Dua orang pria muda dan tua berdiri di depan pintu rumah bercat coklat. Mereka sudah berdiri di sana sejak lima menit yang lalu. Tapi tidak ada pergerakan sama sekali dari keduanya. "Apa mereka ada di rumah?" Tanya pria tua itu yang tak lain Ardi. "Ada, Pa. Ini sudah jam empat sore. Biasanya mereka tidak pernah keluar rumah." Ujar Randi yakin, karena ia sudah mengamati rumah Dina sejak seminggu yang lalu. "Aku akan ketuk," ujar Randi lalu mengetuk pintu rumah Dina. Tok! Tok! "Assalamualaikum," salam Randi. Sebenarnya dia gugup, karena penolakan Dina kemarin. Apalagi sekarang ia bersama papanya. "Papa gugup, Ran." Adu Ardi yang menang terlihat gelisah. Padahal dia tidak pernah segugup ini bertemu dengan orang lain. Tapi kali ini, dia benar-benar takut dan gugup. "Tenang, Pa. Semua ak

