Nayna meninggalkan Eka yang masih memohon dengan deraian air mata tak henti-hentinya mengalir di pipi wanita itu yang mulai menirus . Dia tidak akan luluh dengan upaya Eka meskipun saat ini Eka memeluk kakinya sambil terisak. Nayna terpekik pelan, betapa terkejutnya Nayna melihat tubuh Eka tergeletak di lantai yang dingin itu tak sadarkan diri. "Ekaaaaaaaaa," pekiknya memenuhi seantero ruang tamu. Nayna berjongkok dan mengguncang tubuh Eka berkali-kali, berharap wanita itu mendengarnya dan segera membuka mata. "Eka bangun, jangan bercanda," paniknya menepuk-nepuk pipi Eka, " Mommyyy, tolongggg," teriak Nayna memanggil Sisil meminta pertolongan mommynya. Mendengar teriakan Nayna, Sisil langsung berlari tanpa mematikan televisi yang tadi tengah dia tonton. "Ya Tuhan, Eka kenapa Nay?" pe

