BAB 17: RENCANA JUSTIN 1

1423 Kata
Rose melewati hari harinya di rumah sakit tanpa melakukan apapun yang berarti. Dia sudah bosan setengah mati setelah hampir dua minggu terkurung di kamar perawatan Justin. Dia hanya bisa keluar paling lama satu jam dalam sehari, yang biasanya dia gunakan untuk berjalan jalan di taman rumah sakit atau membeli perlengkapannya di minimarket atau menitipkan pakaiannya untuk di laundry. Sesekali dia meminta Dex untuk menemaninya berlatih. Dia terbiasa berlatih setiap hari, jadi jika tidak berlatih dua hari saja, maka tubuhnya malah akan menjadi pegal. Bukannya dia mau berlatih dengan pria paruh baya itu, tapi anak buah Justin yang lain tidak ada yang mau menemaninya. Setelah hampir dua minggu, Justin sudah bisa bangun dan melakukan aktivitas ringan. Dan itu membuatnya senang, karena pria itu juga sudah bosan sekali berbaring, jadi pria itu sering keluar kamar untuk melihat lihat dan dia juga bisa ikut keluar dari kamar terkutuk itu. Selama dia membantu merawat pria itu, pria itu sering sekali menggodanya. Dasar buaya darat! Walau sudah dia abaikan, tapi pria itu tidak juga berhenti menggodanya, hingga rasanya dia mau melempar barang apapun yang bisa dia raih ke wajah pria itu! Tapi kesadaran akan perintah Darius membuatnya menahan diri dari keinginannya untuk melakukan apapun pada pria itu. Bersabarlah Rose, sekarang dia sudah bisa bangun. Sebentar lagi dia akan pulang kampung buat mengurusi Leonardo Ricci, si pengkhianat di jaringan mafianya. Sebenarnya dia juga penasaran saat mendengar pembicaraan pria itu dengan Darius. Sepertinya pria itu memiliki dua musuh yang berkolaborasi untuk menghancurkannya. Dia memang merasa ada yang aneh dengan kasus percobaan pembunuhannya, tapi dia tidak berani bertanya pada Darius Hartadi tentang isi ponsel orang yang mencoba menembak Morin. Bukankah harusnya dia yang menjadi target? Mengapa malam itu mereka malah mengincar Morin? Tidak mungkin ada yang salah mengenali dia dan Morin, mereka sangat berbeda. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak benar disini? Dia melirik Justin yang sekarang sedang makan di ranjangnya sambil berpikir apakah ada tujuan lain dari percobaan pembunuhannya? Otaknya terus berputar dengan berbagai kemungkinan saat dia mendengar pria itu bicara lagi. “Apakah akhirnya kau menyadari pesonaku?” tanya Justin yang menyadari kalau Rose mendelik padanya sejak tadi. “Aku sedang berpikir cara apa yang paling memuaskanku saat membunuhmu” jawab Rose sinis. “Kau haus darah sekali sayangku. Bagaimana kalau kau ikut aku saja kembali ke Italia?” tanya Justin. “Agar aku bisa membunuhmu?” tanya Rose. Dia sudah menimbang sejak dia menolong pria itu sekali lagi dari usaha anak buahnya untuk membunuhnya, berarti hutang nyawa dia sudah lunas. Dia sudah bayar dua kali loh, jadi sudah termasuk bunganya. Karena dia sudah tidak memiliki hutang budi, berarti dia bisa kembali ke tujuan utamanya, memastikan Justin Ludovic mati di tangannya! “Hm.. Agar kita bisa terus bersama” jawab Justin dengan senyum menggodanya. Dia tertawa saat melihat Rose melengos sambil membuang muka. “Aku serius Rose, ikutlah denganku. Aku berencana untuk memulihkan diri di salah satu pulauku” kata Justin lagi. “Tidak, terima kasih. Cukup disini saja aku membantu mengurusmu. Lain kali jika kita bertemu lagi, itu artinya aku sedang memburumu” jawab Rose tanpa menoleh pada pria itu. “Kau yakin tidak akan merindukanku?” tanya Justin dan dia dihadiahi lemparan sepatu dari wanita itu. Untung saja sejak tadi dia memperhatikan wanita itu, jadi dia sempat menghindar. Sekali lagi dia tertawa, dia merasa wanita itu seperti sedang merajuk. Membuat wanita itu kesal sekarang menjadi salah satu hobinya, karena hal itu membuatnya terhibur. “Kalau begitu besok temani aku untuk pamit pada Morin” kata Justin setelah dia selesai tertawa. “Besok?” tanya Rose yang langsung menoleh pada Justin. Dia tidak menyadari kalau dia bahkan menyungingkan senyum manis dengan mata berbinar senang. Ternyata sebentar lagi itu adalah besok! Hari kebebasannya! Akhirnya dia bisa lepas dari bos mafia ini! Justin terdiam melihat wajah Rose yang sekarang terlihat sangat cantik dengan senyum menawan dan mata berbinar. Inilah ekspresi wajah wanita itu tanpa topeng esnya. “Kenapa kau melihatku seperti itu? Ada sesuatu di wajahku?” tanya Rose yang bingung melihat Justin masih terus menatapnya. “Kamu sangat cantik saat tertawa” puji Justin yang membuat wajah Rose merona. Wanita itu langsung membuang muka. Ah, satu lagi ekspresi malu malu menggemaskan wanita itu, ekspresi yang sama dengan saat teman temannya melihat saat dia baru mencium wanita itu. Rose langsung bangun dari kursinya dan berjalan cepat ke toilet. Dia duduk di kloset sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ya ampun! Dia bahkan tidak menyadari kalau dia tadi tertawa, dia memang sangat senang saat akhirnya dia bisa lepas dari pria itu! Dan saat pria itu memujinya tanpa nada menggoda seperti biasanya malah membuatnya semakin malu. Justin masih tersenyum saat melihat wanita itu salah tingkah dan berjalan ke toilet. Sepertinya menggoda wanita itu akan menjadi kebiasaannya sekarang, dia suka melihat wajah wanita itu tanpa topeng esnya. Senyumnya berubah menjadi senyum licik saat dia melihat pesan baru dari Dex di ponselnya. Bidak caturku sudah maju selangkah lagi, sebentar lagi kita akan bertemu Fernando. Kita lihat apa yang akan kau lakukan saat kau tahu ratumu ada padaku. **** Keesokan harinya Rose menemani Justin ke rumah Rosaline Hartadi untuk berpamitan pada Morin. Waktu yang dia tunggu tunggu akhirnya datang. Sejak kemarin dia sudah membayangkan aktivitas yang bisa dia lakukan setelah Justin pergi! Justin memberikan sebuah boneka kelinci berwarna abu gelap kepada Morin yang katanya adalah titipan dari Darius Hartadi yang sekarang sudah berada di London. Dia mengeryit melihat boneka itu, mengapa membelikan wanita boneka jelek begitu? Berwarna abu polos dan tanpa hiasan apapun, apalagi ukuran boneka itu juga agak besar. Tidak ada lucu lucunya sama sekali! Lebih mirip kelinci potong yang siap dijadikan sate. Morin memiliki banyak boneka kelinci cantik yang pasti akan membuat boneka ini menjadi si buruk rupa. Obsesi Morin pada Darius Hartadi sungguh membingungkannya. Walaupun pria itu pernah menyelamatkan nyawa sahabatnya dulu, tapi pria itu bahkan lebih tua dua puluh tahun daripada Morin. Pria itu juga sangat kaku dan tidak bisa berlaku manis pada wanita, bahkan sampai sekarang belum jelas apakah pria itu menyukai Morin. Mengapa juga Morin kekeuh mengejar pria itu? Padahal sangat banyak pria kompeten yang mendekati sahabatnya itu. “Rose, mengapa kamu masih mengikuti Diego?” tanya Morin saat meihatnya ikut pamit bersama Diego. “Aku masih harus mengurusnya sampai nanti sore saat pesawatnya berangkat” jawab Rose sambil tersenyum lebar. Sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk berpisah dengan Justin dan kroco kroconya, tapi kalau hanya beberapa jam dia akan menunggu. Dia tidak menyadari kalau Justin memperhatikannya. Tepatnya memperhatikan saat dia tertawa. “Oo baiklah. Jika kamu sudah senggang nanti kita jalan jalan lagi” kata Morin ceria dan dijawab dengan acungan jempol oleh Rose. **** Rose sedang memperhatikan anak buah Justin yang sedang merapikan barang barang mereka. Dia bersorak dalam hati karena sebentar lagi dia bebas! Hanya beberapa jam lagi dia harus berada diantara para mafia ini. Pria itu sendiri yang ingin pergi padahal masih belum sembuh, jadi Darius Hartadi tidak bisa menyalahkannya bukan? “Apa yang kau pikirkan sayang?” tanya Justin yang membuatnya melirik sinis pria itu. Dia sudah lelah membantah saat pria itu memanggilnya sayang. Jadi dia hanya melirik sinis saja setiap kali pria itu memanggilnya begitu. Sampai mati juga dia tidak akan mau sayang sayangan dengan musuhnya ini. “Memikirkan apa yang ingin kulakukan setelah mendapatkan kebebasanku” jawab Rose tersenyum puas. “Kau tidak sedih berpisah denganku?” tanya Justin dramatis yang membuat Rose melotot jijik pada pria itu. Tidak lama perawat masuk membawa camilan untuk mereka. Mereka benar benar diperlakukan seperti tamu di rumah sakit itu. Bahkan mereka bisa memilih makanan yang ingin mereka makan, koki akan memasak sesuai dengan permintaan mereka. Siang itu Rose memesan kue cokelat untuk camilannya. Dia berpikir hal pertama yang akan dia lakukan setelah selesai dengan semua ini adalah ke tempat olah raga. Disini dia makan terus dan tidak banyak bergerak, dia merasa perutnya mulai buncit. Semakin dia kesal, dia akan makan semakin banyak, alhasil celananya sudah mulai sempit. Kalori yang masuk tidak sebanding dengan yang dia keluarkan kalau hanya dengan sesekali berlatih dengan Dex. “Kami sudah siap Bos!” teriak Dex sambil masuk ke dalam kamar Diego. Rose sedang mengunyah kuenya saat Dex masuk sambil berteriak yang membuatnya tersedak. Dia mengambil air yang diberikan oleh Justin dan langsung menghabiskannya. Dia berdiri dan berniat mengomeli pria paruh baya itu yang sangat suka berteriak, namun tiba tiba dia merasa pandangannya berputar dan tubuhnya goyah. Seseorang menangkap tubuhnya sebelum kegelapan menenggelamkannya. “Bawa dia” perintah Justin pada Garry Kean. “Siap bos” jawab Garry sambil menggendong Rose yang sudah tidak sadarkan diri dari pelukan Justin. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN