Our Guests

1644 Kata

Aku berdiri di samping suamiku sekarang. Ah aku masih saja malu untuk menyebutnya suamiku. Ada perasaan bangga dan hangat menyebutnya suamiku. Dia tidak pernah melepaskan tangannya dariku. Banyak tamu berdatangan dan mengucapkan selamat pada kami. Kebanyakan dari mereka adalah rekan rekan bisnis Theo. Orang tua Theo sudah meninggal sejak lama. Ternyata kami sama sama kesepian. Kulihat seorang laki laki tampan mendekat pada kami. Rambutnya hitam kelam. Matanya tajam menyorot pada kami bagaikan elang. Tulang wajahnya sempurna. Badannya tinggi tegap. Badannya dibalut jas abu tua yang terlihat mahal. Dia sangat tampan.   "Berikan senyuman terbaikmu",Theo berbisik padaku. Aku lalu menatapnya tidak mengerti. Dia menggenggam tanganku erat dan tersenyum meyakinkan.  "Antheo Arsheta Alaric",Sapa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN