Kalopsia 4

1777 Kata
Suasana malam yang menyenangkan. Istri abah membuat hidangan makan malam khas desa dengan ikan yang di bungkus dengan daun pisang, biasanya penduduk kampung menyebutnya pepes ikan. Awalnya Nana takut-takut ingin merasakan pepes itu. Abah menyuruh untuk mencobanya sedikit saja, siapa tahu Nana tidak suka pedas. Ketika di buka aroma harum. Tercium pekat, kepul asap makanan itu tercium lezat. Baru saja istri abah mengangkatnya dari panggangan. Ternyata di dalamnya adalah ikan yang di bungkus dengan berbagai macam bumbu. Walau pun ikan tapi bagi Nana ini adalah pertama baginya. Normal saja ia sedikit takut-takut. Istri Nana tersenyum melihat tingkah Nana. Begitu Nana merasakan makanan itu, seketika ia tersenyum, walau ini baru baginya tapi rasanya tidak terlalu buruk. Nana melanjutkan makannya dengan lahap. Selera makannya baik. Setelah ini Arya harus mencoba masakan satu ini, pasti ia sangat suka. Meja makan itu terlihat syahdu. Istri Abah memandangi Nana terus menerus sambil tersenyum. Seolah melihat anaknya sendiri. Nana tahu bahwa istri Abah memandanginya, ia biarkan itu. Tidak ada salahnya bukan. “Eh, ngomong-ngomong di mana anak Bibi?” tanya Nana polos. “Anak perempuan Bibi sedang ikut dengan suaminya di luar kota, sudah jarang sekali berkunjung ke sini. Tapi selama ia hidup bahagia di sana, Bibi tidak keberatan. Mungkin juga ia sibuk dengan pekerjaannya. Ia adalah anak Bibi satu satunya, sama sepertimu, Nak. Ia suka sekali makan, waktu seumuran sepertimu, ia sudah pandai memasak sendiri, Bibi yang mengajarinya. Ketika melihat wajah cantik mu, Bibi teringat dengannya,” terang Istri Abah, matanya terlihat seperti mengenang hari-hari yang menyenangkan, ketika kebersamaan dalam sebuah lingkup keluarga berjalan semestinya. Bahagia dan penuh harmoni. Kadang kita juga harus rela ketika orang yang kita sayangi pergi bukan untuk menjauh, hilang bukan untuk tidak ingin bertemu lagi, tapi mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing, atau bahkan titipan itu sudah bergilir kepadanya, kembali ke pangkuan sang Ilahi. Nana mangut-mangut memperhatikan. Di mulutnya masih ada sisa makanan. Ia sangat suka dengan makanan ini. Pepes atau entah apalah namanya, yang jelas ikan bungkusan daun pisang ini yang terbaik. Tak lama Abah undur diri, piringnya sudah tandas sedari tadi, ia ada urusan. Sepasang suami istri itu telah memperlakukan Nana sebagaimana anaknya sendiri. Ia juga harus menghormati selayaknya orang tuanya sendiri. “Kamu suka makan tapi tubuhmu masih ideal. Kau memiliki selera yang justru membalikkan fakta sebenarnya, Nak. Logikanya jika orang banyak makan itu akan membuatnya semakin gendut. Tapi tubuhmu masih tetap bagus dan ideal. Cocok dengan wajah cantikmu itu,” tukas istri Abah. Sejenak Nana memperhatikan tubuhnya, ia tahu fakta itu. Entahlah kenapa tubuhnya masih ideal, Nana masih tidak ingin memberi tahu kebenarannya. --- Malam sudah sepenuhnya datang, adzan isya sudah terdengar menggelegar di angkasa, memecah sepi kala malam itu. Nana menyuapi Arya makan, tangannya masih sakit. Arya tersenyum melihat adiknya tidak kenapa-napa, tidak penting tubuhnya lebam atau harus terluka, yang terpenting adiknya selamat dan baik-baik saja. Kedua saudara itu sungguh akrab. Nana yang memiliki kasih sayang tulus terhadap kakaknya, juga kakak yang rela berkorban demi apapun untuk membahagiakan adiknya. Arya tahu hanya ia yang saat ini di milikinya, yang tahu perasaan dalam hati Nana, bagaimana kondisi Nana saat ini. Arya mengelus rambut Nana pelan, tersenyum. Mungkin maksud senyuman itu adalah tanda Terima kasihnya kepada Nana yang telah menyuapinya. Pukul delapan tepat. Suasana di pelataran rumah Abah lenggang, suara derik serangga terdengar nyaring, bersembunyi di semak-semak, saling bersahutan satu sama lain. Ruang tamu juga begitu, lenggang. Hanya suara detik jam dinding terdengar pelan tapi pasti. Pigura yang terpajang foto Abah terongok bisu, menyisakan kesan yang dalam. Abah keluar dari balik pintu kamar, ia sedang menggunakan baju seragam Perguruannya, tapi hanya celananya saja. Abah tampak sangat hebat menggunakan celana merah berbalut kuning melingkar di ujungnya. Nampak lebih mengerikan beserta janggut yang berwarna putih itu. Nana dan Akyas menatap terpesona. Mungkin ada urusan Abah menggunakan celana itu. Dan benar juga, seperti yang Nana duga, ia masih teringat dengan kata-kata Rosyid sore tadi. Nanti malam akan ada pertunjukan besar. Sebelum benar-benar mencerna kalimat yang pernah di ucapkan Rosyid. Terdengar suara salam dari arah teras, itu Suara Rosyid. Sejenak Nana dan Arya melihat ke arah daun pintu, berdiri Rosyid di sana. Ia menggunakan seragam Perguruannya dengan lengkap. Apa mungkin ada latihan malam ini, atau semacamnya? Tak lama menyusul suara sepeda motor, saling bersahutan banyak sekali menuju pelataran depan rumah Abah. Nana penasaran apa yang sedang terjadi, ia menuju teras melihat situasi. Terlihat orang-orang memaki baju serba merah sedang menaiki sepeda motor, memarkirkannya dengan rapi dan mulai bersiap-siap. “Malam ini ada latihan. Untung saja kamu masih di sini, jadi bisa melihat sedikit aksi kami saat latihan,” timpal Rosyid. Ia kemudian berjalan ke pelataran meminta untuk yang baru datang membuat barisan. Sedangkan Abah melihat dari arah teras, mengawasi mereka. Nana menghampiri Arya menjelaskan apa yang terjadi di pelataran rumah Abah. Ia mengangguk paham apa yang di jelaskan Nana. Arya ingin melihat dari teras, meminta Nana untuk sedikit membantunya berjalan, awalnya Nana keberatan soal itu, tapi apa boleh buat, ia ingin juga berterima kasih kepada Rosyid telah menyelamatkannya. Mungkin dengan melihatnya akan sedikit mengerti status Rosyid kenapa mudah sekali mengalahkan preman itu, padahal umurnya lebih muda darinya. Terlihat berbaris rapi orang-orang berseragam serba merah, memenuhi pelataran luas Abah. Arya duduk di sebelah Nana, mereka sedang di teras rumah Abah. Walau seragam mereka semua sama, tapi ada yang membedakan, di lihat dari sabuk yang mereka kenakan di pinggang, ada yang berwarna kuning dengan bercorak lambang melati di ujungnya serta ada yang menggunakan sabuk berwarna biru tua polos. Bedanya yang biru tua seperti mengajar yang masih tingkat sabuk kuning, mungkin dalam kategori sabuk yang berwarna biru tua memiliki tingkat yang lebih tinggi. Ada lima orang di sana, salah satunya Rosyid, ia memakai sabuk berwarna biru tua dengan corak mawar berwarna merah di ujung sabuknya. Sedang mengatur dan meneriaki yang berbaris menghitung gerakan tertentu, kompak dan rapi. “Eh lihat itu yang berada di teras Abah! Siapa gadis cantik itu, sebelumnya aku belum pernah melihatnya di rumah Abah. Apa itu cucunya?” cakap salah satu orang yang memakai sabuk biru, menyikut perut Rosyid. Tapi ia tidak menggubrisnya, tetap fokus pada latihan. “Wih cantik bener, putih dan bersih kulitnya. Apa benar itu cucunya Abah? Ah mana mungkin,” cakap salah satu buang lain, juga tertarik melihat ke arah teras rumah Abah. Rosyid sedari tadi tetap fokus mengawasi latihan. Sebentar melirik ke temannya yang satu sabuk biru, “Kalian tidak ingin kan sabung dengan Abah karena tidak fokus saat mengajar?” Kata Rosyid. Seketika temanya menelan ludah, menghentikan cakap-cakapnya. Kembali fokus mengajar yang sabuk kuning. Membayangkan saja tidak mampu, apa lagi berhadapan dengan Abah secara langsung. Sungguh mustahil, bayangkan saja kalian bertarung dengan orang elite, tentu hasilnya tidak salah lagi bukan. Orang elitelah yang akan menang. --- Malam mulai matang. Bintang dan bulan sabit gombal menghiasi angkasa. Cahaya bulan berpendar-pendar membuat terang malam itu. Suara teriakan mereka sahut menyahut dalam setiap gerakan. Kedua saudara itu masih menikmati orang-orang sedang latihan. Kadang mereka saling membanting satu sama lain, mengunci dan belajar teknik-teknik lain. Ke lima orang bersabuk biru mengawasi, membenarkan gerakan yang salah, jika di lihat dari wajahnya, ke lima orang yang bersabuk biru itu di antara mereka Rosyid yang paling muda, tapi tubuhnya gagap dan besar. Berotot dan terbentuk. Seketika para murid bersabuk kuning saling duduk membuat lingkaran. Seperti melakukan ritual khusus. Dan benar saja, dua orang maju ke dalam lingkaran, salah satunya Rosyid dan temanya juga bersabuk biru. Abah mendekati mereka, menjadi wasit. Mereka akan melakukan sabung, yaitu latihan dengan cara mengadu siapa yang lebih kuat diantara keduanya. Dan siapa yang akan bertahan paling lama. Kedua petarung di dalam lingkaran saling membuat seni, seolah menari dalam petarungan. Seketika tangan Abah mengangkat pertarungan di mulai, satu lawan satu. Keduanya bersabuk biru, para senior mencontohkan cara sabung yang benar. Pertarungan meletus. Rosyid masih santai seperti biasa. Tapi ia tetap memasang kuda-kuda, kakinya kokoh dan kedua tangannya selalu bersiap dengan situasi. Lawannya tidak mau kalah, tetap dalam posisi terkuat, menunggu pergerakan lawan. Satu menit berlalu, tidak ada yang menyerang, keduanya dalam posisi bertahan. Lawan Rosyid ternyata tidak remeh, tampangnya buas, walau ini sekedar latihan tapi untuk mereka adalah sebuah kehormatan besar bagi siapa yang akan menang, apalagi Abah yang menjadi wasit. Inilah yang di tunggu-tunggu. Semua murid yang duduk tertahan, suasana semakin tegang. Tendangan meluncur dari Rosyid mengincar perut, dengan persiapan yang matang mudah saja lawannya menghindar sambil menari, lihai sekali lawannya menghindar ke samping, tendangan itu mengenai udara kosong. Kembali pada posisi bertahan, lawannya tersenyum kejam, mungkin maksudnya adalah “hanya itu kemampuanmu?” “Hei Rosyid, benar yang di katakan teman-teman, gadis yang sedang melihat kita sekarang itu, kau tahu dia kan? Bagaimana kalau kita mengambil kesepakatan, agar pertarungan kali ini semakin seru. Yang menang akan mendapatkannya, dan yang kalah akan berusaha tidak mengganggu hadiah yang menang. Bagaimana?” kata lawan Rosyid. Ia juga kuat dalam bertarung, tidak bisa di sepelekan. Gaya bertarungnya tidak biasa. Rosyid diam tidak menanggapi. Ia tetap fokus dalam pertarungan. “Jika kau diam itu berarti tanda setuju. Baiklah, rasakan ini” pukulan melesat cepat ke arah Rosyid. Cepat sekali pukulan itu, Rosyid tidak sempat menahannya, pukulan itu talak terkena dadanya. “Cih, jangan membuat malu. Ternyata preman itu yang lemah, pantas kalah dengan mu. Jika kau terus hanya melawan ynag lemah, kapan kau akan menjadi lebih kuat?” Tendang melingkar dari lawan Rosyid mengincar bahu kanannya. Sekali lagi cepat sekali tendangan itu, bahkan sekelas Rosyid yang menumbangkan tiga preman kuwalahan, ketika tendangan itu ingin di tangkisnya atau di tangkap, dengan cepat lawannya menariknya, pegas uang hebat. Rosyid memberi inisial, ia meluncurkan tendangan moncong, lawannya cepat menghindar tapi urung, tendangan itu tidak Rosyid lepas itu adalah tipuan, dengan cepat Rosyid mengganti kuda-kuda, tendangan serong tepat terkena bahu lawannya membuat suara “buk” cukup keras. Entah bagaimana rasanya itu, yang jelas satu tendangan bebas telah sukses mendarat. Lawannya meringis kesakitan. “Cih, baiklah kalau begitu, aku akan menggunakan teknik pertahanan lembu jantan, hanya akulah yang menguasai secara sempurna teknik itu di sini.” Para temannya yang menonton sesama sabuk saling bergumam berbisik di antara mereka. “Lihat! Ia akan menggunakan teknik andalannya. Apa Rosyid akan menang?” Salah satu temannya menimpali. “Aku mendukung Rosyid, walau ia lebih muda, tapi lihatlah jurus harimaunya nanti, kalian akan terkesan.” Pertarungan tak lama meletus, mereka saling menggunakan teknik spesial mereka. Harimau dan lembut jantan, pertahanan dan serangan. Tak lama mereka saling beradu pukulan. Saling membanting satu sama lain. Saling menerima pukulan, mereka sekarang dalam keadaan imbang. Hebat sekali. Tidak ada yang mau kalah. Kadang seseorang menang adalah hal yang paling berkesan saat itu. Mereka saling menikmati pertarungan, tidak ada yang mau mengalah. Sungguh, seseorang pegulat bukan dilihat dari seberapa kuat dirinya, namun di lihat dari seberapa kuat ia melawan hawa nafsu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN