“Lain kali tembak kepalanya lagi untuk memastikan targetmu mati” kata Diego, lalu dia menggeser jempolnya ke bagian kerongkongan wanita itu dan menekannya, menutup jalur nafas wanita itu. Cengkraman wanita itu semakin kencang di lengannya saat wanita itu semakin sulit mendapatkan oksigen. Lalu dia melepaskan tangannya dan bangun dari posisinya yang menduduki b****g wanita itu.
“Uhuk” Rose terbatuk, dia lalu menghirup udara sebanyak banyaknya. Setelahnya dia duduk dan membalikkan tubuhnya, bersiaga pada pria itu, namun matanya silau saat pria itu menyalakan lampu.
“Pergilah. Tanpa senjata kau bahkan tidak akan bisa menyentuhku” kata Diego mengusir wanita itu.
Rose menegang mendengar perkataan pria itu. Dia tahu pria itu sangat berbahaya, karena itulah tadi dia baru mendekat ke tubuh pria itu saat berpikir kalau pria itu sudah mati. Dan barusan dia pasti mati jika pria itu tidak melepaskan tangannya dari lehernya. Sekarang saja tubuhnya masih lemas karena kekurangan oksigen.
“Ke-napa kau ti-dak membunuhku?” tanya Rose saat akhirnya dia bisa bicara.
“Sudah kukatakan aku kesini bukan untuk membunuhmu” jawab Diego sambil duduk di sofa.
“Walaupun kau melepaskanku sekarang, aku tetap akan mengejar dan membunuhmu” desis Rose.
“Silahkan. Banyak yang ingin membunuhku. Bertambah satu bukan masalah untukku” jawab Diego santai.
Rose memperhatikan pria itu yang sekarang sedang duduk santai di sofa sambil memperhatikan dirinya juga.
“Kau menggunakan jaket anti peluru?” tanya Rose sambil menyipitkan matanya saat menyadari kalau darah di pakaian pria itu berasal dari luka di lengannya yang terkena pisau yang dia lempar, bukan dari jantungnya. Dan pria itu menyeringai sebagai jawaban.
“Pergilah. Berlatihlah lagi jika ingin membunuhku. Dengan kemampuanmu yang hanya seperti ini, membunuh ajudanku saja kau tidak akan bisa. Lain kali aku tidak akan berbaik hati seperti sekarang” jawab Diego.
Perlahan Rose berdiri dan berjalan menghampiri Diego. Dia merogoh sakunya lalu melemparkan sesuatu ke meja.
“Itu obat untuk racun dari pisauku. Sekarang kita impas” kata Rose sebelum dia berjalan keluar dari kamar pria itu.
Diego mengambil obat yang tadi dimaksud oleh Rose, lalu melihat lengan kanannya. Jaketnya sudah robek dan darah masih mengalir dari luka itu. Dia lalu membuka jaketnya dan melihat kalau luka itu sekarang membengkak, sekeliling luka itu sudah melepuh. Dia memang merasa kepalanya pusing, lengannya nyeri dan mulai tidak bisa digerakkan, tapi dia pikir itu karena pisau itu melukainya dalam, bukan karena racun. Diego tersenyum lalu berjalan untuk mengambil air dan meminum obat itu.
Sebenarnya tubuhnya sudah kebal dengan beberapa jenis racun yang memang sengaja dia konsumsi sejak dulu agar tubuhnya memiliki daya tahan saat dirinya diracuni, dan apabila ternyata racunnya lebih ganas, dia masih bisa bertahan sampai mendapatkan penawarnya.
Dia meminum obat itu untuk mengecek apakah wanita itu jujur atau tidak? Dan sepertinya wanita itu jujur karena sekarang lengannya mulai bisa digerakkan. Kalaupun dia tidak meminum obat itu, dia tidak akan mati, tubuhnya sudah mengenali jenis racun itu. Tubuhnya hanya memerlukan waktu untuk melawan efek racun itu.
Setelah merasa lebih baik, dia berjalan ke arah jendela kaca yang terbentang di depannya. Dia tidak khawatir akan ada yang menembaknya dari luar, kaca di kamar ini anti peluru dan kamar ini kedap suara. Karena itulah suara tembakan pistol Rose tadi tidak terdengar keluar.
Darius memberikannya kamar khusus di Volle Hotel ini untuk keselamatan dirinya. Kamar yang biasanya hanya dihuni anggota keluarga, dengan semua fasilitas tidak umumnya. Bahkan ada tas senjata, tas perlengkapan medis yang bisa melakukan operasi kecil dan lorong rahasia di dalam kamar ini. Sebenarnya yang mafia itu siapa? Pikir Diego lucu.
Dia menatap keluar yang penuh dengan lampu lampu gedung dan lampu kendaraan yang berlalu lalang dengan tatapan kosong. Sekali lagi dia dikhianati oleh orang kepercayaannya. Setelah adiknya meninggal dibunuh suaminya sendiri yang juga sahabatnya, dia sangat berhati hati dalam memberikan kepercayaannya. Tapi seperti inilah dunianya, selalu saja ada keserakahan yang membuat orang selalu menginginkan posisi yang lebih tinggi.
Sebelumnya ini hanya ada tiga orang yang dia percayai, asistennya Leonardo Ricci, salah satu senjata hidupnya Garry Kean dan si Jenius Darius Hartadi. Namun sekarang ternyata berkurang satu lagi. Dia tidak takut mati, hanya saja dia harus membalas kematian adiknya dulu sebelum dia mati. Dia harus menemukan Fernando Laruzzo dan membunuh pria itu!
Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Berangkat ke Jakarta sekarang” perintahnya.
“Baik bos” jawab pria di seberang telepon.
****
Rose menyelinap keluar dengan cara yang sama saat dia masuk. Dia menggunakan kartu akses Morin, Morin menitipkan kartu akses untuk masuk ke kamar khusus itu pada Sissy saat berangkat ke London, dan dia mencurinya semalam saat Morin memberitahu kalau Justin Ludovic akan ikut ke Jakarta dan akan tinggal di tempat ini selama pria itu berada di Jakarta.
Dia masih bingung mengapa pria itu tidak membunuhnya tadi? Apakah karena lokasinya di Volle Hotel? Dia tidak tahu mengapa bos mafia seperti Justin Ludovic bisa berteman dengan pria seperti Darius Hartadi? Setahunya Darius Hartadi sangat kaku dan tidak mudah memberikan kepercayaan, pria itu memegang teguh prinsipnya. Dia mengetahui cukup banyak karakter Darius Hartadi dari cerita Morin.
Awalnya dia pikir Justin Ludovic datang ke Jakarta untuk membunuhnya. Tetapi tadi pria itu bilang dia sudah menolak order untuk membunuhnya, dan pria itu tampaknya tidak berbohong. Untuk apa dia berbohong? Tidak ada untungnya untuk pria itu. Bagi bos mafia sepertinya, membunuh satu dua orang tidak masalah. Jika baginya orang itu pantas mati, ya itulah yang terjadi.
Ganjalan di hatinya sekarang adalah mengapa pria itu tadi tidak membunuhnya? Kalaupun sebelumnya pria itu menolak permintaan untuk membunuhnya, tadi dia yang terlebih dahulu menyerang pria itu!
“Pergilah. Berlatihlah lagi jika ingin membunuhku. Dengan kemampuanmu yang hanya seperti ini, membunuh ajudanku saja kau tidak akan bisa. Lain kali aku tidak akan berbaik hati seperti sekarang”
Rose mengepalkan tangannya saat teringat perkataan pria itu tadi. Apakah bagi pria itu dia terlalu lemah hingga tidak menjadi ancaman bagi pria itu? Sudah tiga tahun dia berlatih keras dan sekarang pria itu bahkan tidak menganggapnya layak dijadikan musuh!
Sialan! Lihat saja. Akan dia buktikan kalau dia layak menjadi musuh pria itu!
Rose menaiki mobilnya yang dia parkir di bagian belakang kawasan Volle Hotel dan melajukan mobil itu dengan cepat menuju kediamannya.
Sampai di kediamannya, dia berpapasan dengan Randall yang juga baru tiba di rumah itu. Mereka hanya saling menyapa dan masuk ke kamar masing masing.
Randall tidak pernah menanyakan kemanapun dia pergi karena memang mereka menikah hanya karena permintaan Arnold. Sebenarnya dia ingin melepaskan pria itu agar pria itu bisa menikahi kekasihnya, namun pria itu menolak. Katanya dia percaya kalau Arnold masih hidup dan sampai mayat Arnold ditemukan, dia baru percaya kalau pria itu sudah mati.
Andaikan dia bisa seoptimis Randall. Sudah sekian tahun berlalu sejak Randall mengatakan kalau Arnold ditangkap Justin Ludovic. Walaupun dia ingin percaya, tapi logikanya tidak bisa menerimanya. Justin Ludovic sudah diincar intel sejak lama, sehingga sedikit banyak dia mengetahui sepak terjang dan kekejaman pria itu. Bagaimana Arnold bisa selamat setelah ditangkap pria itu?
Tapi, jika memang sekejam itu, mengapa pria itu tadi tidak membunuhnya?
Dia tidak bisa tidur malam itu memikirkan alasan pria itu tidak membunuhnya tadi? Pria itu hanya mengatakan kalau dia ke Jakarta bukan untuk membunuhnya. Apakah pria itu memiliki target lain?
Dari semua informasi yang dia terima, tidak ada satupun yang mengatakan kalau pria itu memiliki belas kasihan, Justin Ludovic selalu menyingkirkan semua orang yang berani mengusiknya dan tadi dia bukan hanya mengusiknya tapi mencoba membunuh pria itu.
****
Diego sedang berada di dapur keluarga Hartadi setelah jam makan siang di hari sabtu, dua hari dari kedatangannya ke Jakarta. Keberadaannya disini adalah karena permintaan Morin agar dia membuatkan kue untuk teman temannya dan dia tidak akan menolak permintaan gadis itu. Lagipula, dia penasaran dengan Rose Willem Baskara, apakah wanita itu juga akan datang hari ini setelah pertemuan mereka dua hari lalu?
Dia mengobrol dengan Morin sambil menunggu teman gadis itu datang. Yang pertama datang adalah Sissy dan Jenny.
Sissy terlihat seperti wanita cantik pada umumnya yang bersemangat. Terlihat dari gerak geriknya yang tidak bisa diam. Gadis itu sangat ceria dengan senyum yang hampir selalu terpatri di bibirnya. Dia tidak secantik Morin dan Jenny, tapi ada aura positif dari wanita itu yang bisa membuat suasana menjadi hidup. Tapi saat melihat kerlingan nakal gadis itu pada teman temannya membuatnya menyadari kalau gadis ini juga pasti pembuat ulah, sama seperti Morin.
Teman satunya bernama Jenny. Dia secantik Morin, dengan wajah oriental, memiliki mata kucing yang menarik dan rambut hitam lurus sepinggang. Tubuhnya mungil tapi berlekuk. Saat melihat cara bicara wanita itu ketika mata mereka bertatapan, mata gadis itu bisa menyorotkan godaan halus yang bisa membuat pria sulit berpaling. Ditambah gerakan wanita itu yang terlihat rapuh, membuat pria merasakan keinginan untuk melindunginya. Dia tersenyum saat menyadari kalau wanita itu tahu cara memaksimalkan pesonanya untuk memperdaya pria agar mengikuti keinginannya.
Jika ditambah dengan Rose Willem Baskara, sepertinya teman teman Morin tidak seperti wanita kebanyakan, seperti gadis itu juga. Wanita normal mana yang berani memanipulasi Darius Hartadi secara terang terangan?
Yang berikutnya datang adalah Gavin Christopher Lucas dan istrinya Joanna Lisley Lucas yang dipanggil Jisoo oleh teman temannya. Sepertinya mereka penggemar girlband korea black pink, berarti ada satu wanita lagi yang bernama Lisa. Dia mengenal kedua orang itu, Gavin hampir selalu membawa istrinya setiap kali pria itu ke Inggris dan pria itu sangat protektif pada istrinya.
Setelah dia berbincang sebentar dengan Gavin, pria itu menghubungi Darius untuk membicarakan bisnis dan bersiap pergi untuk menyusul ke tempat Darius berada sekarang.
Dia lalu melihat Morin yang menarik tangan Joanna dan berbisik di telinga wanita itu, tidak lama wanita itu berlari mengejar suaminya sambil meneriakkan sesuatu.. Dia lalu menoleh pada Morin yang sekarang sedang tersenyum licik memperhatikan temannya yang sedang menghampiri suaminya itu.
Dengan penasaran, mata Diego terus mengikuti gerakan Morin yang sekarang sedang berjalan untuk menghampiri pasangan suami istri itu dan melihat Gavin Lucas yang sepertinya mengurungkan niatnya untuk naik ke mobilnya. Lalu dia melihat Morin berbicara dengan Gavin, kemudian Morin dan Joanna berseru kesenangan. Tidak lama kemudian mereka bertiga berjalan kembali ke arahnya dan Gavin bilang dia akan menunggu Darius di ruang tamu.
Dia menoleh pada Morin dan gadis itu menyeringai licik padanya. Hal itu membuatnya tersenyum, gadis itu selalu memamerkan senyum kemenangannya saat berhasil mendapatkan keinginannya. Gadis itu pasti berhasil memanipulasi Darius lagi!
Tidak lama yang dia tunggu datang. Rose Willem Baskara turun dari mobilnya dan mata wanita itu langsung menatapnya tajam. Dia menyungingkan senyum menawan yang membuat wanita itu sekarang menatapnya seakan ingin menelannya hidup hidup. Ah satu lagi wanita yang kebal pada pesonanya.
“Rose” katanya jutek saat mengulurkan tangan dan menatap sinis pada musuh bebuyutannya yang diperkenalkan oleh Morin sebagai Diego Marazzi.
“Diego” jawab Diego masih dengan senyum menawannya. Dia suka melihat wajah kesal wanita itu. Bahkan wanita itu sengaja meremas tangannya dengan kuat, sepertinya wanita itu berniat meremukkan tangannya.
****