Bab 9

532 Kata
Gilbert bisa melihat betapa tersiksanya hatinya dari tatapan mata, rapuhnya perasaan ketika bola mata Inzel berkaca-kaca, wanita itu hanya diam, tatkala ia menindihnya dengan memandang penuh haru. Bibir Gilbert hendak mencium kembali, namun suara bel berbunyi, lelaki itu pun berdiri mengepalkan tangannya kuat-kuat membuka pintu dan langsung memberikan tonjokan kasar, "pergilah! sudah kubilang pergilah!" "Apa kau gila? memukul bodyguard mu sendiri?" Farro memegang bekas tonjokan yang diberikan Gilbert. Gilbert memijat keningnya sendiri merasa bersalah, "astaga aku tidak tahu jika itu kau, ayo masuklah!" Teringat sesuatu bahwa wanita itu belum memakai baju, hanya memakai kaos miliknya yang tak senada dengan tubuh Inzel ditambah boxer. Gilbert menahan pergelangan tangannya untuk menahan Farro, yang ingin masuk, "tunggulah sini! ayo cepat berikan bajunya!" Farro pun menuruti nya memberikan hasil belanjaan yang baru saja ia beli karena Gilbert menyuruhnya, Gilbert juga memerintah agar tidak masuk terlebih dahulu dan menunggu di luar. Diberikan satu kotak entah apa isinya dengan terbungkus sebuah tas, "baiklah pakailah ini!" Lengan-lengan kekarnya ingin mengendong Inzel kembali, namun ditahan oleh Inzel, "tidak, aku bisa berjalan." "Kau yakin?" Tanya Gilbert. Inzel pun berdiri dari sofa, sedangkan Gilbert hanya tertawa melihat tubuh kecilnya memakai kaos dengan boxer miliknya, sungguh wanita ini seperti anak hilang 100 tahun lampau. Wanita itu berjalan membelakangi nya, "emm tunggu." membuat Inzel berbalik badan dan memasang wajah datarnya. "Ya," balas Inzel dengan lembut. "Siapa namamu?" "Rinziel Finty, tapi kau bisa memanggilku Inzel." ucap Inzel lalu melanjutkan langkah kakinya. Gilbert menganggukan kepalanya berulang kali dan terus memanggil nama Inzel, Inzel, Inzel dari bibirnya. Suara bel dari luar memecah lamunannya, oh ia dia hampir lupa bahwa Farro di depan menunggu. Membukakan pintu apartment disusul Farro yang masuk dan langsung mengambil  peralatan obat untuk pereda nyeri di wajahnya. "Kau semakin kuat setelah bercinta ya kawan." Ucap Farro dengan menempelkan beberapa cairan dingin di hidungnya. Gilbert pun yang mendengar nya tertawa terbahak-bahak, "hanya reflek." Niatnya adalah memberitahu siapa wanita bernama Inzel itu tapi Gilbert memikirkan kembali rencananya, lebih baik waktu lain saja lebih mendalam dan tentu empat mata. Seorang wanita berkulit putih tanpa alas kaki berjalan keluar dari kamar dengan wajah polosnya, tak ada riasan di wajahnya namun wajah khas imutnya itu sungguh menggemaskan. Gilbert yang asal mula melihat Farro mengobati lukanya sendiri menjadi diam tak berkedip ketika harus beradu pandang dengan wanita itu. Bagaimana tidak tertegun, ia memakai dress maroon yang mengingatkan dirinya dengan Khansa mantan kekasihnya, terlebih itu adalah warna favorit nya. "Aku tahu kau mengingat Khansa, tapi ayolah Gilbert, kawanmu ini sudah berusaha membuatmu lupa, aku sengaja membelikan warna merah agar bayangan mu berpindah pada wanita itu," Farro yang sedikit melirik dan berbicara dalam batinya. Farro selalu ingin melihat Gilbert melupakan Khansa, bahkan segala apapun cara itu, tapi apakah ia mengerti bahwa ulahnya benar atau tidak? "Kau sangat cantik," puji Gilbert terus memandangi Inzel. "Terimakasih tuan, tapi saya pikir saya harus pulang ke apartemen saya," Inzel mencincing alas kakinya di tangan kiri. Oh ya? Pulang? Setelah melihat kejadian yang dilihat kemarin, bolehkah Gilbert membiarkan wanita itu pulang? Inzel terus berjalan hingga tepat melewati Gilbert, namun tangan Gilbert menahan, "tidak! kau tidak boleh pulang kau harus bersamaku." Gilbert dengan cepat menyuruh Farro mempersiapkan mobilnya, sedangkan Inzel masih tak bisa bergutik karena lelaki disamping menahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN