Cinta Putih Abu-Abu
Masa SMP telah usai, lanjutlah kami mencari sekolah SMA. Aku Santi yang selalu takut jika didekati lelaki. Maklum pemalu, masih kurang pergaulan. Santi mencoba mendaftar di sekolah yang lumayan bagus karena nilainya cukup lumayan bagus, dan pada akhirnya ia pun diterima. Betapa senang hati Siti saat pengumuman penerimaan siswa baru itu. Siti segera bergegas pulang untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada ayah dan ibunya, alhasil ayah dan ibunya bangga sekali dengan Santi.
Banyak pesan dari ibu untuk santi “nak kamu bisa masuk di sekolah itu, kamu harus belajar yang rajin lagi ya” kata ibu. Dengan wajah yang penuh haru dan bahagia Santi langsung menyahut “iya ibu”. Ibu terus membelai rambut anak kesayangannya itu yang sangat manja dan pemalu.
“Dua hari lagi sudah mulai masuk sekolah bu untuk pengenalan lingkungan Sekolah, banyak sekali yang harus dipersiapkan” kata Santi. “Baiklah nak ayo dipersiapkan dari sekarang, kalau butuh bantuan bilang saja sama ibu ya nak”.
Hari pengenalan lingkungan telah dimulai, sesama siswa baru mulai saling berkenalan. Disitu tiba-tiba ada yang mendekati Siti dan mengajak berkenalan. Siti ulurkan tangannya dan menyebutkan namanya. Teman siti itu bernama Feri. Hal yang tak disangka-sangka, saat itu aku ulang tahun. Kakak kelas memberikan kejutan di hadapan tman-teman baruku alhamdulillah aku senang sekali. Ketika itu Feri maju ke depan dan memberikanku setangkai mawar merah dan menyanyikan lagu “putri”. Sungguh hatiku gembira dan terharu selama ini aku tak pernah berkawan dengan lelaki, kenapa perasaanku menjadi seperti ini, dalam hati putri bertanya-tanya.
Learn more
Acara telah usai dilanjutkan dengan pembagian kelas. Akhirnya mereka satu kelas, tak butuh waktu lama Feri pun mengatakan cinta pada Santi. Santi tak bisa menolak dan hubungan mereka berjalan hanya dalam waktu 1 minggu saja dikarenakan Santi takut berpacaran.
Mereka berjalan masing-masing, dan Feri menemukan pasangan barunya namun aku tetap masih sendiri. Aku selalu saja dijodohkan denga Dimas. Ya memang aku juga mengaguminya begitu juga dengan dia. Sayang kita sama-sama pemalu jadi kita hanya bisa berpandangan dan saling mengagumi saja. Hingga kelas 2 aku dan dimas bisa satu kelas, namun perasaan itu masih sama saja. Sama-sama tak berani mengungkapkan. Hingga suatu saat teman Dimas yang bernama Endru menembakku. Dan aku pun tak bisa menolak meskipun aku tak cinta.
Hubungan kami pun kita jalani hingga aku bisa mencintainya, namun aku belum bisa melupakan Dimas. Mungkin sama juga dengan Dimas. Hubungan kami baik-baik saja sampai di kelas tiga. Pembagian kelas aku, dimas dan Endro satu kelas. Disitu Dimas merasa canggung. Hingga akhirnya ia pindah sekolah ke kota lain. Sungguh aku merasa kehilangan, sering aku memandangi kursinya seakan ia masih ada di kelas ini.
Sati bulan berlalu, kabar buruk pun datang. Dimas kecelakaan dan meninggal. Dalam hati aku menangis dan menyesal. Karena aku tau ia pindah sekolah karena aku. Jika saja ia tak pindah sekolah mungkin ia masih ada bersama kita. Cinta kami hanya cinta dalam hati namun masih terukir sampai sekarang. Aku selalu doakan untuk dia agar dia bahagia di sana.
Tak lama aku dan Endro pun mulai merenggang, akhirnya kita pisah sebelum kelulusan tiba. Kita berjalan masing-masing dan ketika lulusan kita berpisah kampus.