“Lagu kedua, Rid! Bumi ke langit!” seru Heru.
Selanjutny adalah Bumi ke Langit. Mereka pun menyanyikannya seperti sebelumnya. Heru untuk rap dan aku untuk nyanyian solo atau ketika chorus. Lagu pun dimulai.
“Teori simple tak sekomplek Teori Darwin
Tapi tak gampang seperti coba menangkap angin
Contoh: Standar manusia, tapi standar yang mana?
Karena semua ini lebih dari sebelumnya
Jiika satu tambah satu sama dengan dua
Kenapa hitunganku selalu tidak sama
Mungkin saja karena faktor X
Atau mungkin manusia selalu mengikuti teks
Terkadang anak panahku melesat jauh
Terkadang kutahu lalu kemudian jatuh
Aku coba bangkit meski pun sulit
Kecepatan penuh dari bumi ke langit.”
Giliran aku bernyanyi.
“Kucoba untuk bangkit, Bumi ke Langit
Meski terasa sulit dari bumi ke langit
Terbang melayang, bumi ke langit
Dari bumi ke langit, dari bumi ke langit.”
Kini masuk bagian rap. Heru kembali mengangkat mike nya.
“You, you, you can see me when I drop
Rise again, I rise again to top
Seperti kuturunkan kepala di atas debu
Saat bertemuNya walau jarang lima waktu
Mungkin kurasa apa yang kau rasakan
Dan mungkin kau tahu rasanya bila tertekan
Seringku bertingkah seperti Charlie Chaplin
Tak banyak bicara bergerak seperti mesin
Smooth, seperti tanpa gerakan
Mereka berpikir mungkin ku tak punya tujuan
Aku coba bangkit meski pun sulit
Kecepatan [enuh dari bumi ke langit.
Kucoba untuk bangkit, Bumi ke Langit
Meski terasa sulit, dari bumi ke langit
Terbang melayang, bumi ke langit
Dari bumi ke langit, dari bumi ke langit.
Untuk jawaban yang kuyakin ada di atas
Untuk kenikmatan yang kuyakin ada di atas
Agar kurasakan, biar kurasakan
Nikmatnya bernafas, ketenangan.
Kucoba untuk bangikit, bumi ke langit
Meski terasa sulit dari bumi ke langit
Terbang melayang, bumi ke langit
Dari bumi ke langit, dari bui ke langit.”
Lagu selanjutnya adalah Kita Selamanya yang sama-sama dinyanyian oleh Bondan Prakoso.
“Hey, yo. It’s not the end
It is just the beginning, yow, okay
Detak detik tirai mulai menutup panggung
Tanda skenario-eyo harus diusung
Lembaran kertas baru pun terbuka
Tinggalkan yang lama, biarkan sng pena berlaga
Kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
Pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
Masa jaya putih biru atau abu abu
Memori cerita cinta aku, dia dan kamu
Saat dia (dia) masuki alam pikiran
Ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
Cinta masa sekolah yang pernah terjadi
That was the moment a part of sweet memory
Kita membumi melangkah berdua
Kita ciptakan hangat sebuah cerita
Muli dewasa, cemburu dan bungah
Finally now, it’s our time to make a history
Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan
Tetap berpegang tangan dan saling berpelukan
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan
Kenangalah sahabat, kita untuk selamanya
Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
Satu cerita teringat di dalam hati
Karena kau berharga dalam hidupku teman
Untuk satu pijakan menuju masa depan
Langkah bersama tawa bersama
Berpacu dalam prestasi, huh, hal yang biasa
Satu persatu memori terekam
Di dalam api semangat yang tak mudah padam
Kuyakin kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
Kawan kau tahu kawan kau tahu kan?
Beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan
Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan dan saling berpelukan.
Berikan senyuman sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat kita untuk selamanya.
Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan dan saling berpelukan.
Berikan senyuman sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat kita untuk selamanya.
Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan dan saling berpelukan.
Berikan senyuman sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat kita untuk selamanya
Kita untuk selamanya…..”
Aku dan Heru beristirahat. Kami minum terlebih dahulu. Ternyata tiga lagu saja sudah seperti ini. Capeknya luar biasa. Keringat keluar dari seluruh pori-pori tubuh kami. Padahal hanya bernyanyi, bukan lari-lari. Kenapa bisa seperti ini?
Oh, ya. Dulu aku pernah menonton konsernya Slnak bersama ayah. Kulihat dari jauh, vokalisnya bahkan seluruh anggota band nya bercucuran keringat. Seperti habis lomba lari marathon. Suaranya pun sampai ngos-ngosan. Belum lagi, mereka bernyanyi di hadapan ribuan penonton. Mungkin merekea juga merasa tertekan mentalnya. Jadi pantas saja mereka sangat berkeringat. Terus, di panggung juga banyk lapu yan disorotkan kepadanya. Ditambah lagi gunsmoke. Jadi pantas saja mereka seperti itu.
Setelah kurang lebih lima menit. Heru mengajakku kembali untuk melanjutkan lagu yang keempat. Ya, apa bole buat kataku. Aku pun menyanggupi ajakannya.
Lagu selanjutnya berjudul Linting Daun, masih dinyanyikan oleh Bondan Prakoso. Yo, check this out!
“Lintin daun labat sangat
Lambat laun goyang goyang
Bikin manyun buat ati makin bimbang
Tawa canda mati rasa ngomong sendirian
Linting daun suntik tangan hirup asap obat ditelan
Ingin terbang melihat bintang
Over dosis rumah sakit nyawa pun melayang
Narkoba slalu membius kaum muda
Entah itu wanita pria waria semua sama
Awalnya coba-coba dan mulai tergoda
Ujung-ujungnya orang tua stress kepala
Pusing dengan anaknya sering ngelinting
Daun khas tananh rencong bangkitkan adrenalin
Terpacu terpancing sampai ke titik paling runcing
Jantung berdetak kencang sudah kayak kuda lumping
Bing, bing, bingo tepat sasaran menembus ruang khayalan
Ingin terbang membentuk bintang
Tapi yang kau hayalkan tak seperti kenyataan
Yang slama ini kau dapatkan
Rill, barang haram mulai memanggil
Rill, exstasi sabu buat kita gokil
Sel darah mu terasa makin mengecil
Maka dari itu barang haram tak baik tuk anak kecil
Linting daun labat sangat
Lambat laun goyang goyang
Bikin manyun buat ati makin bimbang
Tawa canda mati rasa ngomong sendirian
Linting daun suntik tangan hirup asap obat ditelan
Ingin terbang melihat bintang
Over dosis rumah sakit nyawa pun melayang
Dingin seujur tubuh itu tandanya sakaw
Pengen banget ngerasain bubuk-bubuk pataw
Ati lo pikiran lo masih kelihatan kacau
Kalau sudah gini pengen kembali ke masa lampau
Kecanduan, kasian banget lo kecanduan
Dari enggak make pikiran mulai bimbang
Nggak ada objek ngejual rumah di pegadaian
Hanya untuk kenikmatan dari barang hara,
Ihh najis kata yang pas untuk para junkies
Salaing tukeran suntik nyebarin virus Aids
Kalo sudah mabok ditemenin para ladies
Gituan semalaman paginya kena penyakit pens
Iblis merasuk di kehidupan mereka
Mendekati setiap saat ingin selalu terjamah
Djamah terjamah oleh tembunan narkoba
Tak ada ujung pantas sama dana masih ada
Linting daun labat sangat
Lambat laun goyang-goyang bikin manyun
Buat ati makin bimbang
Tawa canda mati rasa ngomong sendiriran
Lintting daun suntik tangan hirup asap obat ditelan
Ingin terbang melihat bintang
Over dosis rumah sakit nyawa pun melayang
Dan coba kau lihat di semua media
Banyak teman clubbers konsumsi narkoba
Dicidu, dijaring, dan kena razia
Dengan berat hati lo terpaksa di penjara
Di dalam LP pun lo memasok barang haram dari luar
Belum tobat karena status penjahat masih samar
Merasa belum tenar ogah ke jalan yang bena
Nusa kambangan tempat terakhir lo terdampar
Okelah kalau itu jalan hidupmu
Tapi hati-hati bisa terjerumus lebih jauh
Over dosis bisa menutup lembar kisahmu
Karena mau tak mau tuha telah memanggilmu
Jadi tolong antisipasi jangan sering konsumsi
Atau apa yang namanya cepat eiminasi
Selama masih ada panti rehabilitasi
Lo bisa slamat asal jangan kembali lagi
Linting daun labat sangat
Lambat laun goyang-goyang bikin manyun
Buat ati makin bimbang
Tawa canda, mati rasa ngomong sendirian
Linting daun suntik tangan hirup asap obat ditelan
Ingin terbang melihat bintang
Over dosis rumah sakit nyawa pun melayang.”