Tidak ada gunanya bertahan pada kenangan yang menyakitkan. Aku akan melupakan kamu... Diary Ana. "Ana." "Ya?" "Still awake?" "Hum," angguk gadis cantik bernama Anastasia. "Ada apa? Kamu sedang kepikiran sesuatu? Wajahmu tampak murung," ujar wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu dari Ana. "No. Hanya sedang membuka buku harian." "Buku harian? Kenapa belum kamu buang? Masih mengingat dia?" Ana menggeleng. Ia harus berpikir logis. Apa manfaatnya terus terpuruk pada jurang masa lalu yang menyesakkan dadanya. Mengingat lagi lelaki yang sudah menghancurkan hatinya berkeping-keping, gadis dengan mata indah itu belajar bersikap tegar karena masa lalu itu. Perasaan kecewa, marah, tapi juga merasa bersalah. Karena sebenarnya kepergian lelaki yang pernah ada di hatinya itu, atas

