POV Adrian. Hari ini, aku kembali melakukan hal yang sama dengan kemarin. Ya, kemarin aku menguntit Ara, mengikutinya seharian kemanapun dia pergi. Tentu saja aku merasa kesal dengan apa yang aku temui dari penguntitanku, dia yang aku ikuti terlihat begitu bahagia berjalan-jalan dengan seseorang yang, jelas terlihat bahwa orang itu jauh lebih tua darinya. Aku tidak akan berpikir kalau itu adalah Ayahnya, karena aku tahu Ara kini hidup seorang diri. Pikiran buruk sempat terlintas di pikiranku, “Apa dia suka sama om-om?” Namun pikiran buruk itu segera tertepis oleh perasaan yang aku miliki pada Ara. Kemarin, aku menuggu selama tiga jam. Ara masuk ke sebuah rumah yang aku tebak adalah rumah dari laki-laki itu. Aku tidak memiliki alasan untuk berjalan dan mengetuk pintu rumah itu hanya untu

