Kali ini Ferdi lebih terkejut lagi, dia sampai ternganga dan seolah membeku, menatap Dinda dan Dandy bergantian, lalu terhenti ke wajah Dinda meminta kepastian dari ucapan Dandy. Dinda berdecak sebal, dia sempat mencubit pinggang Dandy gemas. “Masa lalu,” ujarnya. “Ya, papa saya beberapa bulan lalu meninggal, dan … saya dengan tidak sengaja bertemu Dinda lalu jatuh cinta, dan … menikah dengannya,” ujar Dandy, menoleh ke Dinda dan menatapnya penuh rasa hangat. Dia tersenyum dalam hati melihat wajah Dinda yang merona menahan malu. “Wow wow wow, luar biasa.” Ferdi sampai bertepuk tangan dan dia tersenyum lebar. Tapi beberapa saat kemudian wajahnya berubah serius. "Sakit apa, Pak Dandy?" "Kanker mulut,” ujar Dandy dengan suara pelan. “Oh.” Ferdi menunjukkan wajah empatinya, dengan tangan

