Entah sudah berapa lama lelaki ini menyendiri di kamarnya, rasanya ia tak pernah bosan dengan hal itu bahkan menyendiri membayangkan Inzel adalah suatu rutinitasnya. "Earnest " panggil Jasmine dari belakang tubuhnya. Jujur saja pria itu mulai sedikit kasihan dengan Jasmine yang selalu menemaninya"ada apa " balasnya. Jasmine memeluknya dari belakang dengan lembut "aku mencintaimu Earnest, aku tidak perduli kau duda .. kita bisa mengadopsi anak bukan " "Apa yang membuatmu senekat ini " tanya Earnest. Pria itu membalikan badannya melihat wanita di depannya menangis "kau yakin ingin mencintaiku?" Imbuhnya dengan mengusap air matanya. Wanita di depannya hanya mengangguk pelan"aku sangat yakin " Tangan kekar Earnest memeluknya , mengecup pucuk kepalanya , yakinlah Inzel takkan pernah ia l

