Dari ujung pintu kamar ayah dan ibu, rupanya kak Sarah melihat ayahnya memukul dan menampar Ibu. Saat itu, ibu hanya diam dan menangis. Beliau tidak mengelak ataupun membalas perlakuan kasar ayah padanya. Melihat semua itu, air mata kak Sarah menetes deras karena ia tidak pernah melihat ayah seperti itu. Tanpa disadari, ayah melihatnya dari dalam kamarnya. Lalu, beliau keluar dan memanggil si mbok, dengan nada suara yang tinggi. Saat itu, aku dapat melihat mata ayah yang berkaca-kaca seakan menahan rasa sakit yang dalam. "Iya, Tuan ... ," sahut si mbok sambil berlari ke depan pintu kamar ayah. "Bawa Sarah pergi dari sini!" ucap Ayah dengan nada membentak. "I-iya, Tuan," sahut si mbok dengan suara terbata-bata. Lalu mbok menarik lembut tangan kak Sarah, agar ikut bersamanya. Saat suda

