Pak Eric membukakan pintu mobilnya untukku dan menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya, "Ayo, Dis, masuk. Nanti kamu terlambat, loh." Aku bergeming. Setengah hatiku bilang, bahwa lebih baik aku masuk lagi ke dalam, memesan taksi online, menunggu taksi tersebut, dan berangkat menggunakan taksi online itu, tapi pasti ada adegan drama, Bapak yang aneh melihatku, Bu Darmi yang keheranan, Pak Eric yang tetap memaksa aku berangkat naik mobilnya, belum lagi banyak pertanyaan, ah, ribet. Dan sisi kelemahan dari skenario ini, aku akan datang terlambat sebagai juri di Universitas Jagabaya. Dengan cepat aku menggelengkan kepala. Tapi di sisi lain hatiku, aku mau saja naik mobil Pak Eric, tapi nanti Pak Eric malah jadi besar kepala, merasa menang dengan tindakannya, tapi poin lebihnya, aku tidak akan

