Cinta buta

1176 Kata
Selepas pulang sekolah aku langsung ketempat biasa aku dan dia bertemu. Saat aku sampai ternyata dia sudah disana sembari menyesap rokok ditanganya padahal aku sudah berulang kali melarangnya demi kesehatannya juga. "Maaf lama" ucapku lalu duduk disampingnya. "Jangan sok spesial, lama gue nungguin lo!" decihnya kesal. "Maaf, tadi aku nyelesain tugas Bianca dulu" "Gue kan sudah bilang jangan dikerjain, bodoh banget si lo!" geramnya menatatapku. "Aku maunya gitu tapi Bianca pasti makin merundung aku nanti" "Ya dilawan lah bodoh! nggak punya tenaga lo buat maki dia balik" "Punya, tapi aku sadar aku pasti kalah" ucapku sendu, 'andai saja kamu mau membela aku pasti aku tidak akan diperlakukan seperti itu' ucapku dalam hati. "Kamu kenapa minta aku kesini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan karena percuma mau bagaimanapun dia tidak akan membelaku didepan siswa lain disekolah, lihat saja saat bertemu pun dia sengaja memakai masker dan juga topi takut ketahuan dengan orang lain jika kami dekat. "Tugas gue, kerjakan" dia memberiku sebuah totebag yang berisi buku-buku sekolahnya, aku mengambilnya dengan tagan lesu. lagi-lagi aku harus bergadang semalaman untuk membuat tugas mana tugas kau juga menumpuk karena tadi lebih milih nyelesain tugas Bianca. "Kalau sudah chat gue, biar gue jemput dirumah lo" "Eh nggak usah nanti ketemu aja diluar" "Terserah lo!" lalu ia pergi meninggalkanku yang menatap nanar punggung pria yang selama satu tahun ini menghiasi relung hatiku, aku tau aku bodoh karena bisa jatuh cinta dengannya yang sama sekali tidak menghargai kehadiranku tapi dia duniaku sekarang. Dia yang membuatku bertahan untuk menjalani hidup yang penuh kesengsaraan ini jadi tolong jangan salahkan aku. Aku menatap nanar totebag penuh isi buku itu, aku pastikan aku akan kesulitan membawanya karena buku yang ada didalamnya sungguh banyak. Tiba-tiba rintik hujan turun aku pun bergegas menepi ke tempat yang bisa dibuat berteduh. Aku melirik totebag yang sedari tadi aku peluk dan benar saja buku-buku itu terkena air hujan dan sedikit basah, aku yang ceroboh segera menepuk dahiku pelan. "Kenapa jadi basah si, gimana nanti bilang dia ya" gumamku pelan "Lo kenapa ngomong sendiri" pria disampingku membuka suara aku yang takut kegeran lantas melirik kekiri dan kanan memastikan jika pria itu benar berbicara denganku. "Gue ngomong sama lo" ucapnya lagi "Oh" "Oh?" dia mengerutkan dahinya menatapku lekat. Aku diam menatapnya dan dalam seperkian detik aku baru ingat dengan siapa sekarang aku bicara. "Maaf, ada apa ya kak?" tanyaku takut-takut, aura dingin dari kakak kelasku yang juga satu geng dengan pacarku benar-benar menakutkan seolah ia membawa semua hawa hitam didalam tubuhnya. Ia menghela napas pelan lalu membuang muka, aku yang sudah terbiasa diperlakukan seperti itu hanya bisa diam tak berani lagi untuk bertanya karena biasanya orang-orang pasti akhirnya akan memarahiku jika aku bertanya lagi. Hujan yang tadinya deras kini perlahan berhenti tersisa rintik rintik yang tak lagi deras, aku mengulurkan satu tanganku mengecek kondisi udara. "Syukurlah sudah tidak deras" gumamku pelan, kak Dewa yang ada disampingku sepertinya tak peduli terlihat dari gerak geriknya yang sibuk menatap layar ponselnya sedari tadi untung saja tidak sedang petir jika iya aku sudah tak tau lagi gimana nasib kak Dewa. Saat aku akan melangkah tiba tiba tanganku ditahan oleh seseorang aku yang gagal menyeimbangkan tubuh hampir saja terjatuh untung saja orang itu bisa menahan tubuhku namun naasnya buku-buku yang ada di totebag yang aku peluk tadi terjatuh ke tanah yang sontak saja aku langsung melepas tangan orang itu dan memunguti buku-buku itu yang sudah basah karena air hujan. "Ah... gimana ni basah" "Maaf" ucap pria yang menahanku tadi ya dia kak Dewa, aku ingn marah dengannya tapi mau gimana pasti nanti aku yang kena amuknya karena berani-beraninya memarahi orang yang berada diatasku, seperti hukum alam yang harus dituruti mau gimanapun. Aku tak menjawab maafnya, jujur aku kesal. "Sini gue bantu" aku menepis tangannya lalu memunguti buku-buku itu dan segera memasukkannya keadalam totebag, bukan aku menolak bantuan dari kak Dewa tapi aku tak ingin dia tau tentang hubungan ku dengan Aksa. "Lo marah sama gue?" tanyanya sembari menahan bahuku. "Nggak kok kak, aku nggak marah" jawabku yang tak berani menatap matanya. "Terus kena-- "Nggak papa kak, maaf ya kak buat kakak marah. Permisi" ucapku cepat lalu segera berlari meninggalkan kak dewa yang masih terpatung di tempat, aku tak peduli gimana reaksinya nanti disekolah karena sekarang aku harus cepat-cepat pulang kerumah untuk segera mengeringkan buku-buku milik Aksa. Sesampainya di rumah aku mengeluarkan buku yang ada didalam totebag tadi tak lupa aku menyalakan kipas angin dan juga setrikaan. Perlahan tapi pasti aku mulai menata buku-buku tu diatas ranjangku yang langsung berhadapan dengan kipas, aku menunggu kurang lebih dua puluh menit setelahnya aku mulai menyetrika bagian buku yang sudah tidak basah lagi. Dan benar saja buku itu jadi seperti kanebo kering, keras dan kaku. sudah hampir dua jam aku sibuk mencatat dan juga mengeringkan buku-buku namun belum ada juga tanda-tanda akan selesai padahal pukul tujuh nanti aku harus kerja di cafe. Aku mengeluarkan semua tenaga ekstra yang aku punya dan tepat dipukul 06.30 tugas Aksa sudah selesai aku kerjakan walau bentuk buknya tak bagus seperti awal, semoga saja Aksa tak marah dan memaklumi kecerobohanku. Aku bergegas ke kamar mandi bersiap-siap untuk berangkat kerja, setelah siap aku mengirim pesan ke Aksa untuk bertemu ditempat dekat aku bekerja. Aku Ketemu sekarang bisa? aku tunggu di tugu dekat cafe secret Dia ❤ Y Aku membaca pesannya lalu segera memasukkan ponselku kedalam tas lantas buru-buru keluar rumah menuju ke tempat yang aku janjikan. Oh iya aku tinggal dirumah hanya bertiga dengan adik-adik ku, sekarang mereka masih dirumah bibiku menginap disana dan saat jam sepuluh aku akan menjemputnya selepas pulang bekerja. Tentang orang tua, mereka sudah tiada meninggalkan kami sejak tiga tahun yang lalu, setelah kepergian mereka aku menjadi kakak kepala keluarga dirumah menghidupkan diriku dan juga dua adikku yang masih kecil untung saja masih ada Bude Ningsih yang mau membantu kami. Aku sudah sampai duluan Aksa masih tak ada disana padahal jam sudah hampir menunjukkan jam tujuh waktu untuknya pergantian shift namun Aksa masih tak nampak batang hidungnya, aku semakin gelisah dan .. "Mana buku gue" ucap seseorang yang berdiri tepat dibelakangku, aku yang mengenal suaranya lantas berbalik arah menghadapnya. "Eh kamu" "Mana!" "Ini" aku menyodorkan totebag baru isi bukunya, karena totebag yang tadi masih basah. Aksa membuka bukunya satu-satu dengan dahinya mengerut menatapku nyalang, dan aku tau kata apa yang akan keluar dari mulutnya nanti. "KENAPA BUKU GUE JADI GINI!" Bentaknya padaku "M- maaf Aksa aku nggak sengaja" "Lo!!" dia menujuk wajahku dan menodorong tubuhku kebelakang aku yang tak siap lantas terhuyung dan jatuh dengan pantatku yang duluan mendarat, sontak saja aku merintih kesakitan. "Aww..." "Sakit? makanya otak lo tu dipakai! gue ngasih buku gue rapi bagus kenapa baliknya jadi gini! dasar perempuan ceroboh!" makinya tepat didepan wajahku, tak lupakah dia bahwa aku pacarnya wanita yang dia bilang bahwa ia menyukaiku dulu. "Aksa maaf" cicitku pelan "Nyusahin lo!" bentaknya lagi lalu pergi meninggalkanku yang masih teruduk lemas dilantai, air mata yang terus mengalis aku biarkan begitu saja. Aku pikir bersama dengannya membuatku lebih nyaman dan melupakan semua kesedihanku tapi ternyata salah dia malah menambah luka yang luka sebelumnya saja belum sembuh. "Aku tau aku sudah bodoh mencintaimu"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN