TERSENYUM manis, Vina memanjangkan tangannya ke arah puncak kepala Faren, lalu menepuknya pelan. "Mama bangga sama Faren," ucapnya pelan. Wanita itu kemudian menyelipkan beberapa helai anak rambut ke belakang telinga Faren. "Dari apa yang Faren ceritain barusan, mama juga nggak bisa marah. Mama sebenernya juga kecewa sama mereka, tapi mama nggak bisa. Lagipula, mama juga udah ikhlas. Ini semua sudah menjadi rencana Tuhan." Faren menyenderkan kepalanya ke pundak Vina sambil memeluknya pelan. Detik selanjutnya, cewek tersebut sedikit mendongakkan kepalanya, menatap wajah mamanya. "Gimana dengan papa ma? Mama mau balik lagi sama papa? Jujur aja ma, Faren kangen banget sama papa. Faren ingin kayak dulu lagi. Bahagia bareng dan ketawa bareng. Mama juga kangen kan masa-masa kayak gitu?" Vi

