KAROKE

1184 Kata
“Lagu kedua, Rid! Bumi ke langit!” seru Heru.                 Selanjutny adalah Bumi ke Langit. Mereka pun menyanyikannya seperti sebelumnya. Heru untuk rap dan aku untuk nyanyian solo atau ketika chorus. Lagu pun dimulai.                 “Teori simple tak sekomplek Teori Darwin                 Tapi tak gampang seperti coba menangkap angin                 Contoh: Standar manusia, tapi standar yang mana?                 Karena semua ini lebih dari sebelumnya                   Jiika satu tambah satu sama dengan dua                 Kenapa hitunganku selalu tidak sama                 Mungkin saja karena faktor X                 Atau mungkin manusia selalu mengikuti teks                   Terkadang anak panahku melesat jauh                 Terkadang kutahu lalu kemudian jatuh                 Aku coba bangkit meski pun sulit                 Kecepatan penuh dari bumi ke langit.”                 Giliran aku bernyanyi.                 “Kucoba untuk bangkit, Bumi ke Langit                 Meski terasa sulit dari bumi ke langit                 Terbang melayang, bumi ke langit                 Dari bumi ke langit, dari bumi ke langit.”                 Kini masuk bagian rap. Heru kembali mengangkat mike nya.                 “You, you, you can see me when I drop                 Rise again, I rise again to top                 Seperti kuturunkan kepala di atas debu                 Saat bertemuNya walau jarang lima waktu                 Mungkin kurasa apa yang kau rasakan                 Dan mungkin kau tahu rasanya bila tertekan                 Seringku bertingkah seperti Charlie Chaplin                 Tak banyak bicara bergerak seperti mesin                 Smooth, seperti tanpa gerakan                 Mereka berpikir mungkin ku tak punya tujuan                 Aku coba bangkit meski pun sulit                 Kecepatan [enuh dari bumi ke langit.                 Kucoba untuk bangkit, Bumi ke Langit                 Meski terasa sulit, dari bumi ke langit                 Terbang melayang, bumi ke langit                 Dari bumi ke langit, dari bumi ke langit.                 Untuk jawaban yang kuyakin ada di atas                 Untuk kenikmatan yang kuyakin ada di atas                 Agar kurasakan, biar kurasakan                 Nikmatnya bernafas, ketenangan.                 Kucoba untuk bangikit, bumi ke langit                 Meski terasa sulit dari bumi ke langit                 Terbang melayang, bumi ke langit                 Dari bumi ke langit, dari bui ke langit.”                 Lagu selanjutnya adalah Kita Selamanya yang sama-sama dinyanyian oleh Bondan Prakoso.                 “Hey, yo. It’s not the end                 It is just the beginning, yow, okay                 Detak detik tirai mulai menutup panggung                 Tanda skenario-eyo harus diusung                 Lembaran kertas baru pun terbuka                 Tinggalkan yang lama, biarkan sng pena berlaga                 Kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu                         Pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu                 Masa jaya putih biru atau abu abu                 Memori cerita cinta aku, dia dan kamu                   Saat dia (dia) masuki alam pikiran                 Ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan                 Cinta masa sekolah yang pernah terjadi                 That was the moment a part of sweet memory                 Kita membumi melangkah berdua                 Kita ciptakan hangat sebuah cerita                 Muli dewasa, cemburu dan bungah                 Finally now, it’s our time to make a history                 Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan                 Tetap berpegang tangan dan saling berpelukan                 Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan                 Kenangalah sahabat, kita untuk selamanya                 Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori                 Satu cerita teringat di dalam hati                 Karena kau berharga dalam hidupku teman                 Untuk satu pijakan menuju masa depan                 Langkah bersama tawa bersama                 Berpacu dalam prestasi, huh, hal yang biasa                 Satu persatu memori terekam                 Di dalam api semangat yang tak mudah padam                 Kuyakin kau pasti sama dengan diriku                     Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu                 Kawan kau tahu kawan kau tahu kan?                 Beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan                 Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan                 tetap berpegang tangan dan saling berpelukan.                 Berikan senyuman sebuah perpisahan                 Kenanglah sahabat kita untuk selamanya.                 Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan                 tetap berpegang tangan dan saling berpelukan.                 Berikan senyuman sebuah perpisahan                 Kenanglah sahabat kita untuk selamanya.                 Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan                 tetap berpegang tangan dan saling berpelukan.                 Berikan senyuman sebuah perpisahan                 Kenanglah sahabat kita untuk selamanya                 Kita untuk selamanya…..”                 Aku dan Heru beristirahat. Kami minum terlebih dahulu. Ternyata tiga lagu saja sudah seperti ini. Capeknya luar biasa. Keringat keluar dari seluruh pori-pori tubuh kami. Padahal hanya bernyanyi, bukan lari-lari. Kenapa bisa seperti ini?                 Oh, ya. Dulu aku pernah menonton konsernya Slnak bersama ayah. Kulihat dari jauh, vokalisnya bahkan seluruh anggota band nya bercucuran keringat. Seperti habis lomba lari marathon. Suaranya pun sampai ngos-ngosan. Belum lagi, mereka bernyanyi di hadapan ribuan penonton. Mungkin merekea juga merasa tertekan mentalnya. Jadi pantas saja mereka sangat berkeringat. Terus, di panggung juga banyk lapu yan disorotkan kepadanya. Ditambah lagi gunsmoke. Jadi pantas saja mereka seperti itu. Setelah kurang lebih lima menit. Heru mengajakku kembali untuk melanjutkan lagu yang keempat. Ya, apa bole buat kataku. Aku pun menyanggupi ajakannya. Lagu selanjutnya berjudul Linting Daun, masih dinyanyikan oleh Bondan Prakoso. Yo, check this out! “Lintin daun labat sangat Lambat laun goyang goyang Bikin manyun buat ati makin bimbang Tawa canda mati rasa ngomong sendirian Linting daun suntik tangan hirup asap obat ditelan Ingin terbang melihat bintang Over dosis rumah sakit nyawa pun melayang Narkoba slalu membius kaum muda Entah itu wanita pria waria semua sama Awalnya coba-coba dan mulai tergoda Ujung-ujungnya orang tua stress kepala Pusing dengan anaknya sering ngelinting Daun khas tananh rencong bangkitkan adrenalin Terpacu terpancing sampai ke titik paling runcing Jantung berdetak kencang sudah kayak kuda lumping Bing, bing, bingo tepat sasaran menembus ruang khayalan Ingin terbang membentuk bintang Tapi yang kau hayalkan tak seperti kenyataan Yang slama ini kau dapatkan Rill, barang haram mulai memanggil Rill, exstasi sabu buat kita gokil Sel darah mu terasa makin mengecil Maka dari itu barang haram tak baik tuk anak kecil Linting daun labat sangat Lambat laun goyang goyang Bikin manyun buat ati makin bimbang Tawa canda mati rasa ngomong sendirian Linting daun suntik tangan hirup asap obat ditelan Ingin terbang melihat bintang Over dosis rumah sakit nyawa pun melayang Dingin seujur tubuh itu tandanya sakaw Pengen banget ngerasain bubuk-bubuk pataw Ati lo pikiran lo masih kelihatan kacau Kalau sudah gini pengen kembali ke masa lampau Kecanduan, kasian banget lo kecanduan Dari enggak make pikiran mulai bimbang Nggak ada objek ngejual rumah di pegadaian Hanya untuk kenikmatan dari barang hara, Ihh najis kata yang pas untuk para junkies Salaing tukeran suntik nyebarin virus Aids Kalo sudah mabok ditemenin para ladies Gituan semalaman paginya kena penyakit pens Iblis merasuk di kehidupan mereka Mendekati setiap saat ingin selalu terjamah Djamah terjamah oleh tembunan narkoba Tak ada ujung pantas sama dana masih ada Linting daun labat sangat Lambat laun goyang-goyang bikin manyun Buat ati makin bimbang Tawa canda mati rasa ngomong sendiriran Lintting daun suntik tangan hirup asap obat ditelan Ingin terbang melihat bintang Over dosis rumah sakit nyawa pun melayang Dan coba kau lihat di semua media Banyak teman clubbers konsumsi narkoba Dicidu, dijaring, dan kena razia Dengan berat hati lo terpaksa di penjara Di dalam LP pun lo memasok barang haram dari luar Belum tobat karena status penjahat masih samar Merasa belum tenar ogah ke jalan yang bena Nusa kambangan tempat terakhir lo terdampar Okelah kalau itu jalan hidupmu Tapi hati-hati bisa terjerumus lebih jauh Over dosis bisa menutup lembar kisahmu Karena mau tak mau tuha telah memanggilmu Jadi tolong antisipasi jangan sering konsumsi Atau apa yang namanya cepat eiminasi Selama masih ada panti rehabilitasi Lo bisa slamat asal jangan kembali lagi Linting daun labat sangat Lambat laun goyang-goyang bikin manyun Buat ati makin bimbang Tawa canda, mati rasa ngomong sendirian Linting daun suntik tangan hirup asap obat ditelan Ingin terbang melihat bintang Over dosis rumah sakit nyawa pun melayang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN