Amelia menatap fanitur ruangan yang sagat sederhana, tapi terasa hangat dan nyaman. Pria yang ada di hadapannya, adalah pemilik rumah. Postur tubuhnya lumayan meskipun berusaha sekitar empat puluhan. Matanya tajam, membuat orang yang dipandangi merinding ketakutan. Beberapa kali, Amelia menelan ludahnya kepayahan sebab tatapan pria itu tak biasa terhadapnya. Seperti curiga, atau sedang menelisik. Bisa jadi kalau dia berpikir negatif tentangnya. “Terimakasih sudah menyambut ku dengan baik, Tuan.” Hampir saja Amelia mati karena jantungan. Bayangkan saja, setelah ada orang asing bercerita mengenai rumah itu, seseorang menepuk bahunya tanpa menyapa dulu. Untung saja dia pemilik rumah, mengizinkannya masuk ke dalam sebagai tamu. “Apa yang membuat nona datang kemari?” Pria itu duduk deng

