Bab 11

719 Kata
Author POV Ajeng berjalan lesu menuju minimarket dekat kosannya. Entah kenapa ia jadi tak bersemangat. Setelah dirinya menelfon Andre malam itu, ia tak bertatap muka dengan cowok itu. Entah kenapa. Dia langsung memasuki minimarket, mengambil keranjang lalu menyusuri rak untuk membeli kebutuhannya, termasuk titipan kedua temannya itu. Langkahnya berhenti tepat di lorong sabun. Ia memilih salah satunya. Sabun favoritnya.  Ia berjalan lagi menyusuri rak. Biasalah, ini sudah menjadi kegiatannya selama di supermarket. Menyusuri setiap rak, siapa tau nemu sesuatu yang tiba-tiba diinginkan.  Langkahnya terhenti. Ada yang menimpuk bagian kepala belakangnya. Tidak sakit sih, tapi membuatnya kaget. "Eh?" Ajeng menoleh kebelakang, tak sengaja menendang sesuatu. Sontak saja matanya membulat. Pembalut. Orang-orang disekitarnya menatap bingung kearahnya. Buru-buru ia mengambil pembalut itu dan meletakkan kembali di tempatnya. Tepat dia berbalik, dirinya mendapatkan Ical bersender di bagian rak dengan menatapnya jahil. "Ngeselin ya Lo" Ajeng mendengus. Sudah pasti tadi kerjaannya si Ical. Sedangkan bocah itu, malah nyengir gk jelas. "Ngapain Lo? Mau beli pembalut beli aja kali. Gak usah ngode-ngode tuh mata" Ical langsung mendelik. Tubuhnya berdiri tegak. "Enak aja!! Ya kali gue pake begituan" "Ya terus apa? Ngapain Lo disini?" Mata Ajeng memicing. "Lo ngikutin gue?" Tunjuknya pada Ical. "Dih, ngapain amat gue ngikutin lu. Sorry yah, gak usah kegeeran dah" Ajeng mendengus, ia berjalan meninggalkan Ical di lorong itu. Waktunya terbuang percuma debat dengan Ical. "Eh eh... Jeng, bantuin gue napaaa" tiba-tiba saja tubuhnya sudah menghadang jalan Ajeng yang ingin berjalan ke kasir. "Apaan si? Awas dah" matanya menatap malas pada seseorang didepannya ini. "Bantuin gue" Ical menangkup kedua tangannya di depan d**a. Tak lupa muka sok lucunya, yang seketika membuat Ajeng merinding hebat. "Ck! Yaudah apaan? Jangan lama deh Lo" Ajeng pasrah, kalau tidak menuruti kemauannya, dirinya pasti selalu dikejar sama nih bocah. Ical langsung sumringah. Dengan mata berbinar ia langsung menarik tangan Ajeng, menuju rak sebelumnya. Rak khusus pembalut. "Dih. Ngapain kesini bocah? Lu beneran mau beli pembalut?" Ajeng tertawa meledek. Ical menoleh ke kanan-kiri. Ia meringis. Lalu mensejajarkan kepalanya pada Ajeng. "Gue disuruh sama emak buat beli pembalut" ucapnya sambil berbisik. "Heh! Yaudah beli lah. Kasian emak Lo udah nunggu lama" Ajeng tak habis pikir dengan temannya yang satu ini. "Ish! Bantuin lah. Gue gak ngerti" jujur saja dalam hatinya ia malas membeli beginian untuk emaknya. Ajeng menatap malas kearah Ical, lalu berjalan menyusuri rak. Diikuti Ical yang berjalan ragu. Cuma dirinya saja di lorong ini. Yang lain perempuan dan ibu-ibu. "Emak Lo pesen yang mana?" Tanya Ajeng tanpa menatap Ical. "Katanya yang ada sayapnya, terus panjangnya sampe p****t" Ajeng refleks menoleh pada temannya itu. "Serius emak Lo ngomong gitu?" Tanyanya menahan tawa, disertai anggukan polos dari Ical. "Okee... Emm, merknya dikasih tau gak?" Tanyanya lagi. Ical menggeleng. "Yaudah, pake pilihan gue aja ya." Ical mengangguk senang. Akhirnya, ia tidak perlu repot-repot mencarinya. "Nih" Ajeng menyodorkannya pada Ical. "Dih! Lo aja ah yang megang. Gue malu, Jeng" ucapnya sambil mendorong kembali pembalut untuk mamaknya itu. Ajeng berdecak. Di gantungnya keranjang pada lengannya. Ia menarik tangan Ical, lalu menyerahkan pembalut itu. Membuat Ical mendelik. "Ish gue gak mau, Jeng. Sumpah gue malu" "Yaudah sih, kali gak mau ya mending gk usah beli." Ajeng berjalan meninggalkan Ical,yang berdiri lemas. Ia langsung menyusul Ajeng. Berjalan di belakang cewek itu. Dirinya ditatap aneh oleh orang-orang sekitarnya. Tentu saja, ini pertama kalinya memegang barang perempuan yang satu ini. Ajeng mengantri tepat dibelakang ibu dengan anak kecil perempuannya. Ical masih setia dibelakangnya. Mereka berdua keluar dari supermarket itu. Di buangnya napas lega oleh Ical. Ia lega sudah menenteng plastik berisi pesanan emaknya. "Makasih ya, Jeng. Lo emang temen ter debes gue.." "Hmm... Yaudah gue duluan ya" balasnya dan melambai ke arah Ical. "Hati-hati, Jeng" "Yo" Akhirnya Ajeng sampai dikosannya dengan selamat. Ia langsung meletakkan plastik belanjaannya di meja ruang tamu. Ia langsung rebah diatas sofa. "Lama amat si, Jeng" ucap Fatma, ia langsung mengambil pesanannya. Dengan mata berbinar, ia membawa pesanannya ke kamar. Tak lupa ia berterimakasih pada temannya itu. "Capek amat, Jeng. Kok lama?" Tanya Tari. Ia duduk di sofa seberang Ajeng. "Tadi gue ketemu Ical" ucap Ajeng sambil memejamkan matanya. Tidak tahu bahwa perkataannya membuat seseorang merasa senang dengan degupan jantungnya. "Oh ya?" Ajeng mengangguk. "Dia minta dicariin pembalut sama gue, buat emaknya" Tari langsung menunduk lesu. Kapan dirinya yang akan diminta bantuan oleh Ical? Tak mendapat respon dari temannya, membuat Ajeng membuka mata. Ia langsung berdiri dan mengambil kantong plastik diatas meja. "Gue ke kamar ya... Capek gue" ucapnya dengan dibalas tatapan kosong oleh Tari. ~~~~~~~~~~~~ Hoho... Langsung 3 bab niih... Rada gajelas sih nih cerita ya.... Mungkin update nya bakalan lama lagi, tugas merembet See you
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN