Proposal

2209 Kata
Sudah satu minggu semenjak Theo menciumku. Dia bagai hilang ditelan bumi tidak ada kabar sama sekali, baik dari Jessica maupun dari Tomy. Sepertinya Jessica pun sama sepertiku mencari keberadaan laki laki yang sudah berhasil mencuri hatiku itu. Aku baru selesai sidang, tidak seperti bayanganku, aku bersyukur bisa melewatinya dengan baik. Aku sekarang sedang berada di kantin, memesan segelas es teh manis untuk mendinginkan otakku. "Kathy.. Kathy.. Kathy.."   Aku mengedarkan mataku menelusuri pemilik suara yang memanggilku, dan aku mendapatkannya di sana. Jessica baru memasuki kantin dengan segenggam bucket bunga. Jessica lalu duduk di sampingku dan memelukku erat,”Selamat untuk sidangnya. Aku yakin kamu berhasil, ini untukmu”. Jessica menyerahkan bucket bunga yang tadi dia bawa. Aku tersenyum tulus dan mengambil bucket bunga itu,”Terimakasih semoga sidangmu juga lulus” Jessica menyeringai,”Tentu saja aku akan lulus. Aku ini pintar”. Jessica mengambil es tehku dan meminumnya,"Ah Kathy. Aku sangaaattt bahagia. Kau ingat Theo? Teman James? Kami kemarin tidak sengaja ketemu saat aku mampir ke starbucks. Dan astaga Demi Tuhan, dia tambah tampan. Kau beruntung waktu itu bisa berdua dengannya di mobil sport kerennya itu. Dia sangat sempurna kau tahu? Suami idamanku...."  Brakk  Aku bisa mendengar suara sayap kupu kupu dalam perutku patah semua dan menghilang bagaikan debu. Aku tidak mendengarkan lagi perkataan Jessica. Aku mulai membandingkan diriku dengan Jessica. Jessica Willan adalah sosok yang sempurna dengan semua yang melekat dengan dirinya. Dia sangat pantas bila bersanding dengan Theo. Mereka sama sama memukau dan kaya. Mereka memiliki semuanya. Sedangkan aku? Aku hanya seorang gadis yang memiliki masa lalu kelam.   "Kathyyyyy!!! Kamu mendengarkan aku tidak sih?"   "Ah? Iya aku dengar", aku menggigit bibirku.  "Jadi bagaimana menurutmu?" Jessica melipat kedua tangannya dan tersenyum menatapku menunggu jawabanku. Dia tadi bertanya apa sih? "Menurutku apa?"  “Kebiasaanmu kembali lagi. Kau tidak mendengarkanku. Kau sibuk dengan lamunanmu"  Aku meringis dan mengaduk es tehku,"Maafkan aku. Ini hari yang berat".  Jessica menatapku kasihan dan menggenggam lenganku,"Kau bisa menceritakannya padaku."  Aku tersenyum kecil,”Hanya sidang. Jadi, apa?”  "Kita diundang ke ulang tahun Theo besok malam Kathy"  "Oh, aku rasa aku tidak akan datang"  "Apa? Kenapa?" Jessica menatapku tidak percaya. "Aku dan pesta bukanlah teman baik"  "Kumohon Kathy, temani aku. Acaranya bukan di klub ko. Tapi di ballroom hotel and resort Alaric. Kathy. Kumohon." Jessica menatapku dengan matanya yang bulat dan indah. Bagaimana aku bisa menolaknya?  "Baiklah baiklah. Tapi aku menolak segala gaun ataupun sepatu yang kau belikan bagaimana?"  "Apa?" Jessica membulatkan matanya dan mengangakan mulutnya. Aku tertawa melihat ekspresinya yang mahal itu harusnya aku membawa kameraku.  "Apa yang kau tertawakan?"  "Kau. Kau terlalu berlebihan Jessica. Kau seperti baru mendengar kalau aku sebenarnya laki laki yang sudah transgender"  "Kathy, kita akan datang ke pesta Theo di ballroom hotel and resort Alaric. Itu adalah hotel and Resort termewah di Amerika. Aku tidak akan membiarkanmu mempermalukan dirimu sendiri sayang. Percayalah padaku."  Aku menghembuskan nafas lelah. Jessica sebenarnya sangat sayang padaku. Aku tau itu. Dia tidak mau aku tampil buruk. Tapi aku tidak bisa terus menyusahkannya. Aku tersenyum pada Jessica dan memegang kedua jarinya lembut. "Aku percaya padamu Jess. Selalu. Tapi kali ini percayalah padaku."  Aku memang berkaata seperti itu, tapi apa yang akan kukenakan tanpa mempermalukan diriku??   **************************************************  "Aku stres Kania"  Kania memandang diriku prihatin. Bagaimana tidak? Aku pulang dengan lesu dan langsung ke kamarnya dan membaringkan diriku dengan posisi perut berhadapan dengan kasur. Aku langsung menceritakan mengenaik hari ulang tahun Theo.  "Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin memakai kaos dan celana jeans ke acara itu. Tolong sembunyikan aku sehari saja ke lokernya flying dutchman mungkin"   "Kenapa kamu tidak menerima tawaran Jessica saja Kathy?" Kania mengelus punggungku. Ah ini yang kusuka dari Kania, meski Kania dingin pada orang orang tapi dia begitu baik padaku. "Apa kau gila? Aku sudah banyak menyusahkannya. Aku tidak mau memakai uang dadynya lagi. Lagi pula dia itu kalau sudah belanja suka gelap mata mungkin satu buah gaun seharga 1 miliar pun jika dia suka akan dia beli"  “Kamu benar. Jessica memang gila. Bagaimana jika kita memakai uang tabunganku dan tabunganmu untuk beli gaun yang cantik?"  "Tidak Tidak Tidak. Hingga kiamat pun aku tidak akan memakai uang tabunganmu untuk membeli sebuah gaun t***l. Lebih baik aku memakai daster ke pesta itu daripada memakai gaun hasil tabunganmu"  Kania memandangku dengan satu alis terangkat seperti mengatakan : kau serius?  "Baiklah aku tarik kata kataku aku tidak akan memakai daster ke pesta Theo"  Kania tertawa karena perkataanku. Dia lalu menarik tanganku agar aku duduk berhadapan dengannya di atas kasur.   "Ini saatnya kamu memakai gaunmu lagi Ms Eve"  Aku menggeleng keras,”Aku tidak akan memakai gaun gaun itu lagi. Gaun itu hanya mengingatkanku seberapa buruknya Eve dulu Kania"  "Kau tidak memiliki pilihan lain."  **************************************************  Aku dan Kania masuk ke gudang kontrakan kami. Kami mencari salah satu koperku dulu. Koper putih dari Elle. Salah satu koper yang berisi gaun gaun milikku dulu. Setelah menemukannya, kami menariknya keluar. Aku sempat terbatuk batuk karena debu yang melingkupinya. Kania membuka resleting koper itu. Dan terpampanglah tumpukkan gaun cantik berwarna warni.  "Semoga masih layak pakai", Kania bergumam dan aku mengamininya. Kania mengambil beberapa gaun dan membukanya lebar, satu persatu gaun yang dia keluarkan seolah melemparku kembali ke masa lalu. Kembali ke masa masa Eve sang ratu pesta  Hingga Kania mengangkat sebuah gaun berwarna putih yang sangat cantik. Aku ingat gaun itu. Aku hampir mogok tidak mau makan hanya untuk dibelikan gaun merah yang ada di tangan Kania itu. Gaun itu memiliki ikatan di lehernya mempertontonkan punggungku yang terbuka ihngga pertengahan punggung. Gaun itu jatuh lembut sekaki dengan belahan yang memanjang hingga 20 cm di atas lutut di bagian kanannya. Gaun itu membentuk lekukan tubuhku. Gaun itu bermotifkan mawar mawar yang lembut. Gaun itu membuat aku terlihat cantik, sexy, berkelas saat memakainya. Ingatanku berkelana saat aku mengenakan gaun itu dulu.   "Kathy? Kamu baik baik saja?"  Aku tersenyum sendu, mendapatkan memori masa laluku, membuat jantungku berdenyut pedih. Aku memang perempuan yang jahat. "Aku hanya mengingat masa lalu"  "Apa yang terjadi?” Aku menghembuskan nafas berat,"Kalau dulu aku pernah bilang padamu kalau James adalah cinta pertamaku, aku salah aku baru ingat sekarang. Cinta pertamaku adalah anak pembantu di rumahku dulu. Aku jatuh cinta padanya mungkin sejak aku kecil. Kami terbiasa hidup bersama. Tapi aku lupa namanya siapa. Aku lupa rupanya seperti apa.” Aku tersenyum sendu. Aku memang memilki ingatan yang buruk. “Saat aku masuk ke senior highschool, aku berubah. Aku mulai gila kepopularitasan. Aku menjauhinya. Aku menjaga jarak dengannya. aku bahkan bersikap menyebalkan dengan orang tuaku." Sungguh aku benci masa seniorku dulu. Kania menggenggam lembut tanganku.  "Saat itu aku akan ulang tahun ke 16. Aku merengek ke ayahku untuk dibelikan sebuah gaun yang cantik. Gaun ini." Aku mengangkat gaunnya.  "Harganya 3500 US dollar. Aku tahu gilakan? Aku bahkan mogok makan untuk dibelikan gaun ini. Ayah pulang malam harinya dengan gaun ini di tangannya. Aku langsung menelpon temanku Sarah. Sarah langsung menginap di rumah. Aku memamerkan gaun ini padanya. Dia terus terusan memuji gaunku ini. Kami bergossip ria sepanjang malam. Saat tengah malam, dia pergi ke dapur mengambil minum, dia bertemu dengan anak pembantuku itu. Dia cukup tertarik dengan laki laki itu. Ah iya aku ingat, aku biasa memanggilnya Ar. Sarah masuk ke kamar dengan muka berbinar, dia menanyakan seputar Ar. Saat aku memberitahunya kalau Ar adalah anak pembantuku, dia terkejut dan tidak percaya. Tapi sebuah seringaian muncul di wajahnya. Dia bilang kalau aku harus mengundangnya di acara ulang tahunku dan mempermalukannya di depan semua tamu. Aku menolaknya tentu, bagaimana bisa aku mempermalukan cinta pertamaku? Dia melihat gelagatku dan menebak kalau aku jatuh cinta pada Ar. Aku menampiknya dan menyetujui ide gilanya itu." Aku menatap Kania sendu. Kania meremas lenganku memberi kekuatan. "Aku keluar untuk bertemu Ar malam itu. Aku melihatnya di dapur sedang meminum teh. Ar tersenyum melihatku. Aku menghampirinya dan mengundangnya ke acara ulang tahunku. Dia awalnya menolak karena dia tidak memiliki baju yang pantas. Aku meyakinkannya untuk datang menjadi dirinya sendiri. Dan dia setuju". Aku meremas lenganku. Seandainya aku bisa memutar kembali waktu.  "Pesta dimulai hampir semua temanku di sekolah diundang. Termasuk James. James pria yang paling mempesona malam itu. Tapi aku sama sekali belum melihat Ar. Saat akhir acara, Ar datang menemuiku dengan malu malu. Dia sangat lucu malam itu. Dia memakai kemeja kebesaran yang kuduga milik Ayahnya. Dia memberikanku setangkai bunga yang berasal dari halaman rumah. Aku sangat tersentuh dengan perbuatan Ar. Aku melirik ke arah Sarah. Sarah melihatku dengan intens. Aku langsung mendorong Ar keras. Dia terjatuh dan menjadi pusat perhatian di acaraku. Aku menghinanya. Dari bajunya, penampilannya, sikapnya. Dia menatapku dengan pandangan terluka. Tapi dia tersenyum dan pergi.” Meski aku tidak terlalu ingat wajahnya, aku tidak akan pernah lupa perasaanku ketika mendapat tatapan terluka Ar. Rasanya menyakitkan seolah ketika saat itu, aku telah menyakiti diri sendiri. “Semua orang di ruangan itu menertawai dan menghina Ar. Bahkan tidak sedikit yang melemparkan makanan padanya. Aku melihat Sarah tertawa puas. Aku menyesalinya. Hari itu juga aku memutuskan pindah ke Paris melanjutkan sekolah di sana. Aku juga tidak pernah melihat Ar lagi semenjak kejadian itu."  "Kau tidak harus memakai gaun itu Kathy", Kania mengenggam lenganku erat.  Aku menatap Kania dan tersenyum,”Aku akan memakai gaun ini. Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri. Aku juga tidak mau mengecewakan Jessica. Dan aku ingin memberikan yang terbaik untuk Theo"  **************************************************  Aku melihat pantulan diriku di cermin. Aku seperti melihat Eve yang dulu cantik, berkharisma, berkelas, anggun dan populer. Make up natural yang dipakaikan Kania membuatku sangat cantik. Rambutku dicurly dan disampirkan ke bahu kananku. Kania menyematkan tiara yang cantik miliknya di rambutku. Aku juga meminjam heels 7 cm miliknya. Kania memang pandai merias.   "Kania, aku aku aku tidak tahu harus ngomong apa. Tapi aku berterimakasih dengan sangat." Aku berjalan memeluk Kania. Kania balas memelukku. Dia lalu terkekeh kecil,"Yasudah sana tunggu Jessica dan dapatkan hati pangeranmu itu"   Teng Tong  Suara bel rumah ini membuatku berjalan ke arah pintu. Saat kubuka pintu, sosok cantik Jessica mengunci tatapanku. Dia memakai gaun tanpa lengan berwarna biru tua selutut. Dia juga mengalungkan selendang sutra sewarna dengan gaunnya di lehernya. Dan heels yang waw membuatku membulatkan mata. Dia memakai make up tipis dan lipstik merah menyala yang membuatnya terlihat menggoda dan terlihat lebih dewasa. Rambutnya digelung tinggi.   "Kathy, aku hampir tidak mengenalimu. Kamu sangat cantik." Aku bisa melihat mata Jessica yang berkaca kaca.   "Dan Ya Tuhan, Itu gaun tercantik yang pernah kulihat. Kau membuatku speechless Kathy"  Aku terkekeh kecil,"Kau juga sangat cantik Jessica."  Jessica mengibaskan lengannya dan terkekeh kecil,"Ayo kita berangkat. Aku tidak mau terlambat."  **************************************************  Kami tiba di ballroom hotel and resort Alaric. Ini adalah pesta termewah yang pernah aku datangi. Aku masih bingung seberapa kaya sebenarnya Theo? Ruangan ini sangat mengagumkan dengan banyak patung es berbentuk malaikat, langit langitnya yang sudah dihias sangat berkelas, banyaknya rangkaian bunga di setiap ujung, sebuah orkestra mengalunkan lagu dengan indah. Dan yang menjadi fokus adalah kue ulang tahun yang sangaaaat besar di dekat panggung. Semua tamu yang datang terlihat berkelas, kaya dan bling bling.   Mataku bertemu dengan mata biru yang seperti menelanjangiku dengan tatapan marah? Ah mungkin aku salah lihat.   "Kau melamun?"  Aku merasakan sikutan di tulang rusukku. Aku segera mengalihkan tatapanku pada orang yang menyikutku. Jessica. Jessica melotot padaku dan mengisyaratkanku untuk menghadap ke depan. Aku lalu memalingkan mukaku ke depan.   Nafasku terasa tercekat. Aku menengadah menatap mata biru yang sangat kupuja itu. Dia tersenyum dengan sangat manis padaku . Tanganku digenggamnya. Theo tampil sangat sempurna malam ini. Tuksedo hitam membuatnya semakin tampan dan berkharisma. "Ah maaf",Aku menundukkan kepalaku. Kudengar Theo terkekeh.  "Terimakasih sudah mau datang Eve, Jessica."  "Happy Birthday Theo" Jessica tersenyum sangat cantik pada laki laki tampan ini. Theo hanya tersenyum menanggapinya.   "Happy Birthday",Kataku dengan malu malu.  "Terimakasih. Enjoy the Party. Aku akan menyapa tamu yang lain",Theo melepaskan tanganku dan berjalan berlalu. Ah, hatiku seolah tidak rela dengan kepergiannya.  Kulihat sesosok pria tampan menghampiri kami lagi . Ah, James, dia selalu tampan. Tapi kali ini dengan tuksedo abu itu membuatnya lebih ehm sexy.  "Hai Eve kamu terlihat sangat cantik". James memelukku sebentar. Aku tersenyum menanggapi komentar James. James lalu mengecup punggung tangan Jessica,"Ah, Jessica Kamu sangat cantik seperti seorang putri.” Jessica tertawa mendengar pujian James,"Dan kamu selalu tampan seperti biasanya."  **************************************************  "Selamat malam dan terimakasih atas kedatangan saudara semua pada acara ulang tahun saya. Di malam ini saya juga memiliki sebuah pengumuman"   Mata birunya menyapu semua orang di dalam ballroom ini. Dia sungguh berkarisma dan tampan di saat yang bersamaan. Oh God, kenapa bisa ada laki laki sesempurna Theo?   "Evangeline Kathyline Esmeralda Antonio"   Deg  Jantungku terasa berhenti berdetak saat Theo menyebutkan nama lengkapku. Tiba tiba lampu sorot menyorotku. Semua orang menatapku dengan tanda tanya. Jessica menatapku tidak percaya. Sebenarnya ada apa ini?  Theo lalu menatapku intens. Dia berjalan menghampiriku. Semua orang seolah memberinya jalan untuk sampai padaku. Seperti terhipnotis aku diam tak bergerak. Saat Theo sampai di depanku Theo hanya tersenyum dan menggenggam jemari kananku. Seluruh badanku terasa dingin. Jantungku berdegup sangat cepat. Aku terasa sulit bernafas. Tiba tiba dia berlutut di depanku dan mengeluarkan sebuah kotak buludru merah. Theo membukanya menampilkan sebuah cincin white gold dengan berlian tiga warna berbentuk hati yang sangat indah di tengahnya. Cincin itu berkilauan membius mataku.  "Will you marry me?"  Oke aku yakin aku sudah gila atau telingaku kemasukan gurita raksasa,"Apa?"  "Will You Marry Me Eve?"  Oke sekarang aku yakin kalau Theo yang gila 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN