Ara terjaga, tatkala alarmnya berdering menyentuh indra pendengarnya. Dengan mata sayu, Ara meraba dan mematikan alarmnya. “Hem?” meski kesadarannya belum sepenuhnya kembali, namun Ara menyadari bahwa ada yang berbeda pagi ini. Pagi ini ia terbangun tanpa kehadiran Adrian disampingnya. Kemanakah Adrian yang biasanya memeluknya dengan nyaman setiap ia terbangun. “Sayang..” Panggil Ara sembari beranjak dari pembaringannya, ia meraih ponsel berniat untuk menelfon suaminya, namun jam digital yang tertera di ponselnya membuat Ara dengan mata sayunya, harus mengumpulkan kesadarannya penuh untuk memastikan kebenaran yang ia lihat. “Alarmku baru saja bunyi kan? Tapi ini kenapa sudah jam tujuh? Apa aku salah menyetel alarm?” Niat Ara untuk menelfon Adrian teralihkan dengan kebingungannya melih

