Bertemu

1130 Kata
Perlahan, Ara mulai terbiasa berbaur dengan teman-teman Adrian yang baru saja ia temui hari ini. Senyum manisnya tidak pernah berhenti melingkar di bibir tipisnya. Membuat Adrian yang berdiri di sampingnya sesekali melirik untuk bisa menikmati pemandangan akan cantiknya Ara malam ini. Dari kejauhan, terlihat tuan rumah dari pesta yang sedang berlangsung itu, berjalan menghampiri mereka. Ya, Axel terlalu sibuk menyapa tamu-tamunya, hingga butuh waktu sepuluh menit Adrian berbaur dengan yang lainnya, barulah Axel ada kesempatan untuk menghampiri. “Wah.. Akhirnya ada yang datang membawa pasangan nih?” Axel menghampiri dan mulai menggoda Adrian melihat Ara yang dengan manis berdiri di samping Adrian. “Kenapa? Tidak masalah kan?” Axel tertawa kecil. “Tentu saja tidak, aku malah seneng kalau ada yang datang bawa pasangan, setidaknya media yang datang meliput peresmian hotelku bisa melihat kalau aku memiliki banyak tamu. Meskipun sebagian tamunya tidak aku kenali” Tawa kecil menutup perkataan Axel. Percakapan Axel tidak berhenti disitu saja. Adrian dan Axel memulai ritual mereka setiap bertemu, pembahasan bisnis, jual beli saham, hingga urusan bisnis sampai luar negri juga tak luput dari pembahasan mereka. Ya, mereka yang sedari kecil bermain di dunia yang seperti itu tentunya mudah saja terbawa suasana jika yang dibahas adalah perihal bisnis. “Aku mengundang Revano, tapi sepertinya belum datang” Axel melemparkan pandangannya pada pintu masuk. Ara terkejut mendengar nama Revano. Tentu saja nama Revano tidak dimiliki hanya satu orang, tapi tetap saja ada kemungkinan Revano yang dia kenal muncul di pesta itu. “Revano?” Tanya Adrian memperjelas, sepertinya ia tidak mengenali nama Revano, atau mungkin lupa. “Ah, dia bukan dari alumni. Tapi  kukira kau bakal langsung mengenalinya, karena dia bukan orang baru” Adrian terdiam sejenak, mencoba mengingat siapa wajah dari pemilik nama Revano itu. “Ah itu dia..” Tunjuk Axel ketika pandangannya menemukan sosok Revano. “Wah bawa pasangan juga. Aku tidak merasa mengundang kalian sambil menyebut keterangan Ny.(Nyonya) dibelakang nama kalian. Tapi kenapa kalian datang membawa pasangan semua” Ara enggan berbalik, seuntas doa dia ucap dalam hati berharap bahwa Revano yang di maksud, bukanlah orang yang dia kenal. “Ah, maksudmu Erlangga..” Kata Adrian memperjelas. Dia lebih mengenal Revano dengan nama belakangnya. “Kau kebiasaan” Celetuk Axel. Adrian hanya tertawa kecil mendengar sindirian Axel, sedang Ara yang sudah tahu pasti bahwa itu adalah Revano mantan kekasihnya, berusaha mengatur ekspresi dan perasaannya. Sejenak Ara kebingungan harus bersikap seperti apa. Gerak gerik Ara yang sebelumnya terlihat santai, kini mulai berubah. Adrian yang menyadari itu, perlahan menarik tangan Ara dan menggenggamnya, mencoba memberi ketenangan pada Ara meski ia tidak tahu apa yang menyebabkan wanita disampingnya itu menjadi sedikit gelisah. Ara menoleh, menatap Adrian yang menggenggam erat tangannya. Namun Adrian yang kembali larut dalam obrolan bersama Axel sembari menunggu Revano di tempat mereka, tidak melihat Ara yang kini tengah memandangnya. Dengan jelas dimata Ara melihat, bagaimana wajah tampan dan maskulin milik Adrian, rahang yang lurus dengan alis yang tebal, begitu indah terlukis di wajah mulus milik Adrian. Meski beberapa cacat di wajah Adrian, namun itu tidak membuat Adrian terlihat buruk, malah perbedaan kelopak mata kanan yang mono eyelid, dan mata kiri yang double eyelid, menambah kesan yang berkharisma pada Adrian. Ara tersenyum setelah menyadari, meski Adrian sibuk berbincang dengan temannya, perhatiannya juga tidak luput darinya. Adrian mungkin saja asyik dalam perbincangannya, tapi tetap saja ia tidak melepas perhatiannya dari Ara, terlihat dari bagaimana Adrian menggenggam tangan Ara, saat perempuan itu mulai gelisah. “Wah, thankyou karena kau sudah menyempatkan diri untuk hadir” Sambut Axel sembari mengulurkan tangannya. Revano pun dengan cepat meraih tangan Axel dan menjabatnya. “Tentu.. Haha terus terang saja, selain aku datang untuk mengucapkan selamat untukmu, aku juga datang untuk bertemu dengan orang-orang hebat yang pastinya banyak di pesta ini” Revano dengan senyumnya yang melingkar memperlihatkan sifat friendly-nya. Sebuah obrolan yang membuat Ara sedikit mengerti perihal dunia yang dimiliki Adrian, dan juga Revano. Selama ini, meski Revano sering membawanya ke sebuah pesta, namun tidak pernah untuk sebuah pesta yang menghadirkan orang-orang hebat seperti ini. Dia tahu bahwa mantan pacarnya itu adalah orang yang hebat dalam bisnis, hanya saja dia tidak pernah berpikiran jauh bahwa seperti ini lah Revano yang dia kenal dengan kehangatannya jika berada diluar bersama teman-temannya dari kalangan bisnis. “Kalian datang dengan membawa pasangan masing-masing, apa kalian sedang pamer?” Goda Axel sembari melirik Alesha yang rupanya ikut pada pesta itu. Alesha hanya balas tersenyum tatkla Axel menyambutnya dengan senyuman. Revano hanya tertawa kecil mendengar godaan Axel. “Adrian, sudah lama sekali tidak bertemu, meskipun aku sering kali melihat iklan bisnis propertimu wara wiri di media. Atmajaya sepertinya semakin sukses dibawa ke pemimpinanmu” Puji Revano sembari mengulurkan tangannya. “Iya, terakhir kali kita bertemu sewaktu pembukaan saham Renako ke publik. Kau juga semakin melebarkan sayap sekarang” Jawab Adrian kembali melempar pujian sembari menjabat tangan Revano. “Hahaha tidak juga, cuman..”... Revano tak melanjutkan ucapannya tatkala menemui sosok yang tidak asing baginya, berdiri di samping Adrian. Postur tubuh Adrian yang tegap dan dengan d**a yang bidang, cukup membuat wajah Ara terhalang dari pandangan Revano. Barulah setelah Ara tanpa sengaja sedikit bergeser, Revano melihatnya. “A-ara??” Revano memperjelas, bahwa yang berdiri di samping Adrian itu adalah benar Ara, wanita yang menjadi mantan kekasihnya setelah memergokinya berselingkuh. Alesha yang sedari tadi hanya tersenyum turut mendengar percakapan Revano, juga terkejut melihat Ara. “Ka-kamu disini?” Tanya Revano. Ara hanya tersenyum, meski ia sudah diselimuti dengan rasa gugup. “Kau kenal?” Tanya Axel kebingungan. “Iya, kami saling mengenal” Kata Ara mewakili jawaban dari pertanyaan yang diajukan untuk Revano. Adrian menoleh menatap Ara, jelas sekali Adrian melihat bagaimana Ara tengah berusaha mengondisikan perasaannya. Tangan Adrian yang sedari tadi menggenggam erat tangan Ara, dia lepas. Dan berpindah tempat kepundak Ara, menarik Ara sedikit pelan agar lebih dekat dengannya. Seolah memberi penjelasan, bahwa Ara adalah wanitanya. “Kenapa kamu datang kesini bersama Adrian?” Tanya Revano masih tidak mengerti bahkan setelah melihat perlakuan Adrian pada Ara. “Ya untuk apalagi kalau bukan untuk menemani Adrian. Kau saja datang bersama wanitamu, ya sama halnya dengan Adrian yang datang bersama pasangannya” Timpal Axel. “Pa-pasangannya??” “Iya, apa kau pikir Adrian akan merangkul mesra seperti itu kalau bukan karena Ara adalah kekasihnya?” Jelas Axel yang kebingungan melihat Revano yang terlihat heran akan keberadaan Ara. Tatapan terkejut yang sedari tadi Revano perlihatkan, juga terlihat dari mata Alesha. Sesekali Alesha mengalihkan pandangannya dari Ara dan balik menatap Adrian. Seolah tidak percaya, bahwa Ara akan bersama dengan orang hebat seperti Adrian. Revano mengalihkan pandangannya, masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Panggilan seseorang membuat mereka yang tengah berkumpul mengarahkan pandangan ke sumber suaranya. Rupanya acara inti dari pesta itu akan segera di mulai. Axel yang dipanggil pun berlari kecil menghampiri. Tak ada lagi obrolan setelah Axel berlalu. Revano maupun Adrian sama-sama terdiam dan hanya menatap ke arah Axel yang mulai menyampaikan beberapa kata di atas sana. Ara masih berusaha mengatur perasaannya, juga Revano yang berdiri tepat disamping Adrian sepertinya tengah bergelut dengan pikirannya. Revano meninggalkan Alesha yang masih berdiri di tempatnya, sedikit terdengar saat Revano izin pada Alesha bahwa dia butuh segelas air. “Aku perlu ke toilet, aku tinggal sebentar tidak apa?” Adrian pun izin untuk meninggalkan Ara sejenak. Ara mengangguk sembari tersenyum. “Aku pasti cepat kembali, rileks dan nikmati pestanya” Pesan Adrian sebelum meninggalkan Ara sendiri. Ara hanya memandangi punggung Adrian yang semakin menjauhinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN