Bab 1

1106 Kata
Bahagia, cinta, kesedihan, khawatir, cemas, dan juga ketakutan adalah rasa yang selalu ada di dalam diri manusia. Rasa yang terus berjalan di sekeliling tanpa henti. Terkadang, rasa itu berubah dalam sekejap mata. Tak heran, banyak karakter manusia plin-plan yang ada di sekitar kita, termasuk cinta. Cinta yang abadi adalah cinta yang tak terpisahkan. Akan tetapi, cinta harus terpisah jika kematian datang menjadi penghalang diantara keduanya. Tidak ada batasan yang akan menjadikan jarak kecuali kematian. Bagi seseorang, mencintai adalah sebuah anugrah terbesar dalam hidupnya. Seberapa pun banyak uang yang diberikan. Tak akan mampu mengganti cinta. Karena cinta adalah sumber kebahagian. Apa jadinya jika seorang yang kita cintai tergolek lemah tak berdaya, bersimbah darah di antara kobaran api. Hal ini terjadi kepada seorang gadis yang tengah berlari menerobos kerumunan masa. Ada alasan dibalik itu semua, kekasihnya terjebak diantara mobil dan tidak bisa keluar. Genangan darah yang terus mengalir menjadi bukti bahwa peristiwa yang di hadapannya benar-benar nyata. Ia menangis histeris, hendak mendekat. Namun, seseorang menghalanginya untuk mendekat. Tetesan hujan di saat malam itu menjadi sebuah bukti nyata akan kepedihan dari gadis yang tengah menangis tanpa henti tersebut. “Tidak...!” teriaknya dengan keras. Setelah gadis itu berteriak, mobil itu meledak hebat. Orang yang berada di dalam ikut terbakar juga. “Ramon....!” Sesak tak berdaya menjadi satu dalam jiwa gadis itu. kekasih yang selalu bersamanya sudah tidak ada lagi. Hilang sudah harapan yang dipupuk bersama. Keinginan untuk mengarungi masa tua sudah tak berlaku. Gadis itu merosotkan tubuhnya ke bawah dengan keadaan bergetar hebat. Baru saja mereka melakukan panggilan telpon seakan panggilan itu adalah pesan dari pria yang bernama Ramon. “Lian,” panggil seseorang lirih sambil meneteskan air mata, tak percaya atas apa yang dilihat. Gadis itu menoleh dengan wajah penuh kesedihan, “Ramon, July. Dia ... ada disana. Tolong dia...” isaknya tertahan. Juli memeluk Lian dengan erat, “Ini hanya mimpi. Tidurlah... semua akan baik-baik saja. Relakan dia.” Kata-kata gadis itu bagaikan mantra yang membuat Lian tenang, kemudian tertidur dalam pelukannya. Berita kecelakaan yang mengakhibatkan Ramon Krish meninggal tersebar diseluruh Kota Paris. Banyak orang menyalahkan Lian atas kejadian tersebut. Sebab pada saat itu, Ramon pergi menemui gadis itu untuk menjemputnya. Para netizen terus merundung Lian tanpa henti. Sampai akhirnya, gadis itu tertekan dan deprisi. Hanya Juli seorang yang selalu setia berada di sampingnya. Dua Bulan Kemudian Lian menatap goreden jendela yang terus berkibar karena angin kencang. Cahaya matahari yang masuk ke dalam celah jendela membuatnya tergerak untuk menyibakkan gorden. Gadis itu terus menatap ke arah langit yang cerah, kemudian beralih menatap ke bawah. Banyak orang yang beraktivitas pagi seperti biasa, berangkat kerja dan sekolah. Terkadang, Lian sampai bosan melihatnya. “Sampai kapan kau terus seperti ini?” kata seseorang di ujung pintu. Lian menoleh dengan rambut acak-acakan. Tubuhnya sedikit mengurus dan tak terawat. Wajar saja, kekasih yang dicintai sudah tiada. “Kau harus bangkit, Lian. Jika Ramon melihatmu seperti ini, dia tak akan bahagia.” Gadis itu mendekat ke arah Lian. “Apa gunanya? Aku hanya ingin bersama Ramon, July.” Lian berjalan menuju ke sisi kanan ranjang, mengambil pigora dengan wajah yang sendu. Tetesan air mata pun keluar tanpa henti. “Bagiku, Ramon adalah segalanya. Cintaku tak akan tergantikan, July.” Begitu besar cinta Lian kepada Ramon. Tuhan terlalu kejam karena telah memisahkan mereka di saat perasaan itu terus mengakar dan tumbuh. “Ramon adalah kenangan, Lian. Kau harus bangkit.” July selalu menasehati Lian tanpa henti, “Ini sudah satu bulan. Para readers sudah menantikan novelmu selanjutnya.” Sekali lagi, gadis itu membujuk Lian agar menjalani kehidupannya seperti dulu. Sebenarnya, Lian ingin bangkit dan menjalani aktivitasnya seperti sedia kala. Akan tetapi, saat ia mulai melangkah maju, bayangan Ramon selalu menghantuinya. Segala tentang kehidupan pria itu selalu mengiringi kehidupan Lian. “Aku tak bisa,” jawab Lian dengan nada lemas, kemudian meletakkan pigora kembali ke atas nakas. July pun mendekatinya dengan perlahan, mengusap bulir kristal yang terus menetes tanpa henti dipipi gadis itu. “Cintamu begitu abadi, Lian. Tapi, kau harus bangkit kembali untuk menunjukkan kepada dunia kalau bukan kau penyebab semua kecelakaan itu.” July terpaksa berkata hal itu karena menurutnya itulah takdir yang tak bisa di lawan oleh manusia. “Seandainya waktu bisa di putar kembali, aku tak akan memintanya untuk datang setelah berpergian jauh.” Rasa penyesalan Lian terus menggerogoti tubuhnya. Ia menganggap bahwa kecelakaan itu adalah kesalahaanya. Seharusnya, rasa egois yang dimiliki dikubur hidup-hidup. “Aku yang telah membunuhnya, July.” Lian menangis terisak di dalam pelukan July dengan sangat erat. Jika bisa diganti, ia ingin menukar kehidupannya dengan Ramon. Karena, pria baik itu pantas mendapatkan hidup yang panjang. “Sudah... jangan menangis lagi, hem. Ramon akan sedih jika kau terus seperti ini.” Setelah July berkata seperti itu, pigora yang berisi foto Lian dan Ramon jatuh ke lantai. Kedua gadis itu langsung menatap ke arah benda yang pecah itu. Lian langsung melepas pelukan July, “Kenapa foto itu bisa jatuh? Tidak ada angin.” Gadis itu mengambil foto yang terlepas dari pigora. “Biar aku yang membersihkannya,” kata July sambil jongkok. Ia merasa ada angin yang lewat dibelakangnya dengan sangat cepat sehingga menoleh ke belakang. “Ada apa?” tanya Lian sambil mengerutkan dahi, “Aku akan mengambil pigora baru di lemari.” Ia berjalan menuju ke lemari dan membukanya dengan perlahan. Ternyata di dalam benda kayu itu tak ada pigora baru sama sekali. “Aneh... seharusnya aku masoh menyimpan dua buah pigora lagi disini. Tapi, kenapa sekarang kosong?” Lian menutup kembali pintu lemari, kemudian menoleh ke arah July yang masih terbengong. “July...” panggil Lian dengan lembut. Namun, July tetap terbengong seperti memikirkan sesuatu. “July!” kali ini, Lian berteriak dengan sangat keras sehingga membuat July sedikit tersentak kaget. “A-ada apa?” jawab July dengan gugup, kemudian tersenyum dengan sangat lebar. Lian yang melihat itu mengertukan dahi berulang kali, “Apa yang kau pikirkan?” Belum sempat July menjawab, gorden jendela yang berada di sisi samping mereka berkibar dengan sangat cepat. Mereka langsung menoleh dan berteriak dengan sangat keras karena melihat bayangan hitam di belakang gorden. July dan Lian langsung terbangun dari tidurnya dan masih dalam kondisi berpelukan. Nafas mereka memburu seperti orang yang baru saja lari di kejar oleh anjing. “Mimpi buruk!” teriak mereka secara bersamaan. Keduanya tak menyangka akan tertidur dalam kondisi berpelukan. Keduanya mengira ada semacam magic yang membuat lengah tak berdaya, sehingga meruntuhkan pertahanan. “Pigora itu tak pecah!” seru July sambil menunjuk ke arah pigora, kemudian memandang wajah Lian yang sedikit pucat. “Ada yang aneh... kenapa mimpi kita sama!” Lian ,enatap ke arah July dengan wajah tak percaya. Ia kemudian beralih ke arah gorden jendela, “Warna gorden berbeda.” Gadis itu ingat dengan warna gorden yang ada di dalam mimpinya berwarna merah jambu, yaitu warna kesukaan Ramon. “Merah jambu!” teriak July dengan keras sambil menutup mulutnya tak percaya. Keduanya langsung menatap keseluruh penjuru ruangan, berharap bahwa mimpi yang di alami akan menjadi kenyataan. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN