Don 5

799 Kata
Suasana kantin menjadi riuh saat kelima most wanted memasuki kantin. Nayra dan temannya melihat siapa yang memasuki kantin. "Reynand lagi Reynand lagi," gerutu Stephani menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Nayra. "Mereka berlima itu most wanted boy di sekolah ini dan dijuluki badboy. Mereka memang famous di sekolah Galaksi apalagi di kalangan siswi jadi nggak heran," jelas Jenni. "Aaaa Reynand makin ganteng aja." "Bang Kenny ngedipin mata ke gue aaaaa." "Donerald mukanya datar tambah cool aja." "Babas gue tuh liat Begitulah teriakan histeris dari siswi yang ada di kantin. Saat melihat kelima most wanted boy itu memasuki kantin. Kelima cowok itu menghampiri meja nayra dan temannya. "Eh Neng Sisil," sapa Bastian saat melihat Sisil. "Sisil lagi nggak mau di ganggu sama makhluk astral!" sinisnya. "Ganteng ganteng gini dibilang makhluk astral!" kesal Bastian tak terima. "Ganteng dari mana somplak!" sungut Kenny menoyor kepala Bastian. "Eh Nayra mau kemana?" tanya Vanya saat Nayra beranjak dari duduknya. "Pergi!" balasnya dingin. "Lah istirahat belum selesai Nay!" teriak Vanya mendapatkan toyoran dari Stephani. "Suara lo cempreng!" sentak Stephani, Vanya mengusap kepalanya. "Lah Nerald lo mau kemana juga?" teriak Kenny saat Donerald pergi meninggalkan kantin dengan sedikit berlari. "Ngapa dah tuh bocah," heran Bastian dijawab kedikan bahu oleh Kenny. "Oh ya tadi itu anak baru kan?" tanya Farel. "Iya dia anak baru, orangnya dingin banget ngomongnya irit sama kayak lo," timpal Vanya. "Gue gak dingin amat!" ketus Farel. "Itu menurut gue kali!" Vanya memutar bola matanya malas. "Don gimana?" tanya Reynand. "Gara gara kemaren gue masih kesal sama si tuh Don Don!" ucap Bastian geram. "Gila aja dia permainankan kita!" ujar Stephani. "Sisil aja geram banget malah!" tambah Sisil dengan mengerucutkan bibirnya. "Lo kesini mau makan atau mau bahas Don?" Jenni mulai jengah. Karna pembasahan Don tiada akhirnya. "Eh lupa kita kan mau makan!" Kenny menepuk jidatnya. "Gue pesenin dulu," lanjutnya dan memesankan makanan. ¤¤¤¤ Nayra sedang berada di taman sekolah keadaan taman sepi ia duduk di bangku taman dengan melamun hingga suara seseorang yang sangat ia tak sukai membuyarkan lamunannya. "Kalo pembunuh yah pembunuh aja nggak usah menghindar!" ucap seseorang yang berada di belakang Nayra siapa lagi kalo bukan Donerald. Nayra berdiri dan melipat tangannya di depan d**a mengangkat sebelah alisnya. "Maaf tuan DONERALD saya tidak pernah mencoba membunuh kembaran saya sendiri. Tuduhan yang anda berikan ke saya itu semuanya hanya kesalahpahaman." "Kesalahpahaman yang mana? Jelas jelas anda mencoba membunuh saya dengan menembakkan pistol itu ke saya." "Pistol mainan itu tidak akan bisa membunuh orang tuan Donerald. Dan saya tidak merasa melakukan kejahatan terhadap anda." "Tidak melakukan kejahatan? Mana ada kembaran sendiri mencoba membunuh kembarannya?" "Jika anda datang kesini hanya untuk membahas masalah sebelas tahun yang lalu. Saya persilahkan anda pergi dari hadapan saya tuan Donerald!" "SEKALI PEMBUNUH TETAP PEMBUNUH!" "Pergi dari hadapan saya!" bentak Nayra yang sudah muak dikatakan pembunuh. Donerald pergi dari hadapan Nayra. Nayra luluh di atas rumput dengan isakan tangisnya. Sebetulnya ia hanya ingin diperlakukan layaknya kakak adik bukan diperlakukan layaknya memang seorang pembunuh. "Bang Nay kangen, Nay kangen main bareng Abang lagi hiks, Nay mau seperti dulu bukan kayak gini, Nay bukan pembunuh hiks Nay bukan mencoba bunuh Abang mana ada pistol mainan bisa bunuh orang hiks," lirihnya dengan isakan tangisnya itu. Dan tanpa ia sadari seseorang melihatnya di balik tembok. "Abang juga nggak percaya kamu mencoba melakukan itu. Tapi ego Abang lebih besar dari rasa hati Abang. Abang juga pengen kayak dulu lagi Nay," ucapnya dan pergi meninggalkan tempat itu. Nayra bangkit dari duduknya ia berjalan menuju toilet untuk mencuci mukanya yang sembab itu. Dan kembali lagi kekelas karna bel masuk sudah berbunyi. "Loh Nay mata lo sembab. Lo abis nangis?" Stephani menangkup pipi Nayra. "Engga!" jawab Nayra ketus. "Keadaan kayak gini masih sempat aja lo ngirit ngomong," cibir Vanya. "Nayra bilang sama Sisil siapa yang udah buat Nayra kayak gini biar Sisil hajar tuh orang!" geramnya sambil mengepalkan tangannya dan mengangkatnya tinggi tinggi. "Sok banget lo," sindir Jenni. "Biarin aja wlee," Sisil menjulurkam lidah nya ke arah Jenni. Jenni memutar bola matanya malas. Guru yang mengajarkan memasuki kelas. Dan jam pelajaran dimulai hingga tak terasa jam sudah berlalu. Dan sekarang waktunya pulang. "Stephani gue nebeng lo ya," pinta Vanya kepada Stephani dan diangguki Stephani. "Lo pulang bareng siapa Jen, Sil?" tanya Stephani kepada temannya. "Sopir." "Kalo Sisil di jemput Mami. Katanya Mami mau kebutik." "Kalo lo Nay?" "Angkot," jawab Nayra. "Bareng gue aja," tawar Stephani. "Engga!" tolak Nayra dan meninggalkan temannya itu. "Emang dasar ngirit ngomong tuh bocah!" bete Vanya. "Bocah? Bocah mana yang ngirit ngomong Van?" tanya Sisil polos membuat Vanya menepuk jidatnya. "Sisil plis jangan lola ya," pinta Vanya. "Sisil nggak lola kok." "Iya Sisil nggak lola cuman kelamaan loading." Stephani jengah. Dan mereka pulang ke rumah masing masing. Sisil di jemput Maminya, Jenni di jemput sopirnya dan Stephani pulang bareng Vanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN