Masa lalu ada untuk dikenang dan tak bisa diulangi
Dan masa depan ada untuk diperjuangkan
Agar tak ada lagi kesalahan terulang seperti dulu...
***
Makan malam di sebuah resto tengah kota, biasanya jadi favorit Disya. Tapi kali ini ia justru bosan setengah mati. Baru beberapa hari tiba di Jakarta. Sudah dapat titah dari ibunda ratu yang menurutnya amat menyebalkan. Kalau saja Disya membangkang lagi, ia khawatir Rahayu akan masuk rumah sakit untuk kedua kali dalam setahun ini. Lebih baik dirinya mengalah, guna mengantisipasi marabahaya yang kapan saja bisa menyerang ibunya itu.
Sebenarnya, yang membuat Disya kesal adalah pria di hadapannya. Namanya Arif. Dibilang tampan tidak terlalu. Dibilang putih juga jauh. Tatanan rambutnya klimis belah tengah ala jaman dulu banget. Tapi lumayan masih pantas kalau dikenalkan ke mana-mana. Minimal kantongnya tebal. Begitu kata kebanyakan orang yang pernah kenal Arif. Bukan tampang yang jadi masalah bagi Disya sekarang. Namun, ia terlanjur tak menyukai sosok di depannya. Arif itu anak kesayangan di keluarganya. Bisa dibilang lumayan manja. Padahal ia laki-laki tulen. Harusnya lebih mandiri. Ke mana-mana harus disertai orang suruhan ibunya. Katanya supaya lebih aman. Istilah kerennya bodyguard.
Mana mau seorang Disya dengan pria lemah gemulai macam itu. Membayangkan saja kepalanya sudah sakit bukan main.
"Disya suka jalan-jalan ke mana?" tanya Arif sambil mesam-mesem. Ekspresinya sungguh menggelikan dipandang mata. Sesekali mata pria itu tampak jelalatan bila ada wanita seksi lewat di sekitaran.
"Kepo banget! Buruan lo abisin itu makanan! Gue nggak napsu makan!" keluh Disya makin tak suka.
"Jangan galak-galak dong. Nanti Mas Arif takut loh sama kamu," balas Arif menyebut dirinya sendiri dengan panggilan mas. Jelas saja Disya makin mual mendengarnya.
Kalau modelnya begini, gue lebih rela dinikahin sama Abrar dah! Seenggaknya si Abrar lebih kelihatan normal! Rutuk batin Disya bermonolog.
Selang beberapa menit, tiba-tiba dua orang pria datang hampir bersamaan. Keduanya bergantian beberapa saat, menghampiri Disya sambil berkacak pinggang.
"Oh gini ya kamu di belakangku? Selingkuh sama cowok ambigu kayak gini? Apa mata kamu udah kelilipan? Masih kurang apa dua cowok?" celoteh si pria berbaju biru navi.
Disya bingung. Ia tak mengenal pria tersebut sama sekali. Sedangkan Arif berdiri dan memanggil asistennya yang ternyata adalah pakleknya sendiri.
"Eh sampean siapa? Berani ganggu calon bojoku?!" omel Arif dengan bahasa campur aduk dan logat Jawa yang medok.
"Idih! Siapa juga calon istri lo!" protes Disya tak terima.
Selagi Arif dan pakleknya sibuk saling bicara entah apa, sebab mereka tampak adu argumen tak jelas. Si pria berbaju biru navi ambil kesempatan untuk berbisik pada Disya. Barulah gadis itu mengerti sesuatu. Sontak Disya pura-pura minta maaf dan merasa sangat bersalah. Arif jadi bingung.
"Kamu kenal cowok ini?" tanyanya.
"Kenal lah. Pacarku nomor dua ini. Yang nomor satu bentar lagi datang."
Benar saja. Seorang lagi datang mendekat. Arif merinding. Tak menyangka Disya adalah tipikal gadis yang suka berkencan dengan beberapa pria sekaligus. Seketika ia pun lansung meminta pakleknya menghubungi sang ibu di Jogja.
"Aku nggak mau punya istri playgil kayak kamu! Kita putus!" katanya songong. Sampai-sampai lupa huruf r dalam kata playgirl.
"Sorry? Kapan kita jadian?" Disya mengibas rambutnya tak peduli. Tak lama Arif pun berlalu dengan muka masam bersama pakleknya, yang masih sibuk mengadukan nasib sang keponakan pada ibunya.
Mereka tertawa sambil bertos ria. Disya pun berterimakasih dan berkenalan dengan dua pria asing yang membantunya. Mereka adalah teman Abrar. Sengaja diutus sang kawan untuk melancarkan niat Disya membatalkan perjodohan. Ia tahu, Rahayu keras kepala. Satu-satunya jalan hanya membuat Arif sendiri yang mundur teratur.
Mereka pergi begitu Abrar datang dan menyodorkan bingkisan pada teman-temannya. Disya dan Abrar duduk melahap makanan yang baru dipesan ulang. Menikmati hidangan sambil membahas betapa kocaknya wajah Arif waktu melihat Disya dan dua pria tadi.
"So, kita bahas persoalan kemarin. Berhubung lo juga udah setuju."
"Memangnya lo beneran naksir gue banget ya?" Pertanyaan Disya benar-benar luar biasa santai. Ia tak tahu saja sekeras apa Abrar menahan hal tersebut selama ini. Sesakit apa ia menanggung cinta sebelah pihaknya. Sekecewa apa batinnya mendapati gadis yang dicintai selalu mengejar orang lain. Dan bukan dirinya.
Seolah dunia Disya hanya berputar pada satu poros. Adit. Di sisi lain, dunia Abrar hanya bertuju pada satu sudut, yaitu Disya. Sungguh cinta segitiga yang rumit dijelaskan. Bahkan rumus Pythagoras pun agaknya tak akan mampu menjabarkan hasil akhirnya akan seperti apa.
"Lo nanya buat apa?"
"Memastikan aja. Barangkali lo cuma bercandain gue, supaya gue terhibur."
"Apa lo pikir ciuman gue juga lelucon? Atau lo anggap gue cowok penghibur?" balas Abrar. Kalimatnya membungkam Disya untuk beberapa saat. "Kalau lo masih nggak percaya, gimana kalau kita ke KUA aja?"
"Buat apa ke sana?"
"Ajuin nikah. Sebagai bukti kalau gue serius sama lo. Bukan cuma candaan atau main-main doang."
Mendengar ucapan Abrar, Disya kalang kabut. Jantungnya panas dingin seperti teh hangat masuk kulkas. Hampir pecah belah gelasnya bila yang dipakai adalah jenis cangkir kaca tipis. Untung hati Disya masih bisa menetralisir lonjakan dalam dadanya.
"Gue belum kepikiran lagi. Dulu sempet pengen nikah muda. Tapi semenjak kasus kak Laras diselingkuhin suaminya. Ngeri bayangin kalau itu kejadian juga di gue. Apalagi sempet mergokin mantan jalan bareng cewek lain. Sakitnya masih double berasa," jelasnya panjang lebar.
"Mantan ya mantan. Ngapain lo cemburuin? Ngapain juga lo pikirin? Sebaik itu apa dia buat lo?"
"Kalau ngelupain seseorang bisa segampang ngapalin harga gorengan di pinggir jalan, mungkin gue nggak akan segalau ini."
"Apa sih yang bikin lo nggak bisa lupa sama dia?"
"Bukan nggak bisa. Tapi belom bisa. Hati tuh bukan halaman buku, yang bisa kita bolak-balik sesuka hati. Habis dibaca terus lupa isinya apaan," seloroh Disya sembari menikmati es krim strawberrynya.
"Gimana kalau gue kasih terapi move on khusus buat lo?"
"Terapi move on? Apaan tuh?"
"Ya semacam terapi buat bantuin lo, supaya cepet lupa sama mantan gitu."
"Ada ya kayak gitu?"
"Ada dong. Abrar kan serba bisa."
"Caranya?"
Abrar tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Kemudian berdiri dan beranjak menuju panggung musik. Ia tampak berbicara dengan kru musik, lalu menggantikan si penyanyi yang mundur ke belakang.
"Malam ini gue lagi sama seseorang paling spesial di hati gue. Tapi, dia masih inget sama mantannya."
Terdengar sorakan bergemuruh mengisi ruangan indoor resto. Mereka tampak antusias mendengarkan suara Abrar yang jelas seperti curhatan umum.
"Dan malam ini juga, gue pengen usahain dia sepenuh hati. Nggak apa dia belum bisa lupa sama masa lalunya. Asalkan, gue punya kesempatan buat ada di masa depan dia. Waktu pasti bakal memihak kalau kita berjodoh." Ia menghela napas sebentar. Lalu melanjutkan kalimatnya. "Ini lagu buat dia..." ujarnya sembari menunjuk sosok gadis di bangku pojok.
Suara tepukan tangan menyambut kesungguhan harapan Abrar. Lantunan musik mulai menggema. Disya masih tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar. Tanpa sadar, suara merdu Abrar mengantar segala kenangan mereka kembali hadir di ingatan. Pahit manis, suka duka, tangis tawa. Segalanya bersatu dalam kepingan memori. Gadis itu menyadari sesuatu. Tempat Abrar sebagai kilasan balik, rupanya lebih mendominasi ketimbang Adit.
**
Datanglah bila engkau menangis
Ceritakan semua yang engkau mau
Percaya padaku, aku lelakimu
Mungkin pelukku tak sehangat senja
Ucapku tak menghapus air mata
Tapi 'ku di sini sebagai lelakimu
Akulah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Akulah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti
Sudah benarkah yang engkau putuskan
Garis hidup sudah engkau tentukan
Engkau memilih aku sebagai lelakimu
(Virza-Aku Lelakimu)
**
Detik itu pula Disya mengerti akan artinya kehadiran seseorang. Ia mengulum senyum tipis. Dipandanginya Abrar yang masih melantunkan lagu milik Virza di atas panggung. Ia bahkan baru sadar, pria itu memang serba bisa. Bahkan menyanyi pun bukan hal sulit baginya. Ketika musik memasuki reff kembali. Putaran waktu seakan mengajak Disya mengulas sebuah reka adegan di masa lalu bersama Abrar. Kenangan ketika mereka di pantai Beras Basah, Kalimantan Timur. Menikmati semilir angin senja. Berdua menatap pulangnya sang surya ke peraduan.
"Orang bilang gue memang serba bisa. Tapi sebenernya, gue cuma cowok biasa. Pengen terlihat dan pengen berarti buat seseorang."
"Tunjukin lebih jelas dong."
"Udah. Cuma dia nggak pernah peka."
"Udah coba bilang?"
"Soal?"
"Perasaan lo sebenernya."
"Gue pengen bilang, kalau dia udah punya niatan nggak ngejar cowok lain lagi."
"Apa rencana lo buat dia nanti?"
"Sederhana aja. Gue pengen bikin dia bahagia. Syukur-syukur kalau bisa ajakin dia tanda tangan di buku nikah yang sama."
Tepat saat lagu selesai. Disya menyadari kebodohannya sendiri. Ia tak menyangka seseorang yang dimaksud oleh Abrar selama ini ternyata adalah dirinya sendiri.
=======♡ Really Lover ♡=======
Sekilas sapa_
Duh, ini absurd banget kayaknya ya?? #ditimpukmasal #peace
Thanks buat yg selalu setia ngikutin ceritaku. Kalian kasih semangat tambahan buat aku.
Jangan sungkan share link ceritaku ke sosmed kalian, buat ajakin temen-temen kalian ikutan baca. Hehe. Uwuwu.
Tetap bahagia dan semoga sehat selalu ya buat kita semua. Keep strong gais!!
============================