Mereka masuk ke dalam rumah, ini sudah pukul sebelas malam, mungkin Riyanti dan papa sudah tidur pikirnya.
“Bawa masuk ke dalam kamar aku saja,”
“Tapi Den,”
Pria itu menatap kedua penjaga dengan kesal, dia berjalan mendekati penjaga.
“Kamu mau saya pecat,?” bisiknya pelan.
Mereka berdua terdiam, untuk zaman sekarang, sangat sudah memiliki pekerjaan seperti ini, walau hanya sebatas penjaga, tapi mereka memiliki nilai bayar yang lebih tinggi.
Lagi-lagi pria itu mengkode agar cepat membawa Faranisa masuk ke dalam kamar. Di lantai bawah, hanya ada kamarnya dan pembantu.
Kenapa dia tidak tidur di lantai atas? Karena hanya kamar yang ia tunggu saat ini, paling dekat dengan kolam renang. Dia sangat suka berenang, jadi kamar tersebut adalah tempat yang paling pas.
Penjaga meletakkan Faranisa di atas ranjang. Wanita itu memakai kaos dan rok sebatas lutut. Rok itu tersibak, hingga batas paha.
Pria itu melihatnya, lalu dia tersenyum kecil, “Kamu jenis apa,” gumamnya pelan.
“Kami permisi, Den,”
Dia mengangguk sambil mengibaskan tangan, agar mereka segera pergi dari hadapan dirinya. Tidak ada gunanya berlama-lama berbicara dengan penjaga tersebut pikir sang pria. Karena dia ingin memeriksa wanita yang tengah berbaring di ranjang saat ini.
Pintu telah tertutup, perlahan pria tersebut membuka baju kemeja, lalu dia membuka celana jins hingga polos seperti bayi. Dia tersenyum nakal, perlahan kakinya berjalan menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa begitu lengket.
Rangga Admajaya Admajaya, anak tunggal dari keluarga Admajaya. Dia sangat pintar dan mudah bergaul, hanya sisi gelapnya tidak bisa di pungkiri lagi. Dia adalah pria dengan sejuta wanita di atas ranjang yang tidak bisa dia tinggalkan.
Jadi kamu anak Riyanti? Hah, wanita gila itu! Ucap Rangga Admajaya sambil berdecak memukul air yang sudah memenuhi bathtubnya. Dari awal, Rangga Admajaya dan Mama tirinya tidak pernah cocok. Wanita ular yang sebenarnya adalah pembantu di rumah ini, bisa-bisanya dia merangkak menjadi seorang nyonya yang tidak tahu diri. Sungguh menyebalkan!
Rangga Admajaya mengambil ponselnya, lalu dia melakukan video call pada wanita yang ada di balik layar. “Hey Mayangsari, apa yang kau lakukan sekarang? Apa kau ingin seks online?” Tanya pria itu sambil tersenyum dengan menggoda.
“Hahhaaa,. kau mau seks? Bukankah tadi aku sudah memberikan servis ekstra? Kau sangat lama keluar! Aku tidak sanggup lagi, Bebeh,” jawab Mayangsari sambil menggeleng dan membuat wajahnya seimut mungkin.
Rangga Admajaya terkekeh sambil menatap ke arah layar ponselnya. Dia sangat tergoda dengan wanita yang haus dengan belaian dan sangat manja. “Kau sangat seksi Mayangsari, aku ingin melihat yang biasanya aku mainkan! Bolehkan?”
“Apa yang tidak untukmu, Bebeh,.” jawab Mayangsari.
Wanita itu kemudian meletakkan ponselnya pada salah satu sudut agar tetap berdiri. Dengan musik India romantis, wanita itu membuka setiap lembaran pakaiannya. “Lihatlah, aku masih merah,.” Goda Mayangsari sambil memainkan miliknya yang kenyal ke depan kamera.”
Rangga Admajaya terkekeh, matanya tidak bisa berhenti memandang ke arah Mayangsari. “Aku masih ingin kau malam besok! Bisakah?”
Kini Mayangsari yang tertawa terbahak-bahak. Rangga Admajaya adalah pelanggan yang sangat dia nikmati, belum lagi uang jajan yang pria itu berikan bisa membeli satu unit minibus murah meriah. Bagi pria tampan bertubuh kekar tersebut, kepuasan adalah yang utama. Jika dia tidak bisa merasakan kepuasan, maka jangan harap mendapatkan apapun.
“Apa kau sudah beritahu Papi?”
“Apa yang bisa dia lakukan padaku, selain menurut?” jawab Rangga Admajaya dengan angkuhnya.
Mayangsari kembali tertawa! Sekarang wanita itu membuka pakaian bawahnya hingga tidak tersisa sedikit pun. Dengan nakalnya dia berlenggok tanpa busana. Lalu dengan manja, dia berkata kembali pada Rangga Admajaya, pria yang sedang menggigit siku jari telunjuknya. “Aku ingin melihat kau menggunakan alat yang aku lihat malam itu, bagaimana?”
“Kau benar-benar nakal, Rangga Admajaya!”
Setelah menjawab itu, Mayangsari berjalan ke arah almarinya. Dengan langkah menggoda Mayangsari memposisikan ponselnya. Lalu dia mengarahkan pada pria yang sedang menonton aksinya.
Mayangsari mengerang saat benda tersebut memasuki dirinya, dia tidak berhenti menggeliat dan mengumpat karena nikmat yang dirinya rasakan. Apalagi saat dia mengganti mode getar, Mayangsari tampak begitu aksi sambil memainkan area sensitif yang lain. “Kau sangat seksi,” lagi-lagi Rangga Admajaya melemparkan pujian.
“Benarkah? Apa kau menghisapnya?” Mayangsari menyodorkan ujung benda kenyal pada kamera hingga layar itu penuh dengan benda berwarna merah muda.
Rangga Admajaya sangat suka, apalagi saat kedua ujung benda tersebut mengeluarkan ASI. Sebenarnya, Mayangsari adalah wanita yang memiliki satu anak laki-laki buah cinta bersama suami tercinta yang tega mengkhianati dirinya. Kini bayi laki-laki Mayangsari berumur lima bulan.
Selain itu, Mayangsari bukanlah orang di bawah taraf hidup. Dia adalah wanita kaya, keluarganya pejabat pemerintah. Rangga Admajaya tahu alasan wanita itu menjadi nakal bukanlah karena dia ingin uang. Tapi lebih karena wanita itu mengutuk dirinya sendiri dan melampiaskan dengan seks.