Biru Langit

2284 Kata
Perlahan perahu kayu itu meninggalkan tempat mereka semula. Reza menoleh kemudian berkata, “Warga kampung mengabulkan keinginan kamu untuk pulang secepatnya.” Melissa mengangguk seraya menatap bayi yang terlelap itu. “Aku nggak nyangka dapet amanah untuk merawat bayi ini.” “Bulan anak yatim, diperkosa, dibuang oleh keluarga terdekatnya, wajar dia ingin mengakhiri semuanya,” kata Reza sembari ikut menatap bayi itu. Melissa menghela napas. “Kasihan ya.” Matanya berembun sembari tetap menatap bayi itu. “Aku akan menjadi ibunya dan merawat bayi ini seperti anakku sendiri,” ucapnya, dia kemudian menatap Reza. “Kamu mau, ‘kan bantu aku merawat dia dan menjadi ayah untuk anak ini?” Reza mengangguk. “Asal kamu ibunya, aku mau Mel,” ucap Reza dari hati. Melissa mengangguk, kemudian tersenyum sembari menatap bayi itu. “Kamu mau dipanggil apa?” “Aku ikut kamu aja,” ucap Reza hampir tanpa ekspresi. “Mmm … aku mau dia manggil kita, Papa, Mama aja.” Reza segera mengangguk. “Kita belum kasih dia nama.” Melissa menatap Reza yang terdiam membalas tatapannya. “Biru, aku suka warna biru,” ucap Reza. “Aku nggak nanya, lagian masa kasih nama anak Biru,” dengkus Melissa. “Aku mau kasih dia nama Langit.” “Nggak. Aku mau kamu kasih dia nama Biru.” “Nggak, Za, Langit aja.” “Nggak.” “Reza! Aku mamanya.” Seketika Reza tersenyum dengan lebar. Mungkin Melissa sudah lupa bagaimana ibu dari anak ini mengakhiri hidup di depan matanya sendiri. Syukurlah, Reza merasa bahagia jika Melissa sudah ke luar dari gelap itu. “Langit,” ucap Melissa. “Biru, kalau nggak pakai Biru, aku nggak mau jadi papanya,” ancam Reza. “Kamu kok gitu sih.” Melissa merengut. “Ya udah namanya jadi Biru Langit. Sesuai keinginan kamu, panggilannya Biru, kita akan jadi orang tua angkat untuknya.” Senyum Reza terbit, dia kemudian mengangguk. “Apapun yang menurutmu terbaik.” Melissa meraih tangan Reza. “Makasih,” ucapnya pelan. Lagi-lagi Reza mengangguk. Dia juga ingin sekali berterima kasih pada Melissa karena sudah memberinya warna berbeda selama lima bulan di sini. Dia sudah ikhlas dengan semua takdirnya kemarin-kemarin, kini dia siap menghadapi dunia baru menjadi sahabat Melissa dan menjadi ayah angkat bagi bayi itu. Sesampainya di jalan besar, Ampong sudah menunggu mereka dengan mobil, dia membantu memasukkan koper dan tas milik Reza dan Melissa. “Makasih Pak Ampong,” ucap Reza sembari menutup bagasi, dia kemudian mengikuti Ampong masuk ke dalam mobil, dia duduk di sebelah Melissa. Melissa menyandarkan kepala di sandaran jok mobil. Lalu menghela napas panjang. “Waktu terasa cepat banget,” ucap Reza sembari ikut Melissa menyandarkan kepala dan menatap langit-langit mobil. Melissa menoleh. “Lama, mungkin akan terasa lama kalau aku menjalaninya sendiri,” ucap Melissa tanpa menoleh. “Belum juga honeymoon, masa udah dapet bayi aja.” Melissa tersenyum tanpa menanggapi perkataan Reza yang melantur ke mana-mana. “Simulasi memiliki istri dan anak,” gumam Reza yang hanya dapat didengar Melissa, sedang Ampong hanya fokus pada suara deru mesin mobil. Melissa kembali tersenyum. “Mel, apa yang kamu pikirin sekarang?” Melissa menghela napas. “Papi. Apa reaksi papi kalau tahu soal ini.” Melissa kemudian menoleh. “Kamu?” “Pulang,” ucap Reza. “Aku ingin mengantar kamu pulang secepatnya.” Melissa tercenung, dia kemudian teringat saat menangis dalam pelukan Reza sembari meminta untuk pulang. Begitu besar upaya Reza untuk mengabulkan keinginanya. Melissa kemudian kembali menatap langit-langit mobil sembari bertanya. “Emang kamu nggak mau pulang?” “Kalau kamu nggak ada buat apa aku tetap di sana.” Melissa kembali tersenyum. Dia kemudian menarik napas dan menoleh. “Aku akan selalu siap, jika kamu butuh aku, Za.” Melissa mengerti kesulitan terbesar Reza adalah menjalani kehidupan di Jakarta. “Makasih, Mel. Kamu juga jangan lupa, aku akan selalu ada buat kamu apapun yang terjadi. Semalam apapun kamu butuh orang buat bercerita, telepon aku.” Melissa mengangguk. “Makasih.” Berkali-kali Melissa menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Entah kenapa dia tidak ingin mengakhiri kebersamaannya dengan Reza, namun, dia juga tidak mungkin lupa kalau Reza punya kehidupan lain, sama seperti dirinya. Reza tetap pada posisinya menatap Melissa, air mata yang turun dari sudut mata wanita itu membuat hatinya tercubit. “Baru juga tadi aku bilang kalau aku akan selalu ada untuk kamu, kenapa sekarang kamu menganggap seperti aku tidak ada, Mel?” Seketika Melissa menoleh dan menatap Reza. “Aku takut,” gumam Melissa. “Apalagi yang kamu takutin, kita udah mau pulang?” “Aku takut kalau aku nggak bisa rawat Biru.” Reza tersenyum. “Jangan lupain aku, Mel. Aku ayahnya. Kita anggap ini sebagai simulasi untuk belajar menjadi orang tua terbaik.” Melissa menarik napas, dia kemudian tersenyum. “Kalau ibu kamu tidak mau menerimanya gimana?” “Nggak masalah. Biru, ‘kan tinggal sama kamu, aku akan setiap hari ke rumah kamu buat jenguk dia.” Melissa membasahi tenggorokannya dan masih memikirkan perkataan Reza barusan. “Pak Ampong nganter kita sampai mana?” tanya Reza seraya menegakkan tubuhnya. Ampong menatap spion yang mengarah ke kursi belakang. “Sampai bandara, Pak.” “Kita nanti mampir dulu minimarket, buat beli s**u sama popok.” “Iya, Bu.” “Makasih, Pak Ampong.” Ampong mengangguk sembari tetap menerobos jalan berliku dengan banyaknya lubang. Beruntung Biru tetap tenang dalam gendongan Melissa. “Kamu udah bilang sama Pak Pram kalau kita pulang hari ini?” tanya Reza. “Nggak! Kamu?” Reza menggelengkan kepala. “Aku kira kamu sudah bicara sama Pak Pram.” “Aku malas bahas soal kemarin.” Secara tidak langsung Melissa menyerahkan semua ini pada Reza. “Za, kalau papi minta agar Biru di ke panti, ‘kan gimana?” “Ya udah.” “Ya udah apa?” tanya Melissa dengan nada tinggi. “Sssshhhh ….” Reza mendekatkan telunjuk ke bibir wanita itu. “Kalau itu yang terbaik ya mau diapakan lagi.” “Tahu dari mana kalau itu yang terbaik? Gimana kalau nanti dia diadopsi sama yang lain? Mending kalau orang tuanya kayak kita, kalau nggak, gimana?” pekik Melissa tertahan. Biru sampai menggeliat merasakan emosi ibu angkatnya itu. Reza dan Melissa seketika tergemap, takut sekali kalau Biru menjerit dan menangis. *** Reza tercenung menatap lurus ke jalan di depannya. Lima bulan terasa begitu cepat, hingga tak terasa dia harus kembali ke Jakarta, dia hanya tidak siap mendengar desakkan ayah dan ibunya lagi, entah soal calon istri atau pekerjaan. Mereka sudah berada di dalam taksi dari Bandara menuju kediaman Pram Gunadi. Penerbangan dari Pontianak ke Jakarta memang terasa sangat singkat, mereka justru menghabiskan banyak waktu di mobil. “Kalau pacar kamu nggak suka gimana?” Kali ini Melissa yang tercenung. “Maksud kamu Ibram?” “Ya, siapa lagi, emang kamu punya berapa pacar?” “Ck!” Melissa berdecak. “Kamu pacaran sama dia, tapi ayah bayi kamu aku.” “Ssshhh!” Mata Melissa membola. Dia kemudian menoleh pada sopir taksi yang sedari tadi hanya mendengarkan, jangan anggap dia bukan manusia, tentu sopir itu mendengar percakapan Reza dan Melissa. “Jadi, kamu nggak mau jadi ayah Biru?” “Ya aku mau, Mel, tapi--” “Apa?” Melissa terus saja mendelikkan matanya yang dua hari yang lalu sempat meredup karena kematian pasiennya. Reza menggaruk kepala sembari menghela napas. “Nggak apa-apa, aku akan tetap jadi ayah angkatnya, kalau nanti aku menikah, kamu menikah, dia jadi punya dua ibu dan dua ayah. Kurang apa, anak ini pasti bahagia.” Melissa tak pernah berpikir sampai sana. “Kalau kamu menikah cari perempuan yang akan sayang sama Biru.” “Ya,” sahut Reza malas. Dia sebenarnya tidak yakin, entah perempuan mana yang akan dia jadikan istri dan ibu angkat untuk Biru, selain Melissa, beberapa hari ini dia memang hanya berandai-andai ini bisa menjadi nyata. “Aku akan buat Ibram menyayangi Biru sama seperti kamu menyayangi dia.” “Nggak akan sama. Aku nggak suka disamain.” Melissa tergemap. Ya, dia lupa kalau Reza sempat kehilangan jatidiri lantaran sempat menggantikan almarhum kakaknya. “Maaf.” Reza tak menjawab, dia hanya menghela napas yang cukup panjang. Sesampainya di rumah Pram Gunadi terkejut melihat kedatangan Melissa di depan rumah. Anak gadisnya itu tampak berkaca-kaca, dia mendekat dan memeluknya. “Ini ada apa?” tanya Pram Panik sembari mengurai pelukannya. “Ceritanya panjang, kami dipulangkan,” ucap Melissa semabari masuk ke dalam dan menyerahkan bayi itu pada Bi Narsih. “Namanya Biru, tolong jaga dia, Bi.” Melissa kemudian menjatuhkan bokongnya di sofa. “Lebih tepatnya, warga kampung mengabulkan permintaan Melissa untuk pulang,” ucap Reza seraya duduk dengan pelan. Pram mengangguk, dia kemudian menoleh ke belakang. “Guntur, tolong bikinin minum yang hangat dua.” “Iya, Pak.” “Jadi, sebenarnya ada apa?” tanya Pram pada Melissa dan Reza. Melissa menepuk lutut Reza, kemudian dia bangkit. “Za, tolong beritahu Papi yang sebenarnya. Aku mandi dulu, aku kangen sabunku, aku kangen bak mandiku, aku kangen wangi kamarku dan segala lampu yang ada di dalamnya.” Reza menatap pergerakan Melissa. Dia lalu menjelaskan kejadian sebenarnya pada Pram. Pram Gunadi tercenung mendengarkan. Sebenarnya Pram tidak masalah jika Melissa bersikukuh untuk merawat Biru, dia juga akan membantu untuk merawat bayi itu. Tak berapa lama Melissa kembali, dia sudah berganti pakaian dengan piyama, wangi pakaian yang baru keluar dari lemari, ditambah aroma lotion, parfum dan aroma shampoo menguar menguasai penciuman Reza. Entahlah dia belum pernah dikuasai penciumannya sendiri hingga oleng seperti ini. “Tapi, kalian tahu, kan persyaratan mengajukan adopsi itu harus ada pernikahan?” ycap Pram sembari menatap Melissa yang baru saja duduk di sebelah Reza. Melissa mengangguk cepat. “Kalau kita cuma sebatas mengasuh gitu, Pi, gimana?” “Bisa, tapi kasihan, Mel, kalau kamu benar-benar sayang sama dia, dia harus mendapatkan hak-haknya sebagai anak kamu.” Melissa menoleh menatap Reza. “Nggak apa-apa, Mel, nggak perlu terburu-buru.” Pram kemudian bangkit. “Untuk sekarang tidak masalah. Kita bisa minta bantuan Pak Rahmat, minta dia untuk memasukkan nama Biru ke daftar anak asuh di pantinya.” “Apa?” Melissa ikut bangkit. “Tapi, gimana kalau ada yang adopsi dia?” “Ya, usahakan jangan ada.” Semudah itu Pram katakan. “Kalian tetap bisa menjadi orang tua angkatnya, tapi dia harus ada di bawah lembaga sosial, itu biar kamu nggak ada masalah aja, Mel.” “Tapi, dia tetap bisa tinggal di sini, ‘kan, Pi?” Pram Gunadi menggelengkan kepala. “Kamu bisa ke sana setiap hari, Mel, menjenguknya.” Tiba-tiba air mata turun membasahi pipi Melissa. Dia terlalu takut akan ada orang yang mengadopsi Biru sebelum dia menemukan orang yang tepat untuk membangun rumah tangga dan bisa meresmikan Biru sebagai anak adopsinya. Reza menoleh dan menatap Melissa. “Jadi aku gimana?” gumam Melissa frustasi sembari menyugar rambutnya. Reza mengernyitkan kening tidak mengerti. “Ibunya menyerahkan Biru sama aku. Kalau tiba-tiba ada yang mau adopsi dia, gimana? Aku nggak mau apa yang udah di kasih ke aku tiba-tiba harus menjadi milik orang lain, aku nggak mau!” Melissa berjingkat dan pergi ke kamarnya. Reza tergemap menatap Pram yang hanya mengedikkan bahu. “Melissa emang gitu, Za. Kamu ingat kan gimana dia tidak suka sama istri muda Pak Aria? Karena dia terlalu takut apa yang sudah di kasih ke dia menjadi milik orang lain.” “Maksudnya gimana, Pak?” “Ya, kamu, Za, dia terlalu takut kalau kamu tidak lagi menjaga dia dan malah beralih sama wanita lain.” “Ah.” Reza tersenyum. “Itu cuma dugaan Pak Pram aja.” Reza kemudian bangkit. “Saya pamit ya, Pak, capek, pengen tidur. Besok kalau sempat saya ke sini lagi.” “Loh, sampai lupa, kamu mau makan dulu?” “Nggak, Pak, tadi udah pas sampai Bandara, kita makan dulu.” “Iya udah, kalau begitu hati-hati, Za.” Pram mengulurkan tangan. “Makasih, ya.” Reza mengangguk, kemudian dia melenggang pergi usai mengucap salam. Taksi sudah menunggunya di depan rumah. Dia kemudian menoleh pada Pram yang mengantarnya ke depan pintu. “Salam buat Melissa, Pak, kalau ada apa-apa telepon saya.” Pram mengangguk. Reza kemudian berlalu bersama dengan taksinya. Di dalam mobil Reza terpejam, sungguh dia tidak ingin berpikir apapun untuk saat ini, ingin sekali dia kosongkan pikiran untuk sejenak, dia hanya sedang merasa lelah. Ponsel berdering beberapa kali, panggilan datang dari Melissa. Namun, Reza tidak menyadarinya. Melissa mendengkus kesal, dia turun menemui ayahnya. “Reza pulang nggak pamit sama aku?” Pram menoleh. “Dia titip salam.” “Kenapa cuma salam?” “Kamu maunya apa? Pakai sayang?” Melissa tergemap, dia mengempas b****g di sofa, kemudian menyandarkan leher dan tengadah. “Dokter Mawardi belum tahu kalau aku pulang. Aku nggak ngabarin siapa-siapa.” “Kamu mau cuti?” “Nggak tahu, belum kepikiran. Jangankan mikirin itu,” Melissa menegakkan tubuhnya. “yang ada di pikiranku saat ini, gimana caranya biar aku jadi orang tua angkat Biru.” “Nikah,” celetuk Pram. Melissa menoleh cepat. Dia tercenung, dia tidak yakin kalau Ibram mau menikahinya secepat itu. Dia bahkan belum mengabari Ibram soal kepulangannya. “Kamu istirahat, papi tahu kamu pasti capek,” ucap Pram semari menepuk tangan anaknya. “Besok kita bicarakan ini lagi, Papi akan minta bantuan Pak Rahmat.” Melissa mengangguk. Dia kemudian bangkit dan kembali ke kemar. Biru sudah terlelap dengan nyenyak di kamar sebelah di temani Bi Narsih. Dia tahu kalau bayi baru lahir perlu minum s**u lebih sering dan saat ini Melissa ingin tidur lebih nyenyak, perjalanan seharian tadi membuatnya sangat lelah. Sebelum terlelap, dia menelepon Reza, tapi pria itu belum juga menjawab panggilannya. Maka dia pun mengirim pesan. [Good night, Za.] Setelah itu Melissa benar-benar tertidur, semoga esok hari bisa lebih baik dari hari kemarin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN