Jangan Lupakan Hari ini

2161 Kata
Gerak langkah semakin merapat, beriringan dan semakin jauh meninggalkan klinik. Reza tersenyum saat melihat anak-anak tengah mandi di sungai, tawa riang mereka membuatnya iri.  “Andai aku masih muda.” Melissa mencibir. “Syukurlah kalau bapak menyadarinya.” Tiba-tiba dia tergemap, saat melihat Reza sedang membuka kaos dan menurunkan celana, hanya menyisakan celana pendek saja.  Perlahan Reza turun ke sungai.  “Za?” pekik Melissa di bibir sungai.  Reza tersenyum dan bergabung dengan anak-anak. “Segar, Mel,” pekiknya sembari melempar Melissa dengan air.  “Ayo turun Bu Dokter,” ucap Bu Nawara yang bersiap untuk mencuci di sungai.  Reza yang sudah basah seluruh tubuh hingga kepalanya pun kemudian bangkit dari air dan berjalan ke dekat Melissa. “Ayo, Mel, berbaur,” ucapnya sembari membantu melepas jas putih yang dikenakan Melissa.  “Tapi, Za--” Melissa menahan jasnya. “Mumpung di sini, kamu nggak akan dapat yang seperti ini di Jakarta, emang kamu mau mandi di kali ciliwung?” Melissa merengut, namun, perlahan dia tersenyum saat Reza menurunkan jas putihnya, lalu meletakkannya dekat kantong peralatan dokter dan dekat dengan pakaiannya.  Melissa tak melepaskan satupun pakaiannya, dia mengenakan skinny jeans dan blouse, lalu turun ke sungai. Reza tersenyum dan terkesiap saat Melissa yang sudah ada di sungai mencipratkan air padanya. “Kamu yang ngajak.”  “Aku mau pulang aja,” goda Reza seraya berbalik. Namun, Melissa merajuk sembari terus melemparinya dengan air diikuti oleh anak-anak yang lain. Melissa tertawa puas. Reza berbalik dan tersenyum, dia kemudian berjalan dan berdiri di atas batu, lalu melompat dari sana dan saat sudah sampai di dalam air, dia mencipratkannya pada Melissa. Mereka berdua tertawa, memang tak akan ada kehidupan seperti ini di Jakarta, saat mereka pulang nanti, tak ada lagi cara menikmati hidup yang seperti ini selain menjalani semuanya layaknya orang dewasa di Jakarta, berangkat pagi pulang malam, desakan untuk menikah. Reza benar-benar lupa dengan semua masalahnya di Jakarta, semua itu dia dapatkan di sini bersama dengan Melissa.  Perlahan senja mulai tampak, anak-anak lekas bangkit dan satu persatu pergi meninggalkan sungai, menyisakan Reza dan Melissa yang masih berada di tengah sungai dengan air yang jernih. Bu Narawa pun sudah selesai mencuci dan sudah berpamitan untuk pulang lebih dulu.  Melissa naik ke atas batu tempat Reza tadi sempat melompat, sedangkan Reza masih berada di bawah air. Pria itu sedikit tengadah dan tersenyum menatap Melissa. Kedua tangannya bersedekap di atas batu tersebut dekat Melissa duduk.  “Aku bahagia,” ucap Melissa. “Aku nggak pernah sebahagia ini.” “Aku juga.” Melissa tertunduk menatap Reza. “Za.” “Hmm ….” “Nanti kalau kita pulang ke Jakarta, jangan lupain ini ya.”  “Jangan lupain apa?” “Jangan lupain waktu kita di sini.” “Nggaklah, justru aku akan sangat merindukan ini.” Reza mundur, lalu dia menciduk air dengan kedua tangannya, lalu melemparkannya pada Melissa.  “Za!” pekik Melissa sembari merentangkan dan mengacungkan kedua telapak tangan untuk menghalau air.  Reza tersenyum, dia senang sekali menggoda Melissa yang sedikit pemarah dan pencemburu. Namun, sejak malam itu, Marinka tak lagi menampakkan diri di depan mereka, sehingga kecemburuan Melissa terhadap Marinka perlahan memudar, bagaimana dengan nanti saat mereka sudah pulang ke Jakarta, apa mereka masih bisa berteman seperti ini, menghabiskan waktu lama, menikmati indahnya senja di sungai.  Melissa meletakkan tangan di atas dahi, keningnya mengerut saat menatap langit. Hening dan hanya ada suara air yang mengalir menghantam bebatuan, pelan dan menenangkan. Rambut basah Melissa meneteskan air.  Reza terus memperhatikan wanita itu, termasuk air yang menetes dari ujung rambutnya. Saat tetesan air itu berhenti, dia mencipratkan air kembali ke punggung Melissa.  “Apa sih, Za?” Reza tersenyum sembari terus melakukannya.  “Kurang kerjaaan.” Melissa menoleh dan menatapnya. Reza mematung seolah tatapan Melissa menjadikannya patung batu.  Melissa bangkit dan berdiri di atas batu itu. “Pulang yu.” Melissa kemudian berjalan dengan hati-hati. Reza segara bangkit dari sungai dan berjalan mengikuti Melissa. Tampak Melissa sedang menumpangkan jas putih di bahu, sedangkan Reza memakai kaosnya.  “Celana aku basah.” “Nggak usah disebutin, udah tahu,” dengkus Melissa seraya berlalu. Dia kemudian menoleh dan menatap Reza. “Emang kamu mau keliling kampung cuma pakai bokser?”  Reza segera memakai celana jeansnya, biarkan basah daripada Melissa malu berjalan dengan pria yang hanya mengenakan bokser dan telanjang d**a.  Kini mereka berjalan menyusuri jalan pedesaan, debu beterbangan terbawa angin. Setiap ada warga, mereka selalu tersenyum ramah, terkadang mengobrol hal kecil sekedar bertanya sedang apa. Mereka benar-benar berbaur dengan warga sekitar, sehingga rasanya mereka tak ingin meninggalkan keindahan ini secepat itu.  Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah, Melissa menunggu di bawah, sementara Reza naik ke atas panggung rumahnya, dia membukakan kunci, lalu menoleh pada Melissa sesaat setelah pintu terbuka. “Kamu nggak mau masuk?”  Alih-alih menjawab, Melissa malah menganjurkan tas beserta jas putihnya. “Aku mau jalan belakang, kamu bukain pintunya, soalnya aku mau langsung bersihin badan.” Reza mengangguk, dia mengambil tas dan jas punya Melissa, dia lalu meletakkan di tempatnya, setelah itu Reza berjalan ke dapur dan membukakan pintu untuk Melissa. “Silakan Nyonya.” Melissa masuk dan langsung ke kamar mandi. “Kamu, ‘kan senang direpotkan, aku mau minta diambilin handuk sama kimononya sekalian,” ucapnya sebelum mengunci pintu kamar mandi. Reza mengangkat kedua alisnya semari menggaruk kepala. “Di mana?” tanyanya.   “Ada di paku, digantungin.”  Reza kembali ke kamar dan segera mengambilkan apa yang Melissa inginkan. Dia kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi, lalu dia mengetuk pintu kayu itu. “Mel.” “Iya bentar.” Melissa membuka pintu sedikit dan menganjurkan tangan ke luar dan meraih handuk dari tangan Reza. “Makasih ya.” “Hmmm ….” Reza menunggu Melissa di depan pintu, handuk menyampir di bahunya. Melissa malah terdengar seperti sedang mencuci. “Bisa nggak sih, Mel, nyucinya besok aja, aku juga mau mandi,” keluhnya.  “Tanggung, Za,” sahut Melissa. “Ya udah cepat.” Reza mengaitkan handuknya di paku. Dia kemudian turun ke tanah, namun, masih termasuk dapur dan di sana ada perapian, dia menyalakannya dan hendak memasak air untuk minum, dia sudah membayangkan bisa menikmati teh hangat dengan Melissa.  Melissa sudah ke luar dari kamar mandi, dia berdiri di atas, di lantai papan, sementara Reza berada di bawah depan perapian. “Masak air buat mandi?” “Buat minum, sejak kapan aku mandi pakai air hangat.” “Pas sakit?”  “Itu kamu yang nyuruh,” ucap Reza seraya bangkit dan berbalik. Melissa mundur saat Reza naik dan berdiri di depannya. “Misi, Mel.”  Melissa masih mematung tercenung memperhatikan pria itu.  “Mel, aku mau lewat, memang kamu mau aku pegang? Nanti kamu kotor lagi.” Melissa segera mengerjap dan bergeser, setelah Reza melewatinya, dia segera ke kamar memakai baju. Sementara Reza mulai mandi sembari mencuci seperti yang dilakukan Melissa. Mereka memang mencuci baju masing-masing, agar tak ada orang yang diuntungkan atau yang dirugikan terkait ini. Bahkan saat Reza mengalami luka di tangan akibat tusukan pisau yang dilakukan oleh para penjahat itu, dia tetap mencuci baju sendiri, meski terkadang menumpuknya.  Melissa memang sempat menawarkan bantuan, namun, Reza menolak dengan alasan tidak ingin berutang budi dan membuat Melissa merasa berjasa dalam hal ini.  Melissa masih bersiap, lama sekali, sampai dia tidak mendengar air mendidih di atas tungku. Reza keluar dari kamar mandi menggunakan handuk dan kaos. Dia melihat air sudah mendidih dan segera menuangkan air panas tersebut ke dalam termos, sementara Melissa sibuk menjemur pakaian, dia juga menjemurkan pakaian punya Reza, meski Reza selalu menolak bantuannya, tapi Melissa juga tahu diri, sesekali dia juga ingin Reza bergantung pada dirinya, bukan cuma dirinya saja yang selalu bergantung pada Reza selama di sini.  Usai menuangkan air ke dalam termos. Reza kembali ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki, dia pun pergi ke kamar untuk melengkapi pakaiannya. Sama seperti Melissa dia juga selalu tampil wangi, meski terkadang bau asap lebih mendominasi, atau bahkan bau parfum bercampur dengan bau asap dari tungku.  Kali ini Melissa yang berada di dapur di depan tungku, dia hendak memasak dua bungkus mie instan, dicampur telur ayam kampung pemberian neneknya Ubud yang kebetulan ternak ayam.    “Lagi apa, Mel?” “Sini, Za, aku masak mie.” Melissa beringsut dan Reza segera turun lalu berjongkok di sebelah Melissa.  “Di sini tuh sewangi apapun tetap nggak berarti,” ucap Reza sembari mendorong kayu agar masuk lebih dalam ke dalam tungku.  “Emang kamu mau cari muka sama siapa?” sindir Melissa. “Mar--” “Kamu,” tukas Reza.  Jantung Melissa tiba-tiba berdegup dan menatap Reza yang tidak menatapnya dan malah memperhatikan api di dalam tungku. Sebenarnya Reza tidak ingin Melissa menyinggung lagi soal Marinka, itulah sebabnya dia lebih memilih menunjuk Melissa.  “Udah mendidih, mienya mana?” tanya Reza dengan kedua telapak tangan yang terbuka di depan Melissa. Wanita itu segera bangkit dan mengambilnya, lalu memberikannya pada Reza. “Langsung masukin dua-duanya?”  “Iya, masukin aja.” Melissa sudah memotong-motong cabai rawit dengan bawang merah dan meminta Reza untuk memasukkannya ke dalam rebusan mie yang sudah dicampur dua butir telur.  “Ini akan menjadi mie terenak,” ucap Melissa sembari menuangkan bumbu ke dalam mangkuk berukuran lebih besar dari mangkuk biasa. “Seyakin itu?” “Iyalah, soalnya ini kita yang bikin, kita yang makan,” tambah Melissa.  “Bisa-bisa.” Reza bangkit. Memang dasar dapurnya sempit, hingga dia tak sengaja menyenggol Melissa. “Maaf,” ucapnya. Melissa tak menyahut, tapi debaran di balik dadanyalah yang menyahuti permintaan maaf Reza. Entahlah akhir-akhir ini Melissa seperti orang gila. Dia bahkan sering merasa kehabisan oksigen dan membuat dadanya sesak, lalu tersenyum-senyum sendiri dengan debaran di balik d**a yang semakin menggila setiap harinya.  “Aku mau bikin teh,” ucap Reza seraya menuangkan teh ke dalam dua buah gelas yang sudah berisi air panas, dia kemudian memberinya gula dan mengaduk-aduknya. “Mungkin rumah tangga nggak jauh berbeda kayak gini ya, Mel.” “Hah, hmm ….” Melissa tampak gugup. Dia segera berbalik membelakangi Reza dan menghadap panci diatas tungku, mie sudah hampir matang, airnya sudah berbusa dan meletup-letup dari telur putih-putih di atas panci itu menguap.  Melissa menuangkannya ke dalam mangkuk yang sudah berisi bumbu, lalu mengaduknya perlahan, wangi ayam bawang menyeruak dan menerbitkan liur.  “Sini.” Reza mengambil alih mangkuk tersebut dan membawakannya ke rumah, sementara Melissa masih berada di depan perapian, sibuk memadamkan api dan menyisakan arang.  Dia terkesiap saat berbalik Reza sudah ada di belakangnya dan mengulurkan tangan. Tempat Reza berdiri hanya setinggi lututnya, dia sudah biasa naik dan turun, namun, kali ini tak biasanya Reza mengulurkan tangan. Melissa hendak meraihnya. Namun, Reza malah terdiam dan tak menarik tangannya. “Korek, Mel. Aku mau nyalain lentera.” “Astaga,” gumam Melissa. Dia segera melepaskan tangannya dari tangan Reza yang masih terulur, bisa-bisanya dia pikir kalau Reza akan membantunya naik ke atas. “Ngomong dari tadi kek,” ucap Melissa kesal sembari meletakkan korek itu di atas telapak tangan Reza.  Bibir Reza tersungging, dia kemudian berbalik dan berjalan lebih dulu. Melissa di belakangnya menggerutu. Hilang sudah mukanya kali ini, kenapa dia harus bersikap besar kepala seperti tadi?  Melissa harus bersikap biasa, jangan sampai dia memberi kesempatan untuk Reza melambungkan hatinya, padahal Reza tak berniat seperti itu.  “Katanya mau makan? di mana?” Melissa mengedarkan pandangan di atas tikar pandan makanan itu tidak tersedia. Reza malah pergi ke teras dan duduk di sana lalu melambaikan tangan pada Melissa. “Kita nyoba makan di teras sambil menikmati senja yang akan meredup.” Melissa berjalan pelan menghampiri Reza, setelah beberapa bulan mereka lewati bersama, ini kali pertama dia mendapati Reza bersikap aneh, seperti memaksanya untuk mandi di sungai, lalu sekarang makan di teras.  “Kamu ngerasa nggak sih?” tanya Melissa seraya duduk.  “Ngarasa apa?” tanya Reza sembari melilit mie dengan garpu dan mereka makan satu mangkuk berdua karena Melissa lupa membawa mangkuk kecil untuk membagi mienya. “Aku lupa ambil mangkuk.” Melissa segera bangkit, sebenarnya bukan itu yang ingin Melissa bicarakan dengan Reza, tapi tentang keanehan Reza hari ini.  Reza menahan tangan Melissa. “Biar nggak banyak wadah yang kotor, mending kita makan bareng-bareng aja di sini,” ucapnya.  Melissa tercenung. Namun, perlahan dia duduk kembali dan mulai memakan mie itu bersama dalam satu mangkuk berdua.     Dengan khidmat, Reza dan Melissa menikmati mie instannya. Melissa memilah cabai rawit, agar tidak ikut dengan mie nya. Namun, dengan sengaja Reza meletakkan potongan cabai rawit itu di dalam sendok Melissa. Lagian curang, cuma makan mienya aja, Melissa sendiri yang memasukkan potongan cabai ke dalam kuah mie, begitu pikir Reza.  Melissa berhenti mengunyah saat menyadari kalau potongan cabai rawit ikut ke dalam sendoknya. Namun, dia tidak mempermasalahkan itu dan tetap menikmatinya dengan santai, meski Reza berharap akan ada reaksi dalam diri Melissa usai menggigit cabai tersebut.  “Rasanya beneran enak, Mel,” ucap Reza.  “Iya, ‘kan. Soalnya makannya bareng aku,” ucap Melissa penuh percaya diri  dan membuat Reza pura-pura tersedak. Melissa mencibir dan membiarkannya, lagi pula dia tahu kalau Reza hanya pura-pura. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN