Part 12

2057 Kata
"Ah...akhirnya kita sampai di kolam ikan ini..." ujar Lia lega. Atika tersenyum ke arah Lia. Padahal jika dia lihat-lihat lagi, jalan dari tempat yang sebelumnya ke tempat ini hanya berjarak beberapa meter saja, namun yah karena yang membawa jalan adalah nenek renta yang sudah pelupa, jadi Atika pasrah saja mengambil jalan memutar. "Duduk disini temanku...lihat ikan-ikan itu...mereka sangat cantik...warna mereka ada merah dan hitam, hitam putih putih, merah dan hitam dan...warna apa ini? Aku sudah lupa...oh ya ampun aku melupakan warna ikan ku lagi...bagaimana ini?" ujar Lia sedih karena penjelasannya mengenai warna-warni ikan koi dia melupakannya. "Ini sepertinya warna biru agak kelabu nek...kepalanya berwarna putih..." ujar Atika ketika dia memperhatikan ikan koi yang ditunjuk oleh Lia tadi. Glung glung "Ah...benar temanku...warnanya biru agak kehitaman..." ujar Lia sambil mengangguk. "Biru agak kelabu nek," koreksi Atika. "Ah...benar temanku...biru kelabu..." ujar Lia. Sret Lia menunjuk ke arah kolam ikan itu, kolam itu memiliki desain yang indah, perancang kolam ikan ini patut di beri penghargaan. Pasalnya di tengah-tengah kolam ikan itu ada dua buah kursi empuk yang bisa orang duduk disitu. Dan orang yang bisa duduk disitu adalah nyonya besar Nabhan, Lia. "Banyak sekali ikannya...kau bisa lihat ikan itu...ah...dia melihat ke arah kita...oh temanku...sepertinya ikan itu melambaikan tangannya ke arah kita agar kita menghampirinya..." ujar Lia ketika dia melihat sebuah ikan koi Tancho* sedang berenang dengan siripnya, dan Lia berkesimpulan bahwa ikan koi itu sedang melambaikan tangan ke arah mereka agar pergi menghampirinya. Piw "Nek, ikan itu sedang berenang." Batin Atika berteriak protes. "Ayo kita ke sana menghampiri ikan itu...mungkin saja dia butuh bantuan...aku sudah sering membantu ikan-ikan ini bersama suamiku ketika mereka membutuhkan bantuan, ah...mereka waktu itu kelaparan...oh...ikan yang malang..." ujar Lia sambil menarik tangan Atika dan memasuki kolam. Sret Agri juga mengikuti dari belakang mereka. Sret Sret Atika tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti saja 'temannya ini'. Dia merelakan celana jinsnya basah saja, untuk saja dia sudah membuka sepatunya ketika duduk lesehan di pinggir tempat sampah dapur tadi. "Duduk disini temanku..." Sret Lia dan Atika duduk di kursi yang berada di tengah kolam ikan koi itu. "Airnya tidak dingin yah nek...enak...tidak juga panas..." ujar Atika ketika kakinya merasakan suhu di kolam ikan itu. Glung glung "Inilah yang membuatku senang...tidak dingin...aku suka tempat ini...aku dan suamiku sering berendam disini...ah...suamiku...apa yang biasa dilakukan oleh pasangan ketika sedang jatuh cinta?" Lia menoleh bingung ke arah suaminya, dia lupa apa yang ingin dia katakan. Agri tersenyum. "Berkencan sayang. Kita sering berkencan disini..." ujar Agri lembut ke arah Lia. Memang benar bahwa tempat kolam ikan itu adalah tempat kencan Agri dan Lia selain bak sampah yang berada di taman belakang. "Ah benar...aku dan suamiku sering berkencan disini...kita juga sering tidur siang disini...hahahaha..." Lia tertawa geli. "Ah...aku mengingat...suamiku sering memijit dadaku karena suamiku mengatakan bahwa itu bisa memperlancar aliran...aliran apa suamiku?" ujar Lia. "Aliran darah, Lia sayang..." sambung Agri. "..." Tuing! Wajah Atika memerah karena tersipu malu. Apa yang dikatakan oleh nenek Lia itu sudah jelas adalah aktivitas yang dilakukan oleh suami istri. Pertanyaannya bagaimana suami nenek Lia dan nenek Lia melakukan aktivitas itu di tempat terbuka begini? Wajah Atika penuh dengan tanda tanya besar. "Ah benar... aliran darah...oh aku sudah banyak melupakan semuanya... bagaimana ini?" ujar Lia. "Tidak apa-apa sayang, yang penting jangan melupakanku..." ujar Agri menenangkan Lia. "Ah kau benar suamiku...jangan melupakanmu..." ujar Lia. "Suamiku...beruntungnya aku memilikimu..." ujar Lia. Sret Hap "Aku yang beruntung memilikimu, Lia sayang." Cup Atika menjadi tersingkir karena Agri dengan tekad bulat merampas istrinya dari rangkulan Atika. Agri memeluk Lia dan mengecup nya sayang. Tuing! "Huuuuh!" helaan napas Atika. "Pertunjukan cinta lagi." Batin Atika berteriak. "Ah...jadi cemburu kan lama-lama lihat nenek Lia dengan suaminya terus..." tidak sengaja ucapan Atika terdengar. "Oh suamiku...temanku cemburu pada kita...bagaimana ini?" Tuing! Atika ingin melompat keluar dari dalam kolam ikan itu. °°° Drrt drrt "Halo," "Ibas, hei! Video kamu viral! Ada apa itu?" Gaishan berteriak heboh dari seberang telepon. Sret Nibras menjauhkan ponsel dari pendengarannya. Takut kalau-kalau dia tuli karena teriakan Gaishan. "Kau bisa dengar sendiri, ada apa kan?" ujar Nibras. "Ck! Maksudku jelaskan!" tuntut Gaishan dari seberang telepon. "Oh...tadi siang aku mengantar Atika, teman nenek itu menjual botol bekas di tempat daur ulang sampah di jalan x, namun sayang yang hasil dari jualan botol bekas itu dirampas oleh dua preman yang lewat, jadi seperti sekarang...Atika sedih dan yah kau tahu lah bagaimana sedihnya kita jika kehilangan uang yang itu adalah hasil jerih paya kita sendiri, meskipun itu lima puluh ribu." Nibras menjelaskan. "Sadis! Benar-benar sadis! Kau di rampok?" Gaishan heboh di seberang telepon. Piw Urat vena timbul di dahi Nibras, kentara sekali bahwa dia sedang menahan dongkol. "Gaishan Raffasya Nabhan! Kau tuli!" °°° Tak Tak Tak Seorang pelayan mendekat ke arah Farel dan Jihan yang sedang duduk santai di ruang nonton. Waktu menunjukan akan malam, sebentar lagi mereka akan makan malam, sambil menunggu makanan yang sedang disajikan, suami istri yang telah menikah selama 31 tahun itu terlihat sedang menikmati acara tv gosip yang sebenarnya bukan mau dari Farel. "Permisi tuan, ada tuan Davin yang datang--" "Farel! Aku datang!" terdengar suara seru dari seorang pria paruh baya. "Oh lupa! Assalamualaikum!" cepat-cepat pria paruh baya itu memberi salam masuk ke rumah. Sret Farel menoleh ke arah saudara sepupunya. "Wa alaikumsalam. Davin, ayo masuk." Balas Farel. Tanpa dibilang Farel pun Davin sudah masuk ke dalam rumah dengan percaya diri. "Eh, ada abang Davin." Jihan pun ikut berdiri. Tak Tak Tak Davin berjalan mendekat ke arah Farel. Hap Dua saudara sepupu itu saling berpelukan. Sret Mereka mengambil jarak. "Bagaimana kabar-" "Bagaimana kabar bibiku Lia?" Kalimat Farel dipotong cepat oleh sepupunya. Suaranya terdengar agak tajam dan menahan emosi. "..." Farel melirik istrinya, Jihan menerima lirikan itu. Glek Farel menelan susah air ludahnya. "Aku lupa memberi tahu abang Farel kalau ibu hilang beberapa hari yang lalu." Batin Farel menangis. Beberapa detik kemudian Farel tersenyum masam ke arah kakak sepupunya. °°° "Aku tidak habis pikir dengan jalan pikir kalian, kenapa sampai bibiku Lia bisa hilang?" Davin melotot ke arah Farel, pria berusia 60 tahun itu memasang tatapan serius ke arah Farel. Adnan, sang putra sulung dari Davin hanya duduk mendengar saja percakapan antara ayah dan pamannya. "Bang, kita panik hari itu jadi...tidak sempat memberi tahu keluarga Farikin-" "Memangnya yang hilang itu hanya keluarga Nabhan? Memangnya bibiku Lia bukan dari Farikin?" Davin melotot maksimal. "Aish!" batin Farel berteriak susah. Beginilah kakak sepupunya terhadap sang ibu. Terlalu menyayangi ibunya. Mungkin karena waktu kakak sepupunya lahir, sang ibu selalu dekat dan bermain bersamanya, jadi sosok dari ibunya sangat tertanam mendalam ke dalam otak kakak sepupunya. "Bukan...bukan seperti itu abang, yah...karena ayah marah dan kita semua turun lapangan untuk mencari keberadaan itu jadi...jadi..." Farel susah menjelaskan. "Heum! Baru aku yang datang! Kau tunggu saja besok-besok anak-anak dari paman dan bibiku yang lainnya akan datang kesini dan akan mengeroyokmu." Davin mendengus. "Alasan." Lanjut Davin. Tuing! Farel ingin sekali koprol sambil jungkir balik. Anak-anak pamannya yang lain lebih bengis lagi jika menyangkut sang ibu. "Kenapa nasibku begini, saudaraku yang lain banyak sekali ingin menghakimi ku." Batin Farel dramatis. "Bang Davin-" "Ah! Aku datang kesini tidak ingin membuang waktu denganmu, tapi aku datang kesini untuk menjenguk bibiku Lia." Ujar Davin memotong kalimat Farel. Piw! "Kalau tahu datang kesini untuk ibu, kenapa berbicara sok pelukan denganku!" batin Farel berteriak dongkol. Sret Davin berdiri dari sofa. "Ah...aku ingin melihat bibiku Lia, di tempat sampah mana bibi Lia berada?" tanya Davin ke arah Farel yang sedang dongkol. "Di kolam ikan belakang rumah." Jawab Farel bersungut. "Ok, Adnan, kau disini dan temanku om kamu bicara apapun yang kalian suka, ayah akan menjenguk nenek Lia." Perintah Davin ke anaknya, Adnan. Piw Begini selalu nasibnya kalau dibawa oleh sang ayah berkunjung ke rumah Nabhan dan mengunjungi nenek Lia. Pasti dia akan menjadi tameng sekaligus pesuruh ayahnya untuk menemani pamannya yang lain, dan ayahnya jadi leluasa untuk menjenguk nenek Lia. Padahal sebagai cucu dari nenek Lia, dia juga ingin lebih dekat dengan sang nenek. Tak Tak Tak Tanpa mempedulikan perasaan anaknya yang juga ingin bertemu dengan nenek Lia, Davin berjalan santai sambil tersenyum ke arah yang dikatakan oleh Farel. °°° "Oh temanku...kau lihat itu...banyak sekali ikan-ikan yang mengerumuni kita...mereka melambaikan tangan sepertinya ingin berkenalan dengan mu..." ujar Lia ketika memandanh ke arah kumpulan ikan koi berwarna-warni yang mengerumuni kakinya dan Atika. Tuing! Atika tersenyum kikuk. Melambaikan tangan apa? Ikan itu ternyata sedang mencari makanan. "Nenek, sepertinya ikan-ikan ini lapar, kita kasih makan saja yah?" usul Atika ke arah Lia. "Um...oh benar temanku..." ujar Lia berpikir. "Ikan-ikan ini lapar...oh ikan yang malang..." ujar Lia sedih. Piw Sang nenek yang menjadi 'temannya' ini memang berbeda dari nenek kebanyakan. Selama bertemu dan berinteraksi dengan Lia, Atika menyadari beberapa kenyataan bahwa, nenek Lia ini bukan orang normal seperti orang lain. Bukan berarti Lia ini gila. Sifat Lia lebih condong ke arah istimewa. Tempat sampah yang dia lihat bersama dengan Lia di rumah ini adalah tempat sampah gadungan. Artinya itu bukan tempat sampah asli, tempat sampah yang ada di rumah ini sengaja dibuat untuk Lia, dan makanan yang ada di tempat sampah itu adalah makanan bersih dan sehat. Itu makanan baru, karena ada yang masih hangat ketika Atika tidak sengaja menyentuh salah satu roti yang ada di dalam tempat sampah itu. "Jangan bersedih istriku Lia, aku akan memberi makan ikan-ikan ini," suara renta Agri terdengar, lelaki 86 tahun itu tidak senang ketika melihat sang istri sedih. "Ah...suamiku...betapa baiknya dirimu..." ujar Lia. Agri tersenyum lembut. "Beruntung aku memiliki suamiku..." ujar Lia ke arah suaminya. Hap "Aku yang beruntung memilikimu Lia," Agri memeluk istrinya. Cup Seperti biasa, kecupan ringan Agri tanamkan ke kening sang istri. Piw Atika menjadi tidak enak hati lagi. Lama-lama dia juga merasa benar-benar cemburu dengan interaksi antara Lia dan Agri. "Huuh..." napas susah Atika. "Nenek Lia saya biar sudah tua dan pelupa begini tetap dicintai oleh suaminya, aku? Apa daya yang jomblo ini?" batin Atika menangis. Tak Tak Tak Terdengar suara langkah kaki bersemangat dari dalam rumah menuju keluar rumah. "Bibi Lia! Bibi Lia! Ini Davin, keponakan kesayanganmu!" terdengar suara antusias dari seorang pria paruh baya. Sret Lia melepaskan pelukan dari suaminya secara paksa. "Oh? Siapa yang datang itu?" Lia menetap bingung ke arah Davin yang baru saja melangkah mendekat ke arahnya dengan menebar senyum lebar. "Bibi Lia, ini Davin, keponakan tersayang mu," ujar Davin dengan senyum girang. "Oh...Davin keponakanku?" tanya Lia bingung. Glung glung Davin mengangguk kuat. "Ya, Davin keponakan tersayang dari bibi Lia. Bibi Lia selalu bermain bersama Davin dulu, aku dulu yang selalu bermain di kolam ikan koi bersama dengan bibi Lia, apakah bibi Lia ingat?" jawab Davin. "Uh...ah...Davin keponakan kecilku...oh Davin...kau sudah berubah seperti ini...rambutmu kenapa sudah memutih?" ujar Lia. "Hehehe...bibi Lia mengingatku, ah! Senangnya!" Tak Sret Sret Davin memasuki kolam ikan koi dan merangkul sayang bibi bungsunya. Hap "Oh Bibi Lia, Davin sangat merindukanmu...apakah bibi Lia tidak merindukan Davin?" ujar Davin dengan memasang wajah memelas sambil memeluk Lia. "Oh keponakan kecilku Davin...tentu saja aku merindukan mu..." ucap Lia sayang. Piw Urat vena terlihat jelas di dahi Agri yang dongkol. Keponakannya ini datang-datang langsung menyambar istrinya. Karena adanya Davin, dia tidak bisa menikmati pelukan sayang dari istrinya. "Tidak kecil, tidak besar, sama saja, menjengkelkan." Batin Agri bersungut atas Davin. Cling Davin tersenyum lebar ke arah Agri. "Ah...rupanya ada paman Agri...Davin tidak melihatmu..." ujar Davin sambil cengengesan. "Memang matamu kan sudah buta." Ujar Agri dongkol. "Ukhum!" Davin terbatuk, tatapan Agri sangat tajam padanya. Sret "Hehehe..." Davin melepaskan pelukan dari Lia dan terkekeh. Sret Hap Davin dengan cepat meraih tangan Agri dan membuat tangan Agri merangkul Lia. "Ehem...paman Agri sehat-sehat saja sekarang..." Davin mencairkan suasana. "Lalu kau ingin agar aku sakit dan cepat mati?" suara dingin Agri. "Bukan! Bukan seperti itu, maksudku, paman Agri biarpun sudah berusia tua seperti ini masih saja bugar, ah...Davin ingin tahu, rahasia apa dan tips apa?" Davin mengoreksi ucapannya. "Hidup jangan menganggu orang lain." Balas Agri datar. Sret Cup Agri memamerkan kecupannya ke kening sang istri disaksikan oleh sang keponakan yang menjadi saingannya dari dulu. Piw Davin, pria 60 tahun itu mencibir dalam hati. "Sudah tua begini masih saja cemburu, heum." "..." "..." Davin tidak sengaja melirik ke samping belakang Agri, dan dia menemukan seorang gadis sedang menatap bingung ke arahnya. "Ah... rupanya ada orang ketika selain aku disini..." ujar Davin tiba-tiba. "Heh?" Atika melotot bingung. °°° "Ini adalah temanku...ah...namanya adalah...namanya adalah..." Lia bingung di tengah kalimatnya ketika menjelaskan status Atika kepada Davin. "Atika Fitrhiya, nenek." Atika membantu Lia dalam mengingat namanya. "Ah...benar temanku...Davin kecil, ini adalah Atika...dia adalah temanku..." ujar Lia ke arah Davin. Glung glung Davin manggut-manggut. Dia memperhatikan baik-baik wajah Atika. Seperti penjelasan dari Miki,. Bahwa Atika ini adalah orang yang menyelamatkan bibi kesayangannya. "Memang orang baik..." batin Davin menilai. "Namun sayang...gadis yang malang..." batin Davin lagi. "Temanku ini sangat baik...ah...dia memberiku makan dua piring nasi dan...dan...apa itu yang bentuknya bulat, wahai suamiku?" tanya Lia ke arah Agri. Lia sudah lupa makanan apa yang ingin dia katakan. "Telur, sayang." Jawab Agri lembut. "Ah...benar...telur..." Lia manggut-manggut. "Temanku yang baik hati ini memberikanku dua piring nasi dan dua telur...oh? Dua telur? Ah yah...dua telur untuk ku makan..." ujar Lia ke arah Davin. Glung glung Davin manggut-manggut. "Ah...benar bibi Lia, teman yang baik hati." Ujar Davin. "Ya benar keponakan kecilku...temanku meminjamkan baji barunya padaku..." ujar Lia. Tuing! Wajah Atika kikuk. "Ehm...maksud dari nenek Lia yaitu baju bekas lama saya yang memang sudah tidak muat lagi pada saya." Koreksi Atika. Davin tersenyum mengerti. Apapun yang dikatakan oleh bibinya ini, dia mengangguk saja agar menyenangkan hati bibi kesayangannya. "Benar bibi Lia, baju baru." Tuing! Atika kira pria paruh baya itu ingin membantu dia mengoreksi ke Lia bahwa baju yang Lia pakai itu adalah baju bekas bukan baju baru. Namun, malah pria yang merupakan keponakan dari nenek Lia itu malah mendukung nenek Lia. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN