ProLog

637 Kata
Seorang pria tampan kini sedang menyetir dalam diam di balik kemudinya. Matanya yang tajam dengan jeli menatap jalanan sepi. Wajahnya begitu unik, perpaduan Asia-Eropa yang diturunkan dari sang kakek, sangat membedakannya dengan orang kebanyakan. Mobil Lamborghini Venenonnya itu melesat sangat cepat, menembus gelapnya malam dengan intensitas hujan yang cukup deras sejak dua jam lalu Dia … Atthala Raka Dekarsa. Matanya tiba-tiba menyipit, menatap ke arah depan, melihat seorang wanita dari kejauhan sedang berjalan ke tengah jalan dengan tubuhnya yang basah kuyup. Atthala mulai menurunkan kecepatannya, dan didetik berikutnya wanita itu justru terdiam, berdiri mematung di tengah jalanan yang gelap. Pria itu menginjak pedal rem secara mendadak. Namun sayang, bagian depan mobilnya sudah mengenai kaki si wanita itu hingga terjatuh. Atthala menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan keluar dari dalam mobil dan mendekati wanita yang tengah terduduk di atas jalanan beraspal itu. "Apa sebenarnya yang kau lakukan?" tanya Atthala dengan tatapan dingin. Wanita itu menoleh dan menatap tajam pada Atthala, dengan wajah penuh dengan luka cakaran, dan sudut bibirnya pun terluka. Napasnya memburu dengan airmata yang terus menetes hingga tersamarkan oleh guyuran air hujan. "Kenapa kau tak membiarkanku mati saja?" tanyanya putus asa. Atthala mendengkus, mengejek dengan satu sudut bibirnya naik ke atas. Dengan posisi setengah berlutut, pria itu menatap dalam pada manik Hazel gelap milik wanita di hadapannya. "Karena mati … bukanlah sebuah pilihan, Nona," jawab Atthala dengan nada sedikit mengejek. Atthala pun berdiri, berjalan masuk ke dalam mobilnya lagi dan berlalu pergi meninggalkan wanita yang tengah menatapnya tajam, karena jawaban yang Atthala berikan. 'Benar, mati bukanlah sebuah pilihan. Tapi matiku adalah yang mereka inginkan.' *** Aradea Zeavanya, wanita berparas cantik dengan takdir kehidupan yang pahit. Kedua orangtuanya bahkan menganggapnya pembawa sial dalam keluarga. Ketika sang Ayahnya sedang mabuk dan kesal, pria paruh baya itu selalu melampiaskan kemarahannya pada Ara, memukulinya bahkan hampir membunuh wanita itu. Tak ada masa muda bagi Ara. Seluruh waktu gadis itu, ia habiskan bekerja di Nightclub hanya demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia bahkan lebih senang dengan dunianya di luar, dan memilih bekerja seharian dibanding harus pulang ke rumahnya. *** Hari pun mulai berganti, dan langit malam kembali menyapa kota Los Angeles. Wanita bertubuh kecil itu nampaknya sudah kembali ke Nightclub, yang saat ini sedang mengadakan pesta besar untuk para tamu VVIP. "Aradea, bisa kau bawakan ini ke ruang vvip kamar tiga?" tanya Adam, Kepala pelayan di bar itu. Ara mengangguk ragu, ketika ia teringat kakinya yang saat ini tengah terluka akibat kejadian malam kemarin. Namun bagaimana pun juga, Ara tetap harus membawa nampan, yang di atasnya sudah tersimpan wine termahal. Dengan langkah tertatih, akhirnya Ara membawa nampan itu mengikuti Adam dari belakang, menaiki anak tangga satu persatu secara perlahan, menuju ruangan vvip yang hanya tersekat kaca tembus pandang, yang bahkan dapat dilihat oleh siapa saja. Ara mulai melangkahkan kakinya berjalan masuk ke dalam ruang tersebut. Tetapi, belum sempat gadis itu menaruh nampannya di atas meja, Wine Classification of Saint Emilion yang harganya mencapai $132.000 atau setara 1,8 Miliar rupiah, tiba-tiba terjatuh ke lantai, ketika kakinya yang terluka tanpa sengaja tertendang oleh wanita penghibur di ruangan itu. Seluruh mata seketika tertuju pada Ara yang saat ini sedang berjongkok, memunguti serpihan botol kaca wine di atas lantai. "Aradea, apa yang kau lakukan? Kau tahu seberapa mahalnya wine itu? Kau bahkan takkan pernah bisa menggantinya, walau kau bekerja di sini selama sepuluh tahun!” bentak Adam di hadapan semua pengunjung yang kini menatap aneh dan memandang remeh pada gadis itu. "Maafkan saya, Tuan Adam. Maafkan saya." Lirih Ara. "Wine ini tidak bisa kau ganti hanya dengan kata maaf, Aradea!" Tanpa mereka sadari, seorang pria berwajah asia, berjalan menghampiri Adam dengan selembar cek yang dia masukkan ke dalam saku jas pria berbadan kekar itu. "Aku akan mengganti kerugian ini,” cetusnya dengan datar. Ara menoleh ke arah asal suara. Matanya seketika membelalak, melihat siapa yang berbicara dan membayar ganti rugi wine tersebut. "Tuan Atthala, mohon maaf atas ketidaknyamanannya," ucap Adam dengan tulus seraya membungkukkan tubuhnya. Ya … pria itu, Atthala. Si billionaire muda dengan sejuta pesonanya. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN