Deg...
"Tolong mas...Mbak Sarah drop lagi" suara Dona di balik pintu kamar pengantin baru.
Dengan sigap Vita memunguti pakaian yang berserakan di lantai dan memakainya kembali dan keluar kamar melihat keadaan Sarah, begitupun dengan Fadli.
Sesampai di kamar Sarah, kondisi Sarah sudah tak sadarkan diri. Dengan segera Fadli membopong Sarah masuk mobil menuju rumah sakit terdekat. Vita dan Dona terlihat sangat bersedih ikut mengantar sang istri pertama ke rumah sakit.
"Inalillahiwainnailaihirojiun...."
Bak di sambar petir, ucapan dokter UGD yang terdengar dari luar ruangan membuat Dona dan Vita menjerit menangis.
Fadli tak begitu percaya dengan ucapan dokter segera masuk ruangan melihat kondisi istri pertamanya terbujur kaku dengan senyuman sempurna.
"Bagaimana mungkin dia tersenyum seperti itu kamu bilang meninggal?" tanya Fadli pada dokter yang menangani Sarah.
"Maafkan saya pak,sekarang Bu Sarah tidak merasakan sakit lagi, ikhlaskan....semoga Khusnul khatimah." jawab dokter lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan Sarah.
"Sarah bangun...jangan begini,aku tidak mau kamu pergi,kamu semangat aku, kamu yang menemaniku dari nol hingga aku seperti sekarang,jangan pergi..."ucap Fadli dengan berlinang air mata.
"Mbak Sarah jangan pergi,gimana dengan aku kalo mbak Sarah pergi" ucap Dona yang ikut menangisi kepergian istri pertama.
"Maafkan saya mbak mungkin ini tidak akan terjadi kalo aku tidak menikah dengan mas Fadli, seharusnya mbak Sarah bilang kalo mbak Sarah tidak mau aku menjadi istri Mas Fadli." ucap Vita dengan isak tangis.
******
Drama tangisan kepergian istri pertama belum usai,Dona begitu terpukul atas kepergian Sarah jatuh pingsan di samping jenazah Sarah.
Vita teriak memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Dona. Fadli dengan sigap mengangkat tubuh Dona dan membaringkan di samping tempat tidur Sarah yang kosong.
Dokter datang segera memeriksa keadaan Dona. Para suster ikut membantu memasang alat di sekujur tubuh Dona, dan juga ada beberapa perawat yang akan memindahkan jenazah Sarah ke ruang jenazah.
Vita dan Fadli disuruh menunggu di luar dan mengurus kepulangan jenazah Sarah.
" Mas,aku suruh Andi buat bantu ngurus kepulangan jenazah mbak Sarah ya?" ucap Vita pelan.
Fadli hanya menjawab dengan anggukan,rasanya untuk berkata satu ucap saja enggan baginya. kondisi Fadli saat ini sangat memprihatinkan seperti tak ada semangat hidup lagi, semangat itu seakan hilang dengan kepergian Sarah sang istri pertama. Ditambah lagi melihat kondisi Dona sang istri kedua yang juga sangat mengkhawatirkan. Fadli hanya bisa menangis tersedu di depan ruang periksa Dona. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan.
Setelah menunggu sekitar satu jam diperiksa dokter keluar menemui keluarga pasien.
"Bagaimana keadaan mbak Dona dok?" tanya Vita pada dokter yang memeriksa Dona.
"Pasien sudah sadar dia memanggil nama Fadli dan Vita."jawab dokter.
"Apa kami boleh masuk dok?" kata Fadli seakan semangatnya kembali.
"Silahkan,tapi jangan terlalu lama, pasien harus banyak istirahat."ucap dokter.
"Baik dok" ucap Vita dengan melangkahkan kakinya menuju Dona berada.
"Vi-ta..."
"Ma mas Fadli" ucap Dona dengan mulut tertutup oksigen.
"Udah mbak,jangan bicara dulu. mbak Dona harus sembuh."ucap Vita.
"Ma maafin a aku mas"ucap Dona terbata- bata dan terlihat butiran air di ujung mata.
"Dona....Dona..." teriak Fadli melihat Dona tak sadarkan diri lagi setelah mengucap kata maaf ke Fadli..
"Dokter...dokter..." teriak Vita panik melihat keadaan Dona.
Dokter dengan cepat menghampiri dan memeriksa kondisi Dona.
"Inalillahiwainnailaihirojiun..."ucapan dokter sama seperti saat memeriksa Sarah sebelumnya.
"Apa kamu bilang?! ucap Fadli dengan tangan kiri memegang kerah baju dokter dan tangan kanan mengepal erat ingin segera melayang ke wajah sang dokter.
"Tenang pak...Maafkan saya,saya sudah berusaha." jawab dokter dengan gemetar. Dia tahu bagaimana perasaan Fadli belum ada dua jam kehilangan dua istrinya.
"Tenang mas!" teriak Vita terisak.
"Mbak Dona kenapa ikut pergi mbak,maafkan aku mbak." ucap Vita di samping jenazah Dona.
Fadli sangat frustasi memukul almari kaca di sampingnya hingga tangannya berlumuran darah. Air matanya juga tak bisa terbendung lagi.