Setelah Gendis berada di mobilku, aku langsung menyuruhnya untuk menunduk, agar tidak terlihat oleh mereka, “Masuk, nunduk lagi, ya. Diam, jangan nongolin kepalamu sampai aku bilang keadaan sudah aman, paham?” dia mengangguk, lalu mobil berjalan lagi. Kali ini, aku mengarahkan mobil ke lorong menuju rumah persembunyian merah. Setelah kami berjalan di lorong itu sekitar sepuluh menit, aku bilang ke Gendis, “Oke, udah aman. Kamu bisa keluar.” Aku melihatnya keluar dari tempat tadi dia bersembunyi, lalu dia duduk dengan d**a yang masih bergemuruh, napas yang memburu, dan tangan yang aku lihat gemetaran. Gendis juga menangis, air mata yang gak berhenti-berhenti dari tadi. Setengah menjerit Gendis meneriakkan pertanyaan-pertanyaan, “Itu apa, Pak Eric? Yang tadi itu kenapa? Kenapa kantor Pak Er

