah, mau ke mana saya belum selesai, hei?” Ibram bangkit dari duduknya.
Reza menoleh. “Kebetulan tadi lagi di jalan dan saya memang sedang ada janji sama seseorang, jadi saya tidak bisa lama,” bohong Reza.
“Oh ya udah kalau begitu, makasih,” ucap Melissa. “Betewe maaf soal Ibram.”
Reza membasahi tenggorokannya, dia kemudian mengangguk, lalu melenggang pergi dari tempat itu.
“Kamu ih, bercandanya keterlaluan dia jadi marah kan tuh, kesinggung,” ucap Melissa.
“Lagian masa ada cowok sensi banget.”
Melissa menggelengkan kepala. “Mungkin dia memang keganggu karena aku memintanya untuk datang ke sini.”
“Ya, kalau nggak bisa, bilang aja nggak bisa, kenapa harus maksain,” dengkus Ibram.
Melissa tampak kesal dengan sikap kekanak-kanakan Ibram. “Kita terlalu lama di sini, aku harus cepat pulang.” Dia kemudian bangkit dari duduknya. Ibram tergemap menatap Melissa yang tampak kesal. “Kamu mau tetap di sini, kalau gitu kamu pulang sendiri,” ucap Melissa seraya mendorong kursi.
Ibram segera bangkit. “Ya udah ayo pulang.”
***
Ranti sudah mengatur pertemuan kedua untuk anaknya, Reza menurut saja, lagi pula menentang perintah ibunya bukan pilihan, bukankah besok dia akan berangkat ke Kalimantan, anggap saja kalau ini adalah acara perpisahannya dengan Shafiyya dan saat pulang tahun depan, ibunya tak lagi berniat menjodohkannya dengan gadis bermata bulat itu dengan pipi cabi dan hidung kecil, ah bukan karena Shafiyya mirip boneka, tapi karena Reza merasa tak menemukan apa yang dia butuhkan pada diri Shafiyya.
Berkali-kali Shafiyya membasahi tenggorokannya yang terus saja kering padahal sudah setengah gelas oren jus dia minum, entah kenapa setiap berada bersama Reza, dia selalu merasa terintimidasi, padahal Reza hanya duduk di depannya tanpa banyak bicara.
“Jadi besok Kakak mulai tugas di sana?” tanya Shafiyya.
Reza mengangguk. Sudah dua kali Shafiyya mengajukkan pertanyaan itu. “Kamu sudah mulai kerja?”
Shafiyya mengangguk pelan, terkesan seperti wanita pemalu. “Aku juga terima tawaran kerja di Bandung untuk dua tahun ke depan.”
“Bagus,” puji Reza, “Sesekali memang harus jauh dari orang tua, biar tahu rasanya hidup tanpa mereka.”
“Jadi, itu tujuan Kak Reza pergi ke sana, biar tahu rasanya jauh dari orang tua?”
Seketika Reza menggelengkan kepala. “Saya lebih tua dari kamu, bukan sekali dua kali saya jauh dari orang tua. Lagi pula baru dua tahun lebih saya tinggal lagi di sini. Saya besar di Swedia, jauh dari orang tua sudah biasa buat saya.”
Shafiyya tampak mengangguk. Kalau begitu, bisa disimpulkan Reza bukan anak mami. “Maaf sebelumnya, Kak, apa--” Shafiyya mencoba menarik napas, “apa Kakak tahu kalau kita, aku dan Kakak, mmm ….”
Reza mengangguk usai meletakkan gelas kopinya. “Kamu jangan anggap serius, jangan jadikan beban, karena saya juga tidak ingin melangkah terlalu cepat.”
Shafiyya tampak kembali melepaskan kegugupannya. “Emang kapan target kakak nikah?” Akhirnya pertanyaan itu meluncur tanpa permisi, entah kenapa Shafiyya berani bertanya seperti itu.
“Nggak ada target, tunggu saja Tuhan yang bertindak, jodoh sudah menjadi garis tangan saya.”
Shafiyya kembali mengangguk. “Aku juga tidak ingin nikah muda, kakak tahu, ‘kan aku baru lulus dan masih ada banyak hal yang ingin aku lakukan.”
Reza mengangguk. “Mama meminta saya untuk mengirim surat padamu saat di sana, saya katakan iya, tapi maaf saya nggak janji.”
“Aku ngerti,” sahut Shafiyya.
“Saya harap kamu tidak menunggu atau mengharapkannya.”
“Ya,” jawaban singkat Shafiyya menjadi akhir obrolan tersebut karena Reza mengajaknya untuk segera pulang. Pria itu memang tampak malas dan tampak tak nyaman berada di dekat Shafiyya cukup lama, entah kenapa dia seperti tidak ingin mengenal gadis itu lebih jauh lagi. Reza juga seperti menutup diri.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, keadaan lagi-lagi hening, sungguh Shafiyya merasa Reza memang tak menginginkannya menjadi istri, setelah sebelumnya Reza berkata demikian dan dia mengiyakan, seolah setuju padahal hatinya merasa tercubit karena itu artinya dia gagal membuat ibunya bangga dengan memiliki suami berpangkat.
Mobil berhenti di depan rumah Shafiyya. “Mama minta aku buat ngajak kakak mampir.”
Reza menarik napas sembari menatap jam di atas dashboard, sedetik kemudian dia menggelengkan kepala. “Maaf saya nggak bisa, harus urus buat keberangkatan besok.”
“Iya, nggak apa-apa, nanti aku sampein,” ucap Shafiyya seraya membuka sabuk pengaman, dia kemudian mengayun kaki dan turun. “Makasih udah nganterin pulang,” ucapnya seraya menutup pintu mobil seolah tak ada kata lagi yang harus gadis itu ucapkan, pasalnya dia bingung harus berkata apa.
Reza mengangguk. Pria itu kemudian memutar roda kemudi dan melesat pulang, semoga tak ada introgasi apapun saat dia pulang perihal pertemuannya malam ini.
Dua makhluk itu memang tak ubahnya seperti robot ibu mereka masing-masing yang terlalu ingin berbesanan, sehingga memaksakan kehendak pada anak-anak mereka.
***