POV YUKA
Aku terlonjak kaget ketika melihat Mas Aron tengah menikmati makanan yang tadi aku buat. Tak pernah kusangka sebelumnya, ternyata pemilik restoran ini adalah suamiku.
Ketika pandangannya bertemu dengan mataku, pupil matanya melebar. Sesaat kemudian, memicingkan mata menatapku dengan tajam.
"Kau yang buat ini?" Tanya Mas Aron dengan nada mengintimidasi seraya menuding makanan yang tadi ku masak.
"Iya." Aku mengangguk pelan.
"Ikut aku ke ruanganku," Titah Mas Aron seraya beranjak dari tempat duduknya. Mau tak mau aku tetap mengekor di belakang Mas Aron. Hatiku menjadi resah, entah hinaan apalagi yang akan meluncur dari bibirnya yang s*****l, tapi lebih tajam dari belati.
"Berani kau membangkang perintahku? ..." Seru Mas Aron setelah membanting panggulnya di kursi kerja. Bahkan, tanpa mempersilahkan aku untuk duduk.
"Maaf," hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku sadar posisiku saat ini salah, karena aku tak patuh pada perintah suami.
"Sudah ku katakan, kau tak perlu bekerja hanya untuk mengganti uang Ayahku. Setelah 6 bulan, pernikahan kita akan berakhir dan ku anggap hutangmu lunas. Kau bisa pergi dengan bebas," desis Mas Aron dengan gusar. Aku hanya menunduk, enggan untuk berdebat karena akhir dari perdebatan ini hanya akan menambah luka di hatiku.
"Apa jadinya jika karyawanku tahu kamu adalah istriku?"
"Kamu nggak perlu mengumumkan pada mereka kalau aku ini istrimu."
Memangnya seburuk apa aku mata Mas Aron sampai ia tak mau karyawannya tahu bahwa aku ini adalah istrinya.
"Sekarang kau berani memerintahku." Mas Aron menatapku dengan sinis.
"Kalau kamu nggak mau aku bekerja di sini, nggak apa-apa. Aku akan mengundurkan diri." Aku memang butuh pekerjaan, tapi aku tidak mau terus-menerus menggadaikan harga diriku.
Aku membuka celemek yang menutupi tubuh bagian depanku dan meletakkannya di atas meja kerja Mas Aron, lalu bergegas pergi. Aku memang butuh pekerjaan untuk melunasi semua hutang-hutangku padanya. Supaya aku cepat terbebas dari pernikahan yang hanya bisa menggores luka di hatiku.
Baru saja tangan ini menyentuh kenop pintu, Mas Aron sudah menarik tanganku. "Restoran ini butuh koki, kau bisa bekerja di sini."
"Nggak perlu, aku bisa bekerja di tempat lain!" aku menekan suaraku, karena geram.
"Kalau kamu bekerja di tempat lain, aku tidak bisa mengawasi kamu. Dan ini perintah. Rahasiakan hubungan kita pada siapa pun. Jangan sampai ada yang tahu kalau kamu adalah istriku."
Kalau dia tidak menganggap diriku sebagai istri, lalu aku ini apa? Figuran!
***
Keesokan paginya, setelah menyelesaikan semua tugas membersihkan rumah dan membuat kopi serta sarapan untuk Mas Aron di rumah, aku sudah siap untuk pergi bekerja. Ku putuskan untuk menunggu angkot di tepi jalan demi menghemat biaya transportasi. Namun, bukan angkutan umum yang berhenti di depanku, tapi malah mobil pribadi suamiku. Perlahan tapi pasti, kaca jendela mobil mulai terbuka.
"Masuk," titah Mas Aron. Tatapan Mas Aron lurus ke depan, jangankan memandangku, melirikku pun tidak.
Tak mau mengundang keributan, aku pun masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan hening. Bagiku, suasana sangat canggung. Aku seperti duduk di sebelah patung yang bernyawa. Aku mengamati pemandangan lewat jendela mobil, sederet pertokoan berjajar rapi di tepi jalan. Rintik hujan mulai turun menutupi beningnya kaca jendela. Setelah beberapa saat berlalu, mobil berhenti melaju. "Turun."
Seketika aku menoleh saat mendengar perintah dari suamiku. Apa aku tidak salah dengar, dia menyuruhku turun di sini, sedangkan restoran masih cukup jauh.
"Di di sini?" tanyaku.
"Aku tidak ingin ada karyawan yang tahu kalau kau adalah istriku. Bagaimana jika ada yang melihat kita dalam satu mobil yang sama," ucap Mas Aron tanpa perasaan.
Ku coba untuk menahan kristal bening yang berdesakan ingin keluar dari mataku. Secepat mungkin, aku turun dari mobil. Aku tak ingin meneteskan air mataku di hadapan Mas Aron.
Mas Aron benar-benar tak peduli padaku. Begitu kakiku berpijak di jalanan beraspal, mobil yang baru saja ku tumpangi melesat begitu saja meninggalkan aku, seolah aku ini hanya beban yang baru saja ia buang. Air mataku kembali mengalir, aku merasa tak di hargai sebagai seorang istri.
Aku melihat jam di layar hpku. Masih sisa 35 menit, jam masuk kerjaku. Aku ingin memesan ojek online, tapi hp ku tak ada sinyal. Mungkin karena cuaca sedang mendung. Ku putuskan untuk berjalan kaki ke restoran. Jika ada angkot lewat, aku pasti akan naik angkot.
Rintik hujan kembali turun, aku berlari menuju restoran sebelum pakaianku basah. Untung saja restoran tempatku bekerja sudah sangat dekat.
***
Sesampainya di restoran, aku berbaris rapi dengan karyawan yang lain. Manager tempatku bekerja memberi wejangan untuk melayani pelanggan restoran dengan baik, sesuai dengan pelayanan prima.
Setelah mendengar ceramah di pagi hari, aku mulai mengeksekusi bahan makanan di dapur. Waktu di pesantren dulu, aku adalah cantrik. Tak hanya menimba ilmu agama, aku juga mengabdi pada keluarga kiyai. Selain mengharap barokah dari guru, dengan menjadi Cantrik, aku tak perlu membayar biaya di pesantren. Di pesantren, aku sering membantu membuat makanan untuk keluarga kiyai dan juga guru tugas. Alhamdulillah, masakanku di sukai oleh keluarga kiyai dan juga guru tugas.
Saat adzan berkumandang, aku meminta izin pada koki senior untuk sholat.
"Mbak, udah adzan dhuhur. Sholat, yuk." Aku coba mengajak mbak Sulis untuk beribadah.
"Aku masih muda, sholat nanti saja kalau udah cukup usia." Tolak mbak Sulis, tangannya masih sibuk mengaduk makanan di penggorengan.
"Kematian itu nggak mengenal usia tua atau muda, Mbak!" aku coba mengingatkan prinsip mbak Sulis yang keliru.
"Udah deh, nggak usah ceramah. Nanti kamu nggak nututi untuk sholat jamaah."
Aku mengambil tas di laci yang berisi pakaian suci untuk aku beribadah di masjid yang letaknya tak jauh dari restoran. Aku keluar dari restoran. Begitu sampai di parkiran mobil, aku di kejutkan dengan seorang pria yang merangkul leherku.
"Hey, Yuka. Apa kabar? Lama tak jumpa."
"Lepasin." Aku menyentak tangan Mas Hirka hingga terlepas dari leherku.
"Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini." Mas Hirka terkekeh melihatku.
"Mas Hirka kok, ada di sini?" tanyaku dengan nada ketus. Aku sempat terkejut, lama tidak bertemu tiba-tiba ia muncul di Jakarta.
"Galak bener. Yang sopan, dong!..." Mas Hirka kini merangkul lenganku.
"LEPASKAN DIA."
Aku terperanjat kaget ketikan mendengar nada sarkas Mas Aron.
Mas Hirka mengerutkan kening, lalu membawaku balik badan ke belakang. Mas Aron menatapku dengan tajam. Pandangannya begitu menusuk pada tangan Mas Hirka yang merangkulku. Aku kembali menarik tangan Mas Hirka yang membelengguku, hingga terlepas.
"Memangnya kenapa? Apa urusanmu?..." Tanya Mas Hirka dengan senyum mengejek.