Kalopsia

1576 Kata
Aku tahu apa yang sedang terjadi. Menanti adalah hal terburuk bagi ku. Semua terasa sia-sia jika aku melakukannya. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku sedang mencintai. Aku ingin merasakan kenyamanan. Aku ingin diakuinya. Namun kalopsia ku meronta. Aku selalu bahagia dalam khayalan. Hanya itu yang aku mampu. Entah sampai kapan aku hanya berteman dengan kalopsia. Hari yang spesial. Parade akan di laksanakan dua hari ke depan. Memperingati hari sumpah pemuda. Desa Bakung memberikan perayaan untuk hari itu. Dua hari lagi akan di adakan pesta di jalan raya. Juga dengan berbagai perlombaan serta makan-makan. Akyas tahu hal itu, ia mendengar beritanya dari jalanan depan rumah mereka yang sedang berkeliling mobil sedan dengan toa yang menggelegar. Memberi tahu setiap sudut desa untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Sakinah juga mengabarinya, bilang bahwa dua hari lagi Desa Bakung dalam puncak perayaan bulan ini, perayaan sumpah pemuda. Nana tidak terlalu tertarik, namun dia juga penasaran seperti apa Desa ini merayakannya. Mungkin ia fokus kepada makanannya saja. Di Desa mereka jarang terdapat perayaan seperti ini. Kebanyakan malah orang luar yang merayakan keindahan desanya. Nana menonton televisi, memutar siaran yang menarik hari ini. Ia lagi malas, bersandar di sofa empuk dengan memakai baju santai. Rambutnya tergerai lurus panjang hingga pinggul. Wajahnya yang manis menatap layar televisi. Menonton berita hari ini. Akyas memakai baju biasa. Ia hendak pergi keluar. Tepat ketika di ambang pintu, Nana bertanya. “Mau ke mana, Kak?” Tanya Nana penasaran. Sepagi ini tumben kakaknya pergi keluar. “Ke toko sebelah. Beli perlengkapan makanan,” Jawab Arya singkat. “Ikut!” Kata Nana, ia beranjak dari sofa dan mematikan televisi. Arya mengizinkan, Nana tidak salin baju, ia menggunakan pakaian yang ia kenakan sekarang ini. Mereka keluar bersama. Udara sejuk pagi hari terhirup begitu segar. Para tetangga sudah mengerti kalau mereka pendatang baru. Salah satu ibu-ibu yang sedang menjemur di pekarangan rumah menyapa mereka. Sudah terbiasa dengan tamu seperti itu. Arya membalas melambaikan tangan, Nana seperti biasa hanya tersenyum. Desa ini memiliki penduduk yang ramah dengan yang lain. Bahkan pernah suatu ketika Arya di tawari makan di rumah mereka, demi sopan santun mereka menolaknya. Bilang bahwa sudah ada masakan di rumah. Para tetangga tahu bahwa mereka bersaudara. Jadi tidak mengapa kalau satu rumah ada laki-laki dan satu perempuan. Tetua yang menjelaskan saat pertama kali mereka singgah di sini. Para tetangga memahami situasi dengan begitu pikiran mereka aman, tidak terganggu oleh hal yang aneh-aneh. Toko yang tidak terlalu besar, mungkin hanya sebatas menjual barang pangan. Tapi cukup lengkap beli di sini. Tempatnya juga tidak terlalu jauh dari tempat rumah sewaan mereka. Jadi mudah dan terjangkau. Di sana terdapat aktivitas jual beli. Tidak terlalu ramai. Ada yang sedang menimbang barang, juga ada yang sedang menaikkan goni ke tosa. Salah satu pemuda di sana memandang ke arah kami. Tepatnya ke arah Nana. Terpesona melihat kecantikannya. Mungkin seperti ia melihat artis, di mata mereka juga asing, baru kali ini melihat penduduk desanya secantik ini. Nana tidak menghiraukan mereka. Tak lama juga mereka pergi dengan menenteng plastik berisi sayuran. Banyak yang menyita perhatian mereka yang berada di toko saat itu, melihat ke arah Arya dan Nana, ada yang sudah terbiasa, menjelaskan ke yang lain bahwa mereka pendatang baru. Akyas menyebutkan apa yang ia perlu. Penjualnya seorang ibu-ibu paruh baya. Ia sudah terbiasa dengan Arya, tahu tetangga barunya itu sudah lama, sudah terbiasa beli di toko ini. Dengan cekatan ibu paruh baya itu mengambilkan apa yang di pesan Arya. Nana masih berdiri di samping Arya, kakaknya itu meminta untuk Nana memilih sesuatu seperti jajanan untuk camilan di rumah. Nana menggeleng. Rambut poninya bergoyang. Setelah ibu paruh baya itu menyerahkan pesanan. Arya mengambil uang di saku, menyerahkan ke ibu paruh baya tadi. “Itu adik kamu kan?” Tanya ibu tadi. Arya mengangguk. “Iya, Bu. Ini adik saya namanya Nana.” “Ah, kalau namanya saya sudah tahu, kalau nama kamu, Nak Arya kan? Pantas saja adik mu cantik, karena kakaknya juga tampan,” Kata ibu paruh baya itu, wajahnya mengembangkan senyum. Haikal mengangguk takzim. Juga bingung kenapa ibu paruh baya itu tahu namanya. Bahkan ia yang sudah lama di sini hanya memanggilnya, ibu. Tidak pernah berkenalan. Seperti tahu ekspresi maksud wajah Arya. Ibu paruh baya itu menjelaskan, “Tetangga di sini banyak yang sudah tahu, Nak Arya. Semenjak kalian pindah ke rumah sebelah tetangga banyak yang berbincang, dan Pak Subki sudah memberi tahu bahwa kalian bersaudara. Sedang melakukan pendataan atau apalah namanya, saya juga tidak terlalu tahu.” Arya mengangguk memahami. Jadi tetua sudah memberi tahu banyak orang mereka datang. Tapi mereka tertutup dengan dunia luar, dan juga pada dasarnya Arya tidak terlalu pandai bersosialisasi. “Nama ibu siapa kalau saya boleh tahu” Pinta Arya dengan sebaik-baiknya kalimat. “Nama saya Bu Sati begitu panggilan kebanyakan orang kepada saya. Ah, orang tua ini banyak suka bicara,” Bu Sati tertawa pelan, Arya juga ikut tertawa demi menghormati. Nana sedari tadi menyikut perut Arya. Ingin cepat-cepat pulang. Arya menoleh ke Nana, menatapnya dan mengerutkan dahi. Mungkin maksud Arya, sebentar lagi juga pulang. Jangan buru-buru, ia masih ingin berkenalan dengan Bu Sati. Toko itu semakin ramai pengunjung. Arya undur diri, Bu Sati juga kedatangan banyak pelanggan. Sibuk melayani mereka. Dan Satu dua tersita pandangan para pengunjung ketika melihat Arya dan Nana. Lebih banyak yang melihat Nana untuk kaum pemuda. Pas saat itu Nana dengan pakaian santai, rambutnya terlihat sempurna, hitam legam lurus hingga ke pinggul. Masih terlihat segar bugar, wajahnya yang cantik jelita terpapar sinar matahari. Mereka terpesona dengan kecantikan Nana. Dan Nana mulai risi di lihat seperti itu. Arya yang juga memasang wajah sinis ke mereka. Dengan cepat mereka memalingkan pandangan. Salah tingkah, dan kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Keadaan masih terlihat seperti biasa. Pelanggan dengan tawar menawar mereka, juga keadaan yang umumnya berada di toko. Tapi tepat ketika Arya dan Nana keluar dari toko, terdengar keributan tengah terjadi. Botol pecah, ada yang sengaja memecahkannya. Semua yang berada di toko saling toleh, bertanya apa yang sedang terjadi. Tepat di sebelah kiri toko itu, di tumpukan yang penuh dengan botol kaca kosong, itu adalah botol minuman. Berdiri seseorang di sana, sedang melotot marah ke arah pemuda yang tersungkur di tanah. Pemuda itu ketakutan, sayuran yang berada di plastik yang ia bawa berhamburan. Orang yang berdiri melotot tadi menunjuk-nunjuk ke arah pemuda yang tersungkur. “Jika kau tak salah membelinya, gak mungkin sampai kayak gini. Dasar b*****h. Asal kau tahu ya, otak itu di pake, jangan hanya buat pajangan saja,” Bentak pemuda yang sedang berdiri. Dari nampak pemuda itu, seperti preman, nampak mukanya yang keras dan rambut panjang tak karuan, kedua telinganya bertindik. Pakaiannya khas preman kebanyakan. Pemuda yang sedang tersungkur meminta ampun. Takut-takut memberesi sayuran yang berserakan di dadanya, segera memasukkannya kembali ke dalam plastik. Wajahnya pucat pasi. “Ah gak mau tahu, pokoknya ganti semua ini. Di suruh gitu saja nggak bisa. Dasar,” Bentak pemuda preman tadi. Kemudian ia melihat sekeling, Orang-orang masih melihatnya. “Apa lihat-lihat?!” Kata preman tadi dengan keras. Tak lama semua berpaling muka, tidak menghiraukan pertengkaran tadi, pura-pura tidak bersangkutan. Tidak ada yang mau bersangkutan dan cari masalah dengan preman itu. Setelah semua kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Preman tadi menilik ke arah Arya dan Nana yang masih terdiam membiasakan apa yang sedang terjadi. Demi melihat langkah preman itu mulai mendekat ke arah mereka, Arya memasang posisi. “Hai nona. Siapa nama mu?” Kata preman tadi dengan wajah yang menjijikkan. Ia sedikit merunduk menyamakan tinggi badan dengan Nana. Tangannya pelan ingin menyentuh dagu Nana, dengan cepat Arya menepis tangan itu. “Hei, tenang bro. Apa ini pacar mu, hah? Istri mu, hah? Jangan sok alim. Aku nggak akan apa-apain dengan cewek cantik seperti ini, kecuali kalau kau mau menjadi pacar ku.” Selidik preman itu. “Jika kau menyentuh sedikit saja adik ku maka kau harus berhadapan dengan ku,” Kata Arya berani. Ia juga menjaga kehormatan dirinya, jika ada yang berurusan dengan Nana, maka Arya juga harus terlibat. “Oo jadi ini adik mu. Salam kenal ya. Apa abang mu sejahat ini dengan mu? Apa kau tidak pernah di puaskannya? Di bahagiakannya?” Preman itu terus menggoda Nana. Tidak menghiraukan ancaman Arya. Tanpa aba-aba. Dengan sekelebat gerakan yang cepat, tinju kanan Arya tepat mendarat di pipi preman itu. Pukulan yang telak, preman itu sedikit tersungkur. Arya merasa dirinya menang dalam hal kelompok, di sana masih ada orang banyak. Pasti akan mendukung Arya. Bu Sati tertahan melihat pukulan yang di lancarkan Arya. Meringis seolah ia juga merasa kesakitan. Orang-orang di sekitar hanya menonton, tak lama pada undur diri, bukan malah membantu mereka langsung berkemas meninggalkan tempat itu. Mereka bergegas seolah sedang di kejar macan yang lama tidak makan. Dan benar saja. Ternyata mereka benar-benar tidak mau terlibat. Mereka ketakutan bukan karena preman itu sendirian, melainkan dari arah samping toko, lari empat orang mendekat. Membawa baju persis yang di kenakan preman yang masih meringis kesakitan itu. Dengan kata lain, bantuan preman itu datang, Teman-teman empat orang tadi langsung membantu berdiri temannya yang sedikit tersungkur itu. “b******k!” Umpat preman yang terkena pukulan Arya. Ternyata ia adalah ketuanya. Anak buah di sampingnya menanyakan apa yang sedang terjadi. Ketua preman menjelaskan dengan cepat, menunjuk ke arah Arya. Seketika itu Nana ketakutan. Berlindung di belakang Arya. Lima lawan satu, apa mereka bercanda? Tidak, di lihat dari tampang buas empat orang anak buahnya, berbadan besar dan k**i, hal buruk akan terjadi. Apakah akan menang melawan lima orang preman itu? Apakah ada keajaiban yang terjadi? Hanya waktu yang akan menjawabnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN