Aku memandangi wajahnya. Dia sangat cantik. Matanya, hidungnya, bibirnya, pipinya semua yang ada padanya seolah adalah sebuah masterpiece. Tuhan menjadikannya ciptaan yang mempesona. Jariku menelusuri matanya, hidungnya, hingga berhenti di sudut bibirnya yang terlihat sobek. Saat aku menyentuhnya, dia meringis sakit. Brengsek! David sialan! Berani beraninya dia melukai Eve sampai seperti ini! Tapi Eve tersenyum menenangkan astaga perempuan ini benar benar. Aku lalu berdiri dan menaruh tangan kananku di belakang lehernya dan tangan kiriku di belakang lututnya. Aku menggendonya dengan bridal style. Matanya membulat terkejut. Aku tertawa kecil ekspresinya sungguh menggemaskan. Aku lalu berjalan menuju kamarku. Saat sampai di kamarku, aku menidurkannya di kasur. Aku lalu ikut berbaring di

