Pram Gunadi menyingkap gorden dan terkejut saat mendapati anak kesayangannya berada satu ranjang dengan orang yang seharusnya menjadi pelindung bagi Melissa.
“Mel?”
“Papi.” Melissa terperanjat dan segera turun dari ranjang, dia kemudian memeluk pria itu. “Mel kangen.”
Pram Gunadi membalas pelukan Melissa. Sementara Reza perlahan duduk, dia tersenyum seraya mengangguk ramah pada Pram. “Gimana, Za?” tanya Pram usai melepaskan pelukannya dari Melissa.
“Ya, beginilah, Pak.”
“Kamu sudah menjaga anak saya, jiwa dan raga?”
Perasaan Reza memang seperti itu, maka dia pun mengangguk dengan yakin.
“Lalu apa maksudnya tadi?” tanya Pram.
“Maksud Papi?”
“Kalian sering tidur bersama seperti tadi?”
Melissa segera menggelengkan kepala. “Nggak, Pi, itu tadi karena Reza merasa kasihan kalau Mel tidur di kursi, jadi dia bagi tempat tidurnya.”
Reza mengangguk.
Pram sebenarnya hanya mengetes kejujuran Reza dan Melissa saja. Dia percaya kalau Reza pria yang baik.
“Kamu luka?” tanya Pram pada Melissa.
Melissa segera memperlihatkan betisnya yang luka. “Cuma lecet,” tukas Melissa sebal. Ayahnya sudah bersikap berlebihan padahal dia dan Reza baru saja berteman, Melissa tidak akan mau ujug-ujug tidur dengan pria itu.
“Papi dan Om Rahmat juga Jerry akan tinggal di sini sampai para penjahat itu tertangkap, kita akan melakukan kerjasama dengan kepolisian setempat,” tutur Pram Gunadi sembari duduk.
Melissa menoleh menatap Reza. Dia kemudian menatap ayahnya. “Mel mau bicara sama papi.”
“Ngomong aja, Mel.”
“Nggak di sini.”
Reza mengangguk pada Pram, dia tahu kalau anak dan ayah mungkin butuh privasi. Pram kemudian bangkit dari duduknya. Dia mengikuti Melissa ke luar.
“Kenapa, Mel?” tanya Pram seraya duduk di kursi tunggu.
“Kenapa Papi bersikap berlebihan kayak tadi?
“Kayak tadi gimana?”
Melissa mendengkus, dia kemudian duduk di sebelah ayahnya. “Aku sama Reza nggak ada apa-apa, dia baik, dia jagain aku, dia nggak pernah nyakitin aku,” cerocos Melissa dengan kedua alis yang mengkerut.
“Kayaknya kamu yang berlebihan deh, Mel.”
“Please, Pi.”
“Mel, papi cuma test Reza aja,” bisik Pram. “Kalau tadi dia minta maaf, berarti dia memang salah, tapi tadi buktinya dia tidak meminta maaf, itu artinya dia merasa benar dan apa yang dia lakukan selama ini adalah tindakan yang benar.”
Melissa tercenung, sama seperti ayahnya tindakan Reza juga terkadang sulit ditebak.
“Papi nggak mungkin suruh dia jagaian kamu selama setahun kalau papi nggak percaya dia.”
“Jadi?”
“Papi percaya kalau kalian tidak pernah melakukan apapun.”
“Ya, emang nggak pernah.” Melissa menyandarkan punggungnya di kursi. “Kemarin Reza dari kota, dia mengambil obat-obatan dan alat-alat kesehatan yang dikirim rumah sakit ke kediaman Pak Aria Lubis. Aku minta dia agar pulang lebih awal sebelum matahari terbenam.”
“Terus?”
Melissa menoleh pada ayahnya. “Ya dia menepati janji, tapi, ada masalah sebelum dia pulang, penjahat itu mengikutiku dan malamnya mereka datang ke rumah kami, dia mengalami luka tembak dan memintaku untuk mengobatinya.”
Pram mengangguk.
“Pi, kalau nggak ada Reza, aku nggak tahu akan seperti apa jadinya,” ucap Melissa seraya menyandarkan kepala di bahu ayahnya.
Pram membelai pipi anaknya.
“Kalau papi berhasil tangkap penjahat itu, papi pulang dan ajak Reza ikut,” tambah Melissa.
“Tapi, saya akan tetap di sini menjaga Melissa,” ucap Reza yang kini berdiri di belakangnya bertumpu pada tiang infus.
Melissa terkesiap dan menoleh. “Kamu harus pulang sama Papi.”
“Kamu keras kepala, Mel, aku udah bilang aku akan tetap di sini.”
Pram tidak bangkit dari duduknya, dia juga tidak menengahi mereka dan hanya terdiam menyaksikan bagaimana Reza melawan keras kepala anaknya.
“Tapi, kalau penjahat itu ketangkep, tugas kamu selesai, Za.”
“Nggak ada yang selesai, jangan sok berani kamu, aku masih ingat kamu takut sama gelap.” Reza memberi jeda dan menoleh pada Pram. “Pak Pram tetap izinkan saya di sini, ‘kan?”
Pram masih bergeming. Dia hanya tersenyum menatap Reza.
Melissa tergemap. Namun, tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya. “Aku akan ajak Ubud untuk tinggal denganku.”
“Kamu egois, kamu diktator, Mel, nggak akan ada yang tahan sama sikap kamu selain aku.”
“Arrggghhh ….” Melissa mengerang.
Para perawat dan orang yang berlalu lalang di sekitar mereka tiba-tiba menatap tajam ke arah Melissa. Wanita itu bahkan lupa sekarang tengah berada di mana.
“Kenapa Papi cuma diem aja saat ada orang yang jelek-jelekin aku gini?!”
Pram mengedikkan kedua bahunya. “Papi rasa, Papi setuju sama Reza.”
“Hah?” Melissa mengernyit. Dia kemudian maju selangkah dan mendekat pada Reza. “Kenapa kamu segitu inginnya melindungi aku?”
Reza mendekatkan wajahnya. “Kenapa kamu segitu inginnya aku pergi dari hidup kamu?”
Melissa melipat kedua tangannya di depan. “Karena aku bisa jaga diriku sendiri,” ucapnya seraya mengangkat dagu.
“Kamu akan tetap membutuhkanku, Mel, apapun yang terjadi.”
Melissa menyipitkan kedua matanya. Dia tidak suka pria penuh percaya diri seperti Reza. Melissa mundur saat perawat datang ke arah mereka dan meminta Reza untuk istirahat kembali. Reza menatap mata Melissa dalam-dalam sebelum akhirnya dia kembali ke tempat tidur.
“Hih ….” Melissa mengempaskan b****g di sebelah ayahnya. “Papi lihat, dia nyebelin.”
“Iya, Papi lihat, dia khawatirin kamu lebih dari Papi, papi rasa dia sayang sama kamu, Mel.”
“Hah?” Melissa menoleh dan menatap ayahnya. “Nggak ada orang yang sayang, tapi ngejelekin aku sampai segitunya.”
“Segitunya gimana, nggak ada yang ngejelekin kamu, semua biasa aja.”
“Ih ….” Melissa tampak kesal. Dia bahkan menepis tangan Pram dari bahunya.
Pram tersenyum menatap anaknya. “Mel, papi harus segera menyelesaikan tugas papi di sini,” ucap Pram seraya bangkit. “Nanti papi sempetin ke tempat tinggal kalian.”
Melissa mengangguk dan ikut bangkit. Kemudian dia memeluk Pram dengan erat. “Makasih udah datang ke sini. Sehat selalu ya, Pi.”
“Iya, kamu juga.” Pram mengusap puncak kepala ayahnya.
“Pak Administrasi sudah selesai. Saya juga sudah dapat tempat untuk kita hari ini setelah pulang dari kepolisian setempat. Nanti Pak Aria Lubis akan membantu,” ucap Brigjen. Pol. Rahmat Wahyudi.
“Ya, terima kasih, Pak Rahmat.”
“Saya, mau bertemu Reza, Pak.”
“Di dalam,” jawab Pram. Saat dia hendak mengikuti Rahmat, Melissa menahan tangannya. “Pi, minta uang,” bisiknya. “Aku nggak bawa uang sama sekali. Reza bawa sih, dompet, tapi uang dia diambil penjahat.”
“Kalian lari sempet bawa dompet sama hape?”
“Kebetulan, aja, Pi.” Melissa sudah malas sekali menceritakan kejadian semalam. Wanita itu kemudian membuka telapak tangannya di depan Pram. “Buat beli baju sama pakaian dalam, buat beli makan, buat beli keperluan aku,” ucapnya seraya menggerak-gerakkan jari tangannya yang terbuka.
Melissa sudah dewasa, tapi dia tetaplah putri kecil Pram. “Kamu mau pergi sama siapa?” tanya Pram seraya meletakkan beberapa lembar uang seratus ribuan di atas telapak tangan Melissa.
“Naik taksi aja, kali. Abisnya aku nggak enak pake piyama terus, mana belum mandi lagi.”
“Iya, iya, papi ngerti. Kamu hati-hati, ya.”
Melissa kemudian mengangguk dan kembali memeluk ayahnya. Tak berapa lama Rahmat keluar dari kamar rawat Reza.
“Besok kita kembali ke sini,” ucap Rahmat. “Melissa tinggal dulu di sini selama tiga, hari.”
Melissa kemudian menatap ayahnya. “Tapi, aku harus tugas, Pi.”
“Om Rahmat benar, kasih kami waktu tiga hari sampai penjahat itu tertangkap baru kamu boleh kembali bertugas,” tutur Pram.
“Endy nanyain kamu, kenapa nggak pernah ngasih kabar,” ucap Rahmat seraya membelai puncak kepala Melissa.
Melissa tersenyum menatap ayah sahabatnya itu. “Salam buat Endy.” Memang cuma Endyta sahabat Melissa dari kecil. Mungkin Reza adalah orang kedua setelah Endyta yang mau menerima sifat keras kepalanya.
“Nanti om sampaikan, kamu jaga diri baik-baik.”
Melissa mengangguk. “Makasih, Om.”
Rahmat mengangguk. Dia kemudian berlalu bersama Pram meninggalkan rumah sakit untuk memulai kerja samanya.
***
Melissa kembali ke rumah sakit menggunakan atasan empire line lengan panjang berwarna hitam dipadukan dengan skinny jeans biru terang dan sepatu kets, dia menguncir rambut hitamnya, rambut dan wajahnya terlihat segar, Melissa memang sempat datang ke salon untuk memanjakan diri.
Rambut panjangnya bergoyang ke kanan dan ke kiri saat dia berjalan dengan langkah yang lebar. Dia kemudian masuk ke kamar rawat Reza tanpa mengetuk. Reza terperangah menatap Melissa yang sekarang berputar memamerkan penampilannya. Wanita itu meletakkan satu tangannya di pinggang dan satu lagi melambai, dia berjalan ke dekat Reza seperti model catwalk.
Reza tertawa, pria itu merasa terhibur dengan kedatangan Melissa yang tiba-tiba, padahal awalnya dia ingin marah karena dari tadi siang Melissa pergi hingga malam seperti ini dan meninggalkannya di rumah sakit sendirian.
“Pesanan kamu.” Melissa meletakkan tas karton yang berisi pakaian Reza.
Reza mengangguk seraya mengambilnya. “Makasih ya, Mel.” Dia kemudian membuka dan melihat isinya.
“Sesuai pesanan kamu, kaos polos putih, cuman aku pilih yang V neck. Celana chino coklat khaki, untung aku nemu loh itu, sepatunya aku pilih yang slip on, biar simpel aja gitu maksudnya, tapi mudah-mudahan kamu suka, kalau nggak suka, nanti kasih Ampong aja,” ucap Melissa seraya membuka keresek yang berisi makanan.
Reza tercenung menatap Melissa. Ingin sekali dia meraih tubuh mungil wanita itu dan mendekapnya hangat.
Melissa melirik Reza, pria itu tampak melamun menatapnya, dia kemudian berdehem. “Kamu kayak yang baru aja lihat wanita cantik kayak aku.”
Reza mengerjapkan mata. “Iya, entah kamu wanita cantik ke berapa yang aku lihat hari ini.”
“Kesatulah, orang pas kamu buka mata, aku orang yang pertama kamu lihat, jangan pura-pura lupa,” tukas Melissa.
Reza tertawa. Melissa benar, bahkan dia hafal bagaimana muka bantal Melissa saat bangun.
Melissa geleng-geleng kepala. Dia kemudian memberikan roti pada Reza. “Makan.”
“Udah, tadi aku udah makan.”
“Ya, udah.” Melissa mengambil kembali roti yang dia letakkan di pangkuan Reza.
“Kamu kok lama? Katanya nggak jauh?”
Melissa mengibaskan rambut yang masih terikat itu di depan wajah Reza. “Creambath.” Dia kemudian memamerkan kuku-kukunya dengan cara meletakkan telapak tangan di depan wajah dengan mulut yang terbuka. “Manicure.”
Kali ini Reza yang menggelengkan kepala sembari tersenyum. Entahlah baru kali ini dia menemukan wanita seperti Melissa, wanita itu benar-benar menganggapnya seperti seorang sahabat, tempat curhat dan tempat memamerkan sesuatu.
“Hahhhh, Za, akhirnya aku bisa manjain diriku. Kebayang dong setahun gimana, pulang nanti mungkin kulitku jadi eksotis.”
“Yang penting kamu nggak berubah jadi kayak orang utan, kamu masih tetap dari golongan manusia berjenis kelamin perempuan yang cerewet.”
Melissa memutar bola matanya. Kenapa Reza harus mengeluarkan kalimat sarkasnya. Ya, Melissa akui dia tidak begitu peduli dengan kalimat yang sering Reza ucapkan, entah sarkas ataupun tidak. Namun, entah sejak kapan dia berharap kalau Reza akan mengatakan hal yang manis tentang dirinya, selain tentang Reza yang sudah berjanji pada Pram akan melindunginya.
“Kamu melamun kayak gitu kenapa? Merenung?”
“Ya, merenung. Aku tuh masih heran aja, kenapa ada cowok kayak kamu, pantas Tania nggak mau, soalnya dia waras.”
“Kok jadi bawa-bawa dia, kenapa?”
“Ya nggak kenapa-kenapa, pilihan seseorang menunjukkan tingkat kewarasannya.”
Tiba-tiba Reza teringat Marinka, sepertinya memang benar apa kata Melissa. Bibir Pria itu kemudian tersungging.
Melissa masih sebal, rasanya belum cukup untuk memojokkan Reza. “Kenapa ketawa?”
“Aku ingat Marinka.”
Melissa menghela napas sembari memutar bola matanya. Kenapa kalimat yang barusan dia ucapkan tidak menyadarkan Reza malah membuat pria itu teringat pada Marinka.
“Aku rasa benar apa katamu, Marinka sudah tidak waras karena menyukaiku,” tutur Reza sembari tertawa.
Untuk pertama kalinya Melissa memukul kepala Reza. Tak peduli bagaimana pikiran pria itu terhadapnya, hilang rasa hormatkah atau bagaimana yang jelas ingin sejak kemarin Melissa melakukan itu.
“Aww ….” Reza menggosok kepalanya yang sakit. “Salahku apa, Mel?”
“Nggak tahu, rasanya aku pengen tendang kamu sampai ke segitiga bermuda.”
“Astaga.” Reza merengut.
“Ergh ….” Melissa menggigit rotinya kuat-kuat, seolah itu adalah benda yang keras. Namun, hal itu malah menerbitkan senyum di bibir Reza.
Mendadak Melissa merasa panas. Bukan karena senyum Reza, tapi karena tatapan pria itu, sehingga dia memutuskan untuk membelakanginya. Jangan sampai dia hilang kewarasan karena pria itu.
“Kamu kenapa sih, Mel?” Untuk kali ini pertanyaan Reza amat sangat serius. Sungguh dia merasa aneh karena tiba-tiba Melissa marah, bukankah sebelumnya dia bercanda.
Entah kenapa Melissa tiba-tiba merasa hatinya mangkel, entah karena dia mendengar kalau Reza teringat pada Marinka atau karena hal lain.
“Mel.” Reza menyentuh bahu Melissa dengan telunjuknya. “Please. Kalau aku bikin kamu kesal, aku minta maaf ya, Mel.” Reza memainkan ujung rambut Melissa dengan telunjuknya. “Jangan tendang aku ke segitiga bermuda. Nanti kalau kamu kangen susah nyampeinnya loh, Mel,” goda Reza.
Kedua mata Melissa kembali membola. Seketika dia memalingkan rambutnya ke depan. Reza tercenung, jarinya tertahan di belakang punggung Melissa. Tiga bulan dan Reza belum bisa memahami Melissa yang suka tiba-tiba marah. Namun, entah kenapa bagi Reza Melissa itu berwarna.