Truk Gandeng

1019 Kata
Akulah Istri Gendutmu Dulu 2 Truk Gandeng "Astaghfirullah aladzim!" Seketika aku pun menutup mulut dengan telapak tangan agar tak memekik terlalu keras saat ini. "Astaghfirullah aladzim!" Kembali ku ucapkan dengan lirih kata-kata itu. Bagaimana aku tak kaget saat melihat suamiku yang selama ini kuanggap sebagai dewa, telah masuk ke dalam rumah sambil memeluk mesra seorang wanita cantik dengan pakaian yang terlalu seksi. Semoga hatiku tabah melihat kenyataan ini. "Aman nggak nih, Yank?" Perempuan cantik berambut merah itu dengan suara yang manja nampak masih ragu untuk terus masuk ke dalam rumahku. "Aman banget dong. Ayo cepat kamu duduk dulu di ruang tamu ini Ya. Biar aku cek ke kamar dulu." "Tapi jangan lama-lama loh, aku takut!" ucap si perempuan makin manja. Menjijikan! Sebuah adegan yang kembali membuat aku teramat kaget adalah, suamiku yang baik itu kini langsung mencium bibir perempuan cantik itu. Sungguh sakit sekali rasanya hatiku ini melihat peristiwa ini, rasanya tak percaya tetapi inilah kenyataan yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Sesaat kemudian dia pergi dan meninggalkan perempuan cantik yang masih terus berdiri dan melihat ke sekeliling ruang tamuku . Saat ini aku tak bisa lagi berkata apa-apa, hanya dalam hati saja aku terus mengucapkan istighfar. Ternyata Mas Ferdi kini masuk ke dalam kamar kami. Ekor mataku kini terus membuntuti suami yang sudah menghianatiku ini. Sungguh masih tak kusangka jika pria yang kucintai ini benar-benar seorang yang suka selingkuh. "Dek ... Kamu lagi dimana?!" teriak Mas Ferdi sambil mencariku di kamar dan juga kamar mandi. Sepertinya dia memang saat ini ingin memastikan jika aku benar-benar tak ada di rumah. Malah kini dia pun membuka lemariku, dan sejurus kemudian Mas Ferdi tertawa dan keluar menuju ke ruang tamu. Mendatangi perempuan cantik yang kini sedang duduk dengan paha terbuka di sofa. "Truk gandeng itu sudah nggak ada lagi di sini kok, Yank. Kita aman!" ucap Mas Ferdi dengan sumringah sambil merangkul perempuan itu. Truk gandeng? Apa yang dimaksud oleh Mas Ferdi itu aku? Sebuah panggilan yang biasanya digunakan oleh orang di luar sana untuk memperolok bentuk tubuhku yang besar. Tetapi aku pun tak menyangka jika Mas Ferdi saat ini pun berkata seperti itu. Sakit hati ini! "Yakin nih? Pokoknya aku nggak mau jika istrimu yang gendut dan jelek itu sampai marah nanti," timpal si perempuan dengan manja. Yah, aku memang gendut dan jelek, beda sekali dengan perempuan yang saat ini tengah dirangkul oleh Mas Ferdi itu. Tubuhnya sexy dengan tinggi yang sempurna. Rambut di cat warna merah menyala seakan pas dengan dandanan yang super menor itu. Sungguh kali ini aku memang kalah telak. "Yakin banget dong. Aku tadi juga mengecek tas kesayangan si badut itu sudah nggak ada lagi di lemari kok. Jadi kali ini kita bebas bercinta disini. Rasanya pasti beda dengan biasanya yang kita lakukan di hotel atau pun tempat kost kamu, Yank." Mas Ferdi kembali berkata saat ini. Hati yang selama lima tahun kujaga ini seketika langsung hancur berkeping-keping, setelah mendengar jika ternyata suamiku dan perempuan ini sudah sering sekali melakukan hubungan baik layaknya suami istri. Ternyata semua yang dibicarakan oleh mereka diluar sana itu benar adanya. Hanya saja memang aku ini terlalu polos dan bucin sekali. Entah sejak kapan Mas Ferdi telah menghianatiku seperti ini. "Iya sih pasti lebih menantang dan ada rasa gimana gitu, tapi aku ini kok masih merasa ada yang sedang mengawasi kita sih, Yank." Perempuan itu kembali merengek. Rupanya feeling perempuan tak tahu diri itu lumayan kuat juga ya. Buktinya dia saat ini merasa diawasi, ya memang sih, siapa suruh masuk ke rumah tangga orang lain dengan seenaknya. "Nggak ada siapa-siapa lagi kok, cuma ada kita berdua yang bebas melakukan gaya apa pun di sini, hahaha. Pembantu kami juga sedang cuti kok. Ayo lah Yank, aku sudah tak sabar banget nih." 'Astaghfirullah aladzim!' Kembali aku memekik dalam hati, ketika melihat suamiku yang sepertinya sudah tak sabar ingin melampiaskan hasrat binatangnya itu. "Sama Yank, aku pun tak sabar untuk mencoba tempat baru ini. Tetapi jujur aku kok masih rasanya nggak tenang sih," ucap perempuan itu dengan mata masih menyapu ruangan. "Nggak ada siapa-siapa lagi kok. Kalau begitu agar kamu makin tenang, biar aku hubungi di truk gandeng itu ya," ucap Mas Ferdi dengan entengnya. Duh geram sekali aku saat ini, ternyata lelaki yang di depanku sopan dan terlihat baik itu mulutnya lemes juga. Awas ya kamu, Mas! Untung saja tadi ponsel ku buat mode getar saja, jadi tak mengeluarkan suara nyaring saat kini suamiku itu menelepon. Segera ku Terima panggilan itu, dan menjawabnya dengan suara yang lirih. Karena tentu saja aku tak ingin semua rencanaku ini terbongkar. "Halo, Dek. Dimana kamu sekarang?" tanya Mas Ferdi to the point. "Ya lagi ada di rumah Dita dong, Mas. Udah dong jangan ganggu dulu, lagi asyik bercerita nih!" ucapku dengan lirih. "Ya sudah selamat bersenang-senang ya, Dek." Panggilan itu pun langsung ku akhiri tanpa menjawab perkataan dari Mas Ferdi. Rasanya kini mendengar suaranya saja aku sudah muak kok. Kembali layar ponsel ku fokuskan pada hasil pengintaian kamera tersembunyi itu. "Nah, kamu dengar sendiri kan si truk gandeng itu sedang berada di rumah temannya? Kalau begitu sekarang ayok, aku ingin melanjutkan yang semalam itu loh!" Mas Asep terlihat makin berani saja saat ini. "Ya udah kalau gitu, aku pun sudah nggak sabar loh, Yank. Habisnya kamu semalam satu kali langsung keok sih, hehehe." Perempuan itu pun tak kalah beraninya, dasar perempuan gatal! "Duh kamu nih buat aku malu aja Yank. Habisnya kamu itu hebat sekali loh, jauh beda dengan truk gandeng itu, yang selalu hanya seperti mayat hidup saat melayani aku," cerocos Mas Ferdi lagi. Dari ucapan mereka berdua itu dapat Kuambil kesimpulan, jika ternyata Mas Ferdi sejak kemarin malam sudah bersama dengan perempuan ini. Apa ini berarti setiap pamit untuk mengurus pekerjaan di luar kota, suamiku itu selalu mengajak selingkuhannya ini? Sudah memberiku julukan yang buruk, kini dia malah menghina pelayananku di depan perempuan ini. Padahal sesungguhnya aku pun selalu berusaha menuruti kemauannya dan sudah berusaha semaksimal mungkin. Keterlaluan sekali kamu Mas! Layaknya dua sejoli yang sedang di mabuk asmara, kini suamiku dan perempuan itu pun kembali berjalan bergandengan menuju ke dalam kamar, sembari terus menunjukkan kemesraan. "Ayo dong, Yank. Aku sudah nggak tahan lagi nih!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN