Setelah mereka bersiap. Om Alan menuju garasi memanaskan mobil terlebih dahulu. Haikal awalnya ingin menggunakan setelan biasa, santai. Juga Akyas. Tapi Bibi Shofia menolaknya. Mereka berdua di giring ke kamar dan di suruh memiliki sekian dari jas-jas Om Alan. Haikal memilih setelan jas yang biasa tidak terlalu mencolok. Haikal menggunakan jas Texudo warna silver dan dasi warna hitam legam. Dan Akyas lebih tertarik dengan menggunakan jas yang memiliki dua baris kancing atau kerap biasa di sebut double breasted. Warna jas yang di pakai Akyas abu-abu, dengan dasi berwarna biru cerah. Keduanya memilih celana yang sepadan dengan warna jas mereka masing-masing terlihat elegan sekali. Walau seumur Akyas baru pertama kali ini memakai jas. Tapi baginya ini adalah pakaian yang menarik. Keren dikenakan.
Pukul delapan tepat. Mobil sudah siap di depan garasi. Mereka semua masuk mobil. Bibi Shofia mengantar di daun pintu, melambaikan tangan. Dan tak lama mobil meluncur meninggalkan kelokan jalan. Hilang dari trotoar langsung menuju tempat tujuan.
Untuk kegiatan yang satu ini pasti sangat menyenangkan pikir Akyas. Ia bisa menikmati suasana ruangan yang di penuhi dengan berbagai macam mesin dan jenis-jenisnya. Lebih bisa mengenal banyak tentang suku cadang dan tahu harga pasar untuk mobil keluaran terbaru.
“Maaf Om. Kalau boleh tanya. Di sana Om ada bisnis?” tanya Akyas. Ia duduk di kursi tengah bersama Haikal.
“Yups. Tepat sekali. PT. Moto Rossi itu menawarkan produk dengan harga pasar keras. Penjualan dengan skala besar. Jadi mereka butuh investor yang ingin membantu perkembangan perasaan produk mereka. Dengan kata lain Om berinvestasi dengan memasok sekian nilai harga berupa saham. Besar keuntungannya. Jika usaha kecil-kecilan mu sudah melambung nanti, jadilah investor dari perusahaan lain, Nak Akyas. Agar kamu juga dapat keuntungan ganda,” Terang Om Alan. Tangannya lincah mengendarai mobil Avanza nya itu.
Mobil itu sudah di bawa ke dealer mobil. Avanza itu sudah di modifikasi seperti baru, banyak mesin yang memang sepatutnya di ganti, jadi tidak sepenuhnya karena mobil itu di bawa ke medan meliuk ketika pergi ke Embung waktu lalu. Alias mobil Avanza milik Om Alan itu sudah lama umurnya. Ingin di gantikan yang baru.
Mobil mulai memasuki jalanan yang lebih luas lagi. Keluar dari Desa Ngelangeran. Memasuki jantung kota. Mobil-mobil mulai memadati isi jalan. Terdengar klakson panjang dari belakang, seketika Om Alan mengurangi laju mobil. Tak lama cepat dari arah belakang mereka meluncur deras Bus Patas. Klakson dari Bus itu terdengar bising. “Dasar, tidak mau mengalah. Ingin cepat saja maunya,” Umpat Om Alan. Bus Patas itu melaju di depan cepat sekali.
“Edan sopirnya, Om,” Timpal Haikal. Ia juga pernah merasakan satu tempat dengan sopir Bus, seperti wahana rollercoaster cepat sekali lajunya. Tapi tetap saja bagi kebanyakan orang yang pernah atau pun tidak menaiki Bus dengan kecepatan seperti itu tentunya merenggangkan nyawa. Bahkan ada yang trauma setelah itu.
“Terus misalnya kalau ada kecelakaan, Om. Sepenuhnya sopir yang bertanggung jawab?” tanya Akyas ia memikirkan kemungkinan terburuknya.
“Tidak. Sopir tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Tapi perusahaan Bus itulah yang bertanggung jawab. Kalau ada apa-apa berati semua di tanggung perusahaan yang mengelola Bus itu. Sopir Bus hanya bawahan, ia tidak mempunyai hak khusus dengan semua itu. Tapi selayaknya jadi sopir Bus bukanlah hal yang remeh. Harus mempunyai insting jalan yang hebat. Kamu harus menguasai enam spion luar sekaligus, dan harus tahu titik buta Bus. Perkiraan dan ketepatan harus main jadi satu,” terang Om Alan.
Akyas mengangguk mengerti. Seolah Bus adalah raja jalanan, singa yang melaju kencang di antara kijang-kijang. Sedangkan Kereta api tenang melaju di relnya.
Tapi pernyataan Akyas itu tidak benar. Anggapan bahwa Bus adalah mekanik jalanan yang harus di beri jalan ketika klakson 'teloletnya' nyaring berbunyi. Itu adalah salah besar.
Tepat di depan mobil-mobil berhenti. Seketika terdengar dari belakang mobil mereka, suara sirene. Nyaring sekali suara itu terdengar, muncul satu mobil polisi dan mobil pemadam kebakaran serta di susul satu mobil ambulans. Ke empat mobil itu serempak mengaktifkan mode sirene, saling bersahutan, membuat pekak di telinga. Demi mendengar itu para sopir menyudutkan mobilnya ke tepi jalan, tidak terkecuali. Sampai tiga mobil itu sudah lewat. Jalan yang awalnya kosong itu langsung di isi mobil yang menyudut di tepi jalan tadi. Om Alan mahir menggerakkan kemudi, langsung memotong, mendapatkan momen. Mobil Avanza itu meluncur dahulu di jalur yang kosong. Terlihat di depan mereka menyudut juga Bus Patas yang menyalip mereka tadi. Mobil Avanza Om Alan menyalip Bus Patas itu yang masih diam di sudut jalan. Om Alan jahil menekan klakson panjang. “Syukurin” batinnya.
---
Siang hari yang terik. Mobil Avanza Om Alan memasuki parkiran yang luas. Mobil berjejer terparkir rapi di kanan dan kiri. Parkiran itu termasuk bagian dari Mall. Mall yang bertuliskan Ramayana itu berdiri gagah, juga di samping Mall itu ada Mall lain yang tidak kalah besar. Tempat ini megah sekali. Orang-orang hilir mudik menenteng tas keluar masuk Mall. Berbagai macam busana yang mereka pakai.
Terdengar suara dari toa, ada orang yang sedang berteriak menawarkan produknya. Berdiri di samping jalan sambil membawa selembaran kertas promo. Akyas menerima dari balik jendela mobil selembaran itu, bertuliskan promo besar akhir tahun, ada diskon besar besaran untuk pembelian maksimum. Lihai sekali marketing mereka, Akyas meringis melihat selembaran itu. Sudah dapat di duga, orang-orang terpengaruh terhadap diskonnya bukan kualitas barangnya. Siapa yang tidak mau membeli barang yang di jual dengan setengah harga.
Tak lama orang berseragam yang membawa toa itu beralih ke tempat lain, temanya cakap menghentikan langkah orang lain. Menawarkan produknya.
Mobil terus meniti jalan dengan hati-hati, karena banyak pejalan kaki memadati area parkiran itu. Terus menyisir ke arah timur. Tak lama terdengar suara orang bicara dari mikrofon, menggema. Haikal bisa mendengarnya dari mobil. Pandangan Haikal tertuju pada keramaian yang berada di pintu Mall depan. Dari sanalah suara menggelegar itu terdengar. Mobil belok ke kanan mencari tempat parkir, tujuan mereka telah sampai.
“Kita sudah sampai,” kata Om Alan. Mereka segera keluar dari mobil. Haikal memperbaiki dasinya. Berjalan mengikuti langkah Om Alan.
Mall yang sangat besar. Tinggi Mall itu kurang lebih dua puluh meter lebih, dan panjangnya hampir susah untuk memperkirakan. Karena bangunan komersial itu di bangun dengan berbagai macam bangunan Mall. Mungkin jika malam hari pasti akan terasa lebih exotic. Lebih menggerlap cahaya lampu di setiap sudut.
Ketika mereka memasuki Mall. Tepat di depan mereka pameran berbagai macam mobil dan sepeda motor berjejer rapi. Ada panggung kecil di tengahnya. Mall itu di bangun melingkar, bisa di lihat dari dalam Mall itu bertingkat-tingkat. Mungkin ada sekitar lima tingkat lebih.
Om Alan berjalan di antara hilir manusia. Ramai sekali tempat itu. Di sepanjang sudut Mall ada toko-toko kecil yang menjual serba mekanik. Suku cadang terpampang berjejer di etalase kaca, kadang ada yang tergantung di langit-langit. Haikal menatap sekitar hampir tak berkedip. Akyas pun begitu, ia berjalan mantap seolah sudah pernah ke pameran besar seperti ini. Mungkin ia baru merasakan ini yang pertama baginya, terjun di dunianya. Senyum terus mengembang di wajahnya. Haikal belum pernah tahu Akyas segembira ini.
“Halo, sir. How are you doing?” Sapa Om Alan. Ia berbicara dengan orang lain, wajahnya putih dan matanya sipit. Tinggi badannya tidak lebih dari tinggi Om Alan, tapi ia sedikit gemuk. Ada sedikit keriput di wajahnya, mungkin usianya sekitar empat puluh tahunan. Setelan yang di pakainya juga menandakan bahwa ia bos dari acara ini, rapi dan bersih.
“Wah, bagaimana keadaanmu? Lama semenjak kau sudah tidak menjadi klien ku dulu, aku tidak tahu lagi tentang kabar mu, Alan,” Orang bermata sipit itu menepuk pelan pundak Om Alan, seperti sahabat lama yang jarang bertemu.
“Ah, kau juga sama. Semenjak bisnis mu ini melambung pesat. Kau sudah tidak pernah mengabari ku lagi. Fokus dengan pencapaian mu saat ini, tapi dengan begitu aku turut bangga. Karena aku juga memiliki kesibukan sendiri, oleh sebab itu kita jarang berbincang,” cakap Om Alan.
Orang bermata sipit itu tertawa lebar. “Ayolah Alan, aku butuh bantuan mu. Pencapaian ini semakin hari perlu dana yang tidak sedikit. Skala kuantitasnya terus naik pesat dalam hitungan jam. Ternyata terjun di bidang otomotif sangat Menguntungkan. Lihatlah di sekeliling mu, ini juga hasil dari jerih payah kita dulu saat masih menjual barang grosiran. Dan inilah hasil pencapaian itu, karenanya aku tidak lupa dengan perjuangan kita dulu, mangkanya aku mengajak mu kembali untuk ikut berbisnis.”
Om Alan tertawa tipis. “Justru itulah tujuan ku kemari. Memberikan dana untuk saham. Kau adalah teman ku yang aku percayai. Semua pencapaian itu aku percaya padamu kawan. Dan tolong jangan kecewakan kepercayaan ku itu,” kata Om Alan.
Haikal dan Arya masih berdiri tidak jauh dari Om Alan dan temannya itu. Mereka tidak ingin mengganggu pembicaraan Om Alan, takutnya itu privasi. Tak lama Haikal dan Akyas menghampiri Om Alan. Bertanya apakah mereka bisa berkeliling sebentar di sekitar Mall. Om Alan membolehkan, ia mengangguk mantap.
Tapi langkah kami terhenti saat orang bermata sipit itu mencegahnya. “Hei kalian berdua.” Seketika Haikal dan Akyas menoleh ke orang bermata sipit tadi. Dan kembali bertanya ke Om Alan, “Apa mereka berdua anak mu, Alan? Wah kalau pun iya bisa salah satu dari mereka menjadi-” Om Alan segera memutus percakapan orang bermata sipit tadi. Menjelaskan bahwa mereka bukan anaknya, ia memperkenalkan Haikal dan Akyas. Menyebutkan kelebihan mereka berdua masing-masing.
“Pandai elektronik? Siapa? Anak yang memakai jas abu-abu itu? Siapa namanya tadi? Akyas?” kata orang bermata sipit. Wajahnya antusias sekali ketika Om Alan menjelaskan bahwa Akyas pandai kalau masalah elektronik.
“Wah bisa nanti menjadi salah satu klien ku. Bisa berkecibung di bisnis ku.”
“Kau ini. Bukannya aku melarang, namun setidaknya ada persetujuan darinya. Jangan seperti dulu kau sembarang merekrut orang, kemudian tidak seperti selera mu dan mudah saja kau bilang ke dia untuk mogok kerja,” kata Om Alan memperingatkan.
“Itu kan dulu, Alan. Jangan kau usik masa lalu, fokuslah yang sekarang, okay,” Kata orang bermata sipit itu meyakinkan.
“Sudah lah ayok kita berbicara di ruangan mu saja agar lebih tertutup, biar mereka berkeliling sebentar,” kata Om Alan. Kemudian ia bilang ke Haikal, mereka di izinkan untuk melihat sekitar tapi hanya di area lingkup sini saja, melihat lihat pameran mobil beraneka ragam. Dengan satu syarat, satu jam ke depan mereka harus kembali tepat ke tempat ini lagi, agar tidak ada yang bingung saling mencari.
Mereka berdua mengerti. Sedari tadi Akyas sudah tidak sabar ingin melihat sekitar. Bertanya banyak, dan mencari pengalaman baru.
---
Suara di mikrofon masih menggema. Ada security yang berkeliling, membawa baju serba hitam. Juga orang-orang berseragam menawarkan mobil yang ingin di beli. Ada yang menggunakan sistem lelang, menawarkan harga paling tinggi kemudian di stop pada taraf tertentu. Haikal mengikuti langkah Akyas, ia tidak terlalu tertarik dengan semua itu, bukan bidangnya. Haikal hanya sekedar menemani Akuas berkeliling saja.
“Lihat, Kal. Ada banyak jenis suku cadang di sini. Kalau tahu selengkap ini, dari dulu mending kulakkan di sini saja. Biar pelanggan kin tidak banyak yang protes.”
Toko kios itu terletak di samping kios jual knalpot. Akyas melihat-lihat suku cadang di etalasenya. Seperti busi, kanvas rem, atau filter udara dan masih banyak lagi.
Sekian menit berlalu, Akyas sudah banyak bertanya tentang suku cadang dan hidrolik lain. Ia sekang mengarah ke pameran utama, yaitu pameran mobil dan motor. Banyak berjejer jenis-jenis mobil, dari merek Honda Brio, Honda BR-V, atau Honda Jazz. Juga ada mobil MPV, mobil SUV, dan masih banyak lagi.
Akyas menjelaskan sedikit banyak tentang otomotif. Mereka sekarang berada di tempat duduk yang berada di samping pameran besar mobil, di sana memang sudah di siapkan tempat duduk khusus untuk para pengunjung.
Suara bising dari mikrofon sudah tidak ada. Masih sedikit terdengar samar-samar toa dari produsen memamerkan produknya. Haikal sesekali mendongak ke atas, melihat ujungnya. Tinggi sekali bangunan Mall itu, bukan perkara baru bagi Haikal untuk semua aktivitas ini. Tapi menurut Akyas semua ini adalah hal menakjubkan yang ia alami. Namun Akyas juga tahu diri, hanya sekedar kagum tidak terlalu banyak tingkah.
“Yang aku tahu ya, Kal. Kalau pameran otomotif seperti ini di lakukan di luar negeri seperti Jepang, Singapura, atau Korea. Setiap mobil itu kadang ada yang menjaganya, Kal.” Dahi Haikal terlipat. Akyas seolah tahu apa yang ada di pikiran Haikal. Ia melanjutkan, “Jadi misal kaya mobil yang ada di depan sana.”
Akyas menunjuk mobil merah yang berada di depan mereka, Mobil Hatchback merek Suzuki Baleno. “Mobil seperti itu pasti ada model wanitanya sebagai aksesoris tambahan. Mungkin niatnya agar menarik perhatian. Biasanya di kenal dengan istilah Usher. Keberadaan Usher itu sebagai penghias mobil. Biasanya para pengunjung berfoto dengan Usher dengan begitu mudah bagi masyarakat mengenali produk keluaran terbaru.
“Tapi yang ada di otomotif ini hanya ada penjaga laki-laki saja, mungkin hanya segelintir model perempuan saja, tidak semua. Itu saja yang aku tahu, Kal. Dari selembaran yang ku terima tadi.”