Syakila sesekali tersenyum tipis. Menertawakan dirinya sendiri yang kini tengah duduk di kursi. Menatap lalu lalang pekerja rumah tangga Alvin, yang tengah menata koper ke dalam mobil. Ia benar-benar merasa geli dengan nasibnya saat ini.
Terpaksa menikah dengan pria yang sangat membencinya, dengan dalih menjalani hukuman karena membantu sang pengantin wanita untuk kabur. Dan tadi malam ia mendengar dengan jelas kalau sang pengantin wanita ingin pernikahannya kembali dilangsungkan. Benar-benar mengejutkan, sekaligus sangat lucu jika di ingat bagaimana dulu Rachel merengut dan marah saat tahu akan dijodohkan dengan Alvin.
Dan semalam? Rasanya Syakila tidak percaya Rachel mengatakan ingin kembali kepada Alvin. Tapi, nyatanya itu yang terjadi. Dalam diam Syakila mencoba menerka kemungkinan apa yang terjadi di malam pernikahannya dengan Alvin, sampai-sampai Rachel memintanya untuk kembali.
"Mungkinkah?" gumam Syakila dalam hati. Tatapannya segera terarah kepada Alvin yang sedang berdiri di depannya. Bersandar pada tiang teras, dengan ponsel di tangannya.
Kedua alis Syakila bertaut. Saat tatapannya mengarah ke kerah kemeja yang dikenakan Alvin. Tempat di mana malam itu ia tidak sengaja melihat tanda merah keuangan di sana.
Syakila menggelengkan kepalanya. Seraya tersenyum tipis ia membayangkan jika malam itu Rachel dan Alvin bertemu. Dan, ya siapa saja bisa menebak apa yang mereka berdua lakukan.
Namun, balik lagi ke awal masalah. Itu bukanlah urusannya dan Syakila tidak peduli itu.
Alvin mau berhubungan dengan Rachel, mau terjun dari atas bukit, bahkan mau hilang di segitiga Bermuda pun Syakila tidak peduli. Pernikahannya dengan Alvin seratus persen adalah kepalsuan dan hanya bentuk dari hukuman dari sang ayah saja. Tidak lebih.
"Kalau ada apa-apa kamu segera hubungi ayah dan Bunda. Kami akan segera datang secepat mungkin untuk mengunjungi dirimu," tutur Selena dengan suara yang agak berat.
Wanita paruh baya itu tengah susah payah menahan tangisannya karena ini adalah hari terakhirnya bertemu dengan putri sulungnya.
Syakila hanya mengangguk saja. Tidak ada sedikitpun niatnya untuk mengucapkan sepatah atau beberapa patah kata. Sebagai bentuk protes telah dipaksa menikah dengan Alvin.
Malam itu Syakila ingin menjelaskan apa yang membuatnya membantu Rachel untuk kabur. Tapi, sang ayah malah membentak dan memintanya untuk diam. Dan itu yang kini ia lakukan. Diam, mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Kamu harus jaga Syakila dengan baik. Sekali saja dia sakit karena perlakuanmu, maka kamu akan mendapatkan balasan lebih dari apa yang telah kamu lakukan padanya," ucap Adnan, setelah Alvin dan Syakila masuk ke mobil.
Sebuah kalimat dengan deretan penegasan, yang tidak boleh dibantah. Dan dibalik kalimat tersebut Adnan seakan menegaskan sudah ada konsekuensi yang dipersiapkan jika Alvin melanggar.
Alvin yang tidak ingin tahu itu apa hanya mengangguk saja. Tapi, tatapannya tertuju pada Rachel yang turut menyaksikan kepergiannya.
Gadis itu tampak lesu melihat Alvin masuk ke mobil. Seakan tidak terima akan berpisah, padahal kisah mereka belum jelas hitam di atas putihnya. Alvin belum memberikan kepastian apakah akan menceraikan Syakila atau tidak. Pria itu hanya memberikan alamat rumahnya di Kalimantan, agar mempermudah Rachel jika ingin menyusul kesana.
"Meskipun kamu ikut denganku, hubungan kita tidak akan pernah bisa berjalan sebagaimana mestinya sepasang suami istri!" ucap Alvin dengan suara yang sangat datar, tapi terdengar penuh dengan ketegasan.
"Terserah! Aku tidak akan pernah peduli dengan status istri yang tersemat padaku!" elak Syakila. Dengan tatapan yang begitu tajam.
Ia tidak suka melihat Alvin yang bersikap seakan dirinyalah yang menjebak Rachel hingga lari. Seakan dirinya sengaja mengadu domba agar bisa menikah dengan Alvin. Tidak! Bukan Syakila namanya jika diam saja dituduh ini dan itu.
"Itu hanya di mulutmu saja. Sebenarnya kamu bahagia atas pernikahan kita berdua," sindir Alvin. Merasa kalah dari Syakila, ia kembali mengucapkan kalimat yang lebih menegaskan kemana arah pembicaraan mereka.
Alih-alih membalas, Syakila justru memasang earphone di kedua telinganya. Menyalakan musik dengan suara yang sangat tinggi, sebelum berucap,
"Sampai mati pun aku tidak akan pernah mau menganggap kamu ada. Apalagi mencintaimu. Dan itu akan aku pegang hingga nyawa pergi dari jasadku!"
Alvin tersenyum tipis. Mengejek kata-kata yang keluar dari mulut Syakila. Menurutnya itu hanyalah sebuah bualan yang digunakan Syakila untuk menutupi rasa cinta yang dimiliki.
Meskipun keyakinan Alvin begitu, ia tak lagi mengucapkannya. Ia tahu bagaimana sifat Syakila yang tidak ingin kalah dalam berdebat.
Daripada dilawan dan akan membuat perdebatan antara mereka semakin panas, Alvin memilih diam dan mengejek di dalam hati saja. Itu sudah cukup. Lagipula Rachel sudah mengirimkan banyak pesan singkat untuknya, seiring dengan pergerakan mobil yang ditumpangi.
Di dalam pesan yang dikirimkannya, Rachel menunjukkan betapa ia menyesal telah lari hingga pernikahan mereka batal. Rachel juga mengatakan menyesal telah mendengarkan keinginan Syakila yang memintanya untuk lari. Semua kesalahannya ditumpahkan kepada Syakila, agar mendapatkan pembenaran.
Rachel melakukannya bukan karena tega atau apa. Hanya saja ia yakin Syakila tidak suka dengan pernikahannya dengan Alvin. Jadi ia ingin membantu memisahkan mereka berdua, agar bisa menikah dengan Alvin dan lari dari Adrian.
Alvin yang masih ragu apakah harus percaya kepada Rachel atau tidak, sesekali melirik ke arah Syakila yang tengah menatap keluar jendela. Bibir istrinya itu tampak bergerak samar. Mengikuti lirik lagu yang sedang didengarkannya.
Dari air wajahnya Syakila tampak gelisah
Tidak nyaman dengan kebersamaan mereka saat ini. Membuat rasa bimbang di hati Alvin semakin besar saja.
***
Berpisah dari kedua orangtuanya saja sudah membuat Syakila tidak enak hati. Kini ditambah pula ia harus tinggal bersama Alvin untuk kurun waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tidak tahu sampai kapan mereka berdua harus hidup berdampingan. Tapi, tetap saja Syakila harus menerima karena memang tidak ada pilihan yang lain.
"Selama tinggal di sini kamu akan tidur di kamar tamu. Agar kita tidak terlalu sering bertemu," ucap Alvin. Begitu mereka sampai di kediamannya. Tepatnya di sebuah rumah yang cukup mewah, berada jauh dari pusat kota. Perusahaan Alvin yang bergerak di bidang pertambangan dan sewa alat berat, tentu saja harus berdiri jauh dari kota.
Selain itu Alvin juga tidak menyukai suasana yang bising. Ia lebih menyukai suasana hening, dengan udara yang segar. Sehingga pinggiran kota yang identik dengan pepohonan adalah pilihan yang sangat tepat.
"Tidak perlu khawatir. Aku disini bukan untuk menjadi istrimu." Syakila menarik kedua sudut bibirnya. "Cukup katakan di mana kamar itu. Setelah itu kamu bisa pergi jauh." Mengangkat tinggi dagunya. Menunjukkan betapa angkuhnya dirinya.
Alvin menghela nafas panjang. Menunjuk satu kamar yang ada dekat sebuah pintu, menuju ke arah belakang. Jika Syakila tidak salah menebak, pintu yang cukup besar tersebut terhubung dengan ruang makan dan dapur.
"Oke," sahut Syakila singkat. Membawa kopernya menuju ke kamar yang dimaksud Alvin.
Tidak buruk. Dua kata yang langsung melintas di pikiran Syakila. Saat kakinya mulai memasuki kamar yang dimaksud.
Kamar yang ditempati cukup luas. Dengan jendela yang menghadap ke arah kolam renang. Di depan sana ada susunan pohon Pinus yang sangat menakjubkan. Cukuplah untuk menghibur rasa suntuk Syakila dalam menjalani hari-harinya nanti.