Pengakuan

2078 Kata
Pukul sembilan pagi. Rumah Bibi Shofia terlihat lenggang. Tidak ada aktivitas sama sekali. Sepasang suami istri itu dari petang tadi sudah keluar rumah. Bibi Shofia hanya bilang ia ada urusan di luar. Ruangan besar berukuran seperti lobi hotel bintang satu itu sudah lama di bangun. Sekarang di jadikan sebagai ruang tamu. Sebenarnya bangunan itu adalah lahan teras yang luas, kemudian di bangun menjadi ruang tamu. Besar sekali untuk ukuran ruang tamu pada umumnya. Tetap terasa asing jika menikmatinya secara langsung, lega sekali. Terjejer sofa-sofa empuk. Akyas berbaring di sana. Tangannya memegang handphone. Memainkan sesuatu. Kenapa interior rumah Bibi Shofia baru di ceritakan? Kenapa tidak di awak bab? Ya biar terlihat elegan dan masih tersimpan kejutan, soalnya rumah Om Alan ini adalah seperti vila di kebanyakan tempat. Besar sekali. Pernah di jelaskan bahwa Om Alan adalah pebisnis besar. Ia fokus kariernya dahulu baru meminang Shofia. Haikal memutar siaran televisi. Mencari berita bagus hari ini. Mereka berdua sedang senggang. Sedikit lagi mereka akan selesai mengumpulkan data. Hanya beberpa yang belum mereka kunjungi untuk objek wisata. “Kal?” tanya Akyas. Ia masih sibuk dengan handphone nya. “Hmm?” “Kau tahu?” “Ha?” “Ya ampun, Kal. Coba jawab sedikit lebih panjang,” kesal Akyas. Ia mengubah posisinya menjadi duduk. Tidak percaya dengan temannya satu ini. Apa se fokus itu melihat televisi? “Ada apa? Kau ingin bicara tapi masih sibuk dengan handphone mu,” timpal Haikal. “Iya juga sih. Tapi setidaknya sebagai teman dekat tahu kalau hal seperti bini sudah biasa kan? Cobalah berusaha cari tema pembahasan.” “Kau tahu siapa nama asli Firaun?” tanya Haikal. Ia sedikit menggoda Akyas. “Akhhhh, bukan pembahasan kayak gitu. Firaun kek, kaum Sodom kek, atau Bani Israel. Mana aku tahu soal itu, Haikal.” “Nah itu tahu.” “Bukan nama asli Firaun. Ya masa aku sebutkan satu-satu kamu Sodom zaman Nabi Luth?” “Nah itu tahu kaum Sodom kaumnya Nabi Luth.” Akyas menghela napas panjang. “Ya sebodohnya aku tentang agama. Setidaknya aku nggak pernah sekalipun bolos ngaji selama sepekan penuh. Kalau masalah cerita sepele seperti itu ya aku tahu, Kal. Hanya sekedar tahu. Ingat apa yang dulu di katakan Ustadz Muammar ketika waktu ngaji malam? ‘Tidak ada permasalahan yang susah untuk di selesaikan selama kita mau berusaha dan tidak melarikan diri', jelas Akyas. Haikal seketika teringat juga apa yang di katakan Ustadz Muammar sebelum ia berangkat ke desa ini. Terkait tentang pemilihan jodoh. Ia tahu bahwa dirinya sudah cukup matang untuk membangun keluarga. Dan sekarang ia bertemu dengan Azza, wanita yang memiliki paras cantik, keturunan bagus, anak dari ketua desa sudah dipastikan bahwa hartanya banyak, namun masalah agama masih kurang. Azza masih perlu bimbingan agama. Ia hanya tahu sebatas ajaran turun temurun saja. Jika dibandingkan dengan Sakinah tentu Azza kalah jauh dari segi pemahaman agamanya. Kedua wanita itu sama-sama cantik. Sakinah adalah teman masa kecilnya, dan Azza adalah wanita yang beberapa bulan baru ia temui. Haikal tidak terlalu tahu watak asli Azza. Selain Haikal memikirkan semua itu, ia juga memikirkan Sakinah. Haikal tahu Sakinah merindukan kepulangannya, gadis itu sedang jatuh cinta kepada Haikal. Namun Haikal tidak merespon sepenuhnya rasa itu. Tapi ia menghormati rasa itu yang diberikan kepasanya. Itulah kesalahan Haikal, seolah Sakinah berpendapat bahwa Haikal juga memiliki rasa yang sangat kepada dirinya. Haikal memberi kabar, menanyakan keadaan, dan tingkah laku yang berlebih. Walau semua itu hakikatnya adalah hanya sebuah penghormatan kepada orang yang sedang jatuh cinta kepadanya, tapi ingat lawan bicaranya adalah wanita. Sekali di permainan rasa itu, sungguh susah sekali untuk melupakannya. “Woi, Kal. Diajak ngomong kok ngelamun!” Haikal tersadarkan. “Maaf” “Apa kau kesapekan? Kalau begitu istirahatlah. Jangan paksakan dirimu.” “Aku nggak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja. Kalau aku boleh tanya. Bagaimana pendapat mu tentang Sakinah?” Haikal mematikan televisi. Ia memajang wajah serius. “Eh? Kenapa tiba-tiba?” tanya Akyas penasaran. “Aku hanya ingin tahu dari pendapat mu tentang Sakinah,” kata Haikal. “Gimana ya. Aku sama dia tidak terlalu dekat. Walau kita sama-sama satu kelas mengaji bersama. Ia terlihat biasa saja menurut ku. Menurut ku lho ya. Tapi teman-teman kita menganggap Sakinah sebagai bunga desa. Ia cantik dan sopan, agamanya juga bagus itu yang mereka katakan. Kalau aku sendiri ya itu tadi, menganggapnya biasa saja. Cantik ya cantik, kan itu relatif. Kalau setahu ku, Sakinah sekarang lagi menaruh rasa ke padamu kan?” jelas Akyas. Tak lama Haikal mengangguk. “Jarang ada lho Kal wanita yang mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Berarti ia sangat yakin kepada mu adalah pilihan terbaik untuk ia jadikan sebagai panutan hidup. Serius ingin meneruskan hidup bersama. Setahu ku, ketika wanita sudah mengungkapkan perasaannya dahulu kepada yang ia cintai, maka kadar cintanya bukan main-mian, berarti ia sangat serius dengan hal ini. Ingin cepat di halalkan.” “Apa sih kamu. Wajar lah kalau ada yang mencintai dahulu. Semua sama tidak ada yang berbeda, yang membedakan hanyalah keimanan dan ketaqwaan,” Kata Haikal. “Ya ampun, Kal. Mungkin kau terlalu lama di pesantren. Yang di setiap sudutnya hanya laki dan laki. Kau tidak pernah merasakan cinta. Ya aku tahu cinta kepada Allah adalah hal utama. Tapi ingat, wanita adalah sosok makhluk yang sangat pandai menyimpan perasaannya sendiri dengan hati. Jika perasaan itu sudah terucap dengan mulut, itu adalah keyakinan hakiki milik perempuan. Ya kalau kau tak percaya ya tak apa, karena ini realita. Wanita gitu Kal, mudah rapuh.” “Kau kok tahu banyak tentang wanita?” selidik Haikal. “Kau tahu kan aku membuka usaha kecil kecilan berupa servis? Nah dari sana aku tahu sedikit banyak tentang cinta. Ketika pelanggan ku bercerita panjang lebar permasalahan yang ia hadapi dengan kekasihnya. Dan ketika di organisasi Isyad, banyak yang menbuka forum tentang wanita. Mangkanya sedikit berinteraksilah dengan wanita sebentar saja. Pantesan kemarin ketika ke embung purba kau kebanyakan diam, bingung mau membicarakan apa. Topik apa yang cocok di bincangkan, kau hanya bertanya ambigu tentang data terus. Setidaknya tanyakan kabar atau membahas sesuatu. Seharusnya aku yang memulainya,” Jelas Akyas. “Apa maksudnya ‘memulainya’?” tanya Haikal penasaran. Akyas yang berada di samping Haikal Sedikit tertunduk. Tiba-tiba sorotan matanya berubah. Matanya redup. Seolah menyimpan sesuatu di kedua bola matanya. Menyimpan berbagai macam persoalan dan perasaan. “Tidak bukan apa-apa, lupakan.” “Ayolah, Yas. Ceritakan saja masalah mu. Aku akan membantu kalau aku sanggup,” Kata Haikal berusaha menghibur Akyas. Tak lama Akyas bangkit dari tempat duduknya beranjak ke kamar mandi. “Ah aku mau mandi dulu, Kal. Tadi pagi aku hanya mandi sebentar karena cuaca dingin. Duluan ya.” Haikal semakin penasaran apa yang di maksud dengan kalimat terakhir Akyas tadi. Tak lama ia berusaha melupakannya, mungkin ia hanya keceplosan saja. Tidak terlalu penting. --- Bibi Shofia sudah pulang sedari tadi. Mereka membawa kardus banyak sekali. Bertumpuk di ruang tamu. Om Alan bersandar di sofa, seolah tubuhnya remuk. Menghela napas panjang. “Apa isinya, Bi?” tanya Haikal penasaran. Ia juga membantu ikut mengangkat kardus-kardus itu. “Banyak. Buku-buku dan banyak lagi suvenir,” jawab Bibi Shofia. Peluh mengucur di dahinya. Akyas pun sama, ia kelelahan. Akyas ikut membantu, sekarang ia berdiri di depan kipas angin bajunya basah dengan keringat. “Mau di apakan semua ini, Bi?” Haikal berkacak pinggang ia juga kelelahan. “Sebagian buku akan di simpan, dan yang lain entah apa yang akan Om Alan lakukan, mungkin akan di order lagi ke temannya. Dan suvenir itu juga demikian, akan di paking sore nanti.” Terlihat di ruang tamu yang berserakan. Kardus-kardus besar seukuran kotak TV bertumpuk-tumpuk. Suvenir yang masih layak di gunakan, yang pada umumnya ada di acara pernikahan itu masih bagus, terongok bisu. “Kal, ini cocok sekali sebagai hadiah untuk mu ketika menikah nanti sama Sakinah. Suvenir ini masih bagus dan cantik-cantik. Pasti akan cocok dengan dekornya nanti,” timpal Akyas yang masih berdiri di depan kipas angin. Bibi Shofia dan Om Alan demi mendengar gurauan itu malah menjadi-jadi. Setuju dengan pendapat Akyas. Om Alan juga sedikit menggoda Haikal. Bilang bahwa nanti akan di sewakan kontes besar jika Haikal menikah. Tak lama semua tertawa. Haikal mengerti kalau itu hanya gurauan. Ia tidak mengambil hati. Toh juga saatnya dia menikah. --- Matahari mulai tergelincir di pucuk cakrawala. Terus turun ke ufuk barat. Menciptakan cahaya oren di sepanjang langit, memenuhi angkasa. Para petani pulang dari sawah, menenteng cangkul. Menunggu malam yang tenang. Terdengar suara dering handphone samar-samar. Suara panggilan masuk, ada yang memanggil Haikal sore ini. Tak lama sebelum sempat Haikal mengangkatnya dering itu berhenti. Menyisakan satu notifikasi pesan. Haikal memeriksa siapa yang memberinya pesan. Meraih handphone dan mengeceknya. Tertulis Azza di sana. Ia sedikit kaget, bertanya dalam hati kenapa Azza memberinya pesan, mungkin ada masalah. Haikal membuka pesan itu, semoga saja bukan kabar buruk. Kabar yang masih menggelantung di pikiran Haikal. Apa ia akan di gantung? Apa ancaman itu sungguh akan di lakukan? Ia segera hilangkan pikiran buruk itu jauh-jauh. “Assalamu’alaikum. Maaf mengganggu sore yang tenang ini. Aku hanya ingin meminta maaf apa yang telah terjadi kemarin. Keributan di teras rumah ku itu. Maafkan adik ku Diki yang keras kepala. Memang wataknya demikian, keras dan suka emosi. Sekali lagi aku minta maaf. “Sebenarnya semua itu adalah salah ku. Aku yang keras kepala tetap akan ikut dan menemani kalian ketika pergi ke Embung purba, karena aku tidak ingin mengecewakan kalian. Dan di lain sisi aku malah memaksakan diriku. Padahal saat itu kondisi ku tidak baik. Semoga engkau paham maksud ku. Aku sebenarnya adalah wanita yang payah. Suka melakukannya apa pun itu tanpa berpikir jauh terlebih dahulu. Tidak di perhitungan secara mendalam. Al hasil yang terkena imbasnya juga orang lain. Sekali lagi maafkan aku.” Itulah pesan yang di kirimkan Azza. Mungkin ia juga berpikir berkali-kali untuk mengirimkan pesan ini. Wanita adalah makhluk yang mencintai perdamaian. Jika Azza sudah meminta maaf terlebih dahulu, berarti ia sangat merasa bersalah. Sedikit demi sedikit Haikal tahu watak Azza. Walau ia tidak terlalu paham dengan wanita. Namun setidaknya ia mengerti soal perasaan. Haikal membalas pesan itu dengan sebaik-baik kalimat. Bilang bahwa ia memaafkannya dan Haikal memberi sedikit arahan untuk tentang semua kejadian kemarin. Bahwa Haikal juga salah. Sebaiknya tidak terlalu memaksakan diri, tidak harus pergi pada hari itu. Bisa lain waktu mereka berangkat ke Embung. Azza sedikit lebih tenang. Ia sudah tahu kejadian kemarin barusan dari Haikal, pikirannya membaik. Karena saat itu ia pingsan dan Diki hanya menjelaskan sekedarnya saja. Azza memberi pesan balik ke Haikal, bilang Terima kasih atas semua ini. Haikal sedikit terpesona ketika melihat tingkah Azza. Sudah bisa di prediksi dari saranya memilih kata-kata. Kalian juga pernah kan, menerima chat dari orang yang kalian sayang dengan bahasa yang menyenangkan? Bagaiamana perasaan kalian? Itu juga sama yang di rasakan Haikal saat ini. Apa benar wanita seperti Azza belum ada yang mempunyai. Atau memang tidak ada laki-laki yang berani bermacam-macam dengan anak kepala desa itu? Tahu bahwa risikonya adalah nyawa. --- Malam yang tenang. Bintang berhamburan menghiasi langit. Bulan sabit gombal menggantung di antara sayup-sayup awan tipis. Haikal bermunajat di kamarnya. Berdiri lalu turun sujud begitu seterusnya. Ia melaksanakan sholat malam. Suasana sepi saat itu, cocok sekali untuk berkonsentrasi dan sepenuhnya berserah diri kepada Allah. Tidak ada kegiatan yang sangat menenangkan selain sholat. Haikal memohon bahwa dirinya di lapangkan kesabaran, dan di pertemukan jodoh sesuai harapannya. Ia akan bersikap lebih baik lagi. Ia juga memohon hatinya di lapangkan atas cobaan duniawi. Para wanita-wanita yang meruntuhkan s*****t. Ia ingin kehidupan yang suci, membalut cinta tanpa pacaran, membangun kasih sayang melalui pernikahan. Itulah yang di ajarkan Nabi Muhammad. Wanita yang bisa menemani dan menerima apa adanya. Bisa menampung bersama keluh kesah dan persoalan-persoalan. Ia sekali lagi menengadahkan tangannya. Dan lirih mengucap tahmid, tahlil, dan takbir. Tidak lepas-lepasnya mengucap puji syukur kehadiran Tuhan seru sekalian alam. Ia tahu bahwa malam seperti ini Allah turun dari langit, melihat siapa saja hambanya yang meluangkan waktu untuk dekat dengan-Nya. Dan mengabulkan permintaan hambanya. Pernah seketika SD dulu, sebelum hari akan dilaksanakan Ujian Nasional. Malam itu Haikal di suruh oleh ibunya untuk membangun sholat malam. Dan meminta di lancarkan ketika mengerjakan Ujian Nasional besok. Dengan sedikit menahan kantuk Haikal tetap melaksanakan sholat tahajud lengkap sebelas rakaat. Dan meminta untuk di mudahkan Ujian besok. Dan ketika besoknya, Haikal mengerjakan dengan semampunya. Ia pasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Ketika pengumuman hasil, alhamdulillah Haikal termasuk murid yang berprestasi dengan nilai tinggi. Keberhasilan terbesar itu tumbuh dari keyakinan. Seberapa besar engkau yakin pada diri sendiri, itu menandakan bahwa engkau sudah sukses setengah dari rencana. Dan sisanya itu di lihat dari seberapa besar komitmen dan doamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN