Setelah salat isya, aku kembali ke restoran tempat Pak Eric dan aku makan, tadi. Dia masih ada di sana sambil berbincang dengan seseorang, sepertinya lelaki ini salah satu dari karyawan atau staf yang ada di sini. Aku yang memilih memelankan jalanku agar tidak cepat sampai di tempat duduk Pak Eric, memilih berhenti di sofa yang dekat dengan tempat duduk kami tadi, biar Pak Eric juga melihatku, tapi tidak merasa terganggu dengan kehadiranku. Ketika dia melihatku, dia melihatku dan memberi isyarata dengan mengucapkan, “Tunggu sebentar, ya.” tanpa mengeluarkan suara, aku mengangguk, kemudian membuka handphone-ku dan mengecek beberapa email yang masuk. Ada undangan untuk menjadi pembicara di fakultas bahasa di Palembang, lalu ada juga pemberitahuan bahwa naskah yang aku ajukan lolos ke tahap

