"Kalian boleh berciuman sekarang." Suara riuh dengan tepuk tangan yang kencang, membuat jantungku yang sejak tadi terasa tidak berdetak seolah kembali menemukan detakannya. Tubuhku di raihnya hingga kami berdekatan. Tangannya yang satu berada di pinggangku, sedangkan yang lainnya berada di pipiku. Membelai pipiku, bagai belaian angin sepoi. Aku menyukai sensasi ini. Lebih tepatnya aku menyukai cara sosok di depanku melakukannya. Dia menempelkan bibir kami dengan lembut, membuat aku bisa merasakan permukaan bibirnya yang selalu terasa sama untukku. Aku kira ini hanya akan menjadi ciuman pendek kami, karena kami yang memang masih berada di altar dengan beberapa orang yang memperhatikan. Tapi kurasa Andre sedang tidak peduli dengan itu semua, karena tangannya semakin gencar mengelus pipik
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


