Bab. 6 - Firasat

1097 Kata
Terkadang kita merasa tindakan kita benar dalam cinta Tapi, seakan kita lupa bahwa semua hal ada konsekuensinya Setia atau mendua bukan sekadar hanya pilihan semata Tapi lebih pada keyakinan hati yang terlalu memaksa Seolah lupa, bahwa semua ada batasnya *** Beberapa bulan kemudian... "Kamu yakin dengan keputusanmu, Pras? Kamu sudah paham kan, apa konsekuensinya nanti?" "Ya. Aku juga ingin membina rumah tangga yang benar." "Tapi, kamu ingat posisimu seperti apa?" "Aku menyukai Lia, Pram. Aku ingin menikahinya." "Dan bagaimana bila dia tahu tentang Hesti? Kamu sudah siap dengan semua alasan dan kenyataan yang harus kamu beritahukan ke dia?" "Itu tugasmu untuk membantuku. Aku udah membantumu dulu. Sekarang, apa salah kalau aku minta bantuanmu balik?" "Bukan begitu maksudku." "Kalau gitu, cukup kamu bantu aku tanpa mempersulit dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu." "Baiklah. Karena aku berhutang budi padamu. Akan kubantu semampuku." "Terimakasih, Pram." "Dan ingat, Pras. Rahasia kita harus tetap menjadi rahasia. Kamu paham kan maksudku?" "Ya. Akan kuusahakan untuk menjaga rahasia itu." Pras terpekur di kamarnya. Ia memandang langit luas dari balik jendela. Wajahnya murung dan bingung. Teringat kembali percakapannya dengan Pram, membuat hatinya bergejolak bimbang. Ia menginginkan Dahlia menjadi miliknya. Ia menyukai gadis itu, dan semakin mengenalnya, Pras semakin jatuh hati. Hanya saja, ia terkurung dengan sebuah fakta nyata. Jiwanya gusar, harus bagaimana ia bersikap sekarang? Tetap meminang Dahlia yang ia kasihi? Atau tetap menjaga rahasianya sampai mati? Pras ingin bebas dari semua kegundahan yang menyekat dirinya. Ia merindukan Dahlia setiap kali kepalanya dipenuhi beban pikiran. Gadis itu selalu memberi kekuatan tersendiri baginya. Dering ponsel menyadarkannya dari lamunan. Tertera nama Dahlia di sana. Senyum terkembang di sudut bibir Pras. Pria itu tak bisa menolak hasrat hatinya yang bergejolak. Ia mengangkat dan mengucapkan salam. Dahlia membalas salamnya dengan suara yang begitu lembut. Nyaris jantung Pras dibuat kembang kempis. Membayangkan gadis itu berdiri di sampingnya dengan rekahan senyum termanis di dunia. Pras kasmaran terlalu dalam. "Lagi apa, Mas?" "Lagi ngelamun aja. Kenapa, Lia? Kangen?" Suara kekehan tawa Dahlia terdengar dari seberang panggilan. "Iya. Kok tahu?" "Nggak biasanya kamu telepon duluan sih. Jadi ya saya tebak-tebak aja. Barangkali memang kangen." "Mas Pras nggak kangen sama saya?" Pras menarik senyum simpul. Bohong kalau ia mengatakan tidak. "Kangen banget..." "Masa? Kan baru ketemu tadi pas makan siang?" "Kamu sendiri kenapa juga udah kangen lagi?" "Ehm... ya kangen aja." "Kalau sama kamu, saya selalu kangen, Lia." "Gombal..." "Seriusan." "Masa?" "Nggak percaya?" "Nggak." "Yaudah, nanti saya kerumah sakit." "Kok ke rumah sakit, Mas? Mau ngapain? Mas Pras sakit?" Suara Dahlua terdengar agak panik. "Kan kamu nggak percaya. Jadi, saya harus ke rumah sakit. Suruh dokter bedah buat buka jantung dan hati saya. Biar dicek. Pasti banyak tulisan kangen Lia di sana." Lagi-lagi Dahlia tertawa. "Memangnya bisa?" "Harus bisa." "Nggak usah ah, serem." "Kok serem?" "Iya serem pokoknya." "Percaya nggak?" "Percaya deh..." "Gitu dong, sama calon suami harus saling percaya." "Calon suami? Yakin banget, Mas..." "Kenapa? Kamu nggak mau jadi istriku?" Dahlia terdiam malu-malu. "Kok diam?" "Nggak mau." "Beneran?" "Nggak mau nolak maksudnya..." Pras mesem. "Oh ya, kamu ada apa tumben telepon malam-malam?" "Itu, Mas..." Dahlia menjeda sejenak kata-katanya. Pras seakan mengerti ada yang hendak dikatakan gadis itu tapi ragu untuk diutarakan padanya. "Iya, apa?" "Ehm... jangan marah ya? Saya mau bilang sesuatu." "Bilang aja, Lia. Saya nggak akan marah. Marah sama kamu itu artinya sama aja marah ke diri saya sendiri." Pras tak tahu, sekarang Dahlia tersenyum kesenangan mendengar kata-kata itu. "Begini, Mas... bapak dan ibuk nanyain tadi. Kira-kira hubungan kita ini serius apa nggak? Kalau memang serius, bapak dan ibuk maunya nggak usah ditunda lagi." Pras menghela napas sebentar. "Iya serius kok. Ehm... rencananya, minggu depan saya ajak orang tua ke tempatmu. Biar kenalan sekaligus lamaran." "Hah? Lamaran? Langsung gitu?" Dahlia kaget. "Loh, tadi nanya, sekarang mau dikasih tindakan serius malah kaget gitu." "Bukan gitu, Mas. Cuma nggak nyangka aja. Hehe." "Kamu mau kan?" "Mau apa, Mas?" "Besok aja deh kita obrolin. Nggak enak kalau ngomong di telepon. Udah malem juga, kamu tidur gih, istirahat. Besok kerja kan?" "Iya, Mas. Kamu juga ya..." Panggilan pun ditutup setelah saling mengucapkan salam. Pras berjalan menuju tempat tidurnya. Ia meletakkan ponsel di atas nakas. Lalu merebahkan diri di peraduan. Matanya berusaha terpejam. Dan ia melihat senyum menawan Dahlia dalam benaknya. Wajah cantik gadis itu membayang tanpa bisa ditepis lagi. Kegelisahan kembali menyelinap hatinya. Bagaimana bila akhirnya Dahlia tahu kenyataan tentang dirinya nanti? Bisa kah gadis itu menerima Pras? Sementara di tempat lain, Dahlia meloncat-loncat kegirangan. Tingkahnya seperti anak kecil baru dibelikan mainan oleh ibunya. Puspa masuk kamar setelah mengetuk pintu. Ia mendapati kakaknya yang seperti orang aneh. "Mbak Lia ngapain sih? Habis menang undian ya?" Dahlia berhenti dan duduk memangku bantal. "Lebih bagus daripada menang undian." "Masa? Bagi-bagi cerita dong kalau lagi seneng." "Kepo ya?" "Kenapa sih, Mbak? Pasti gara-gara Mas Pras ya?" terka Puspa. Benar saja. Sesuai dugaannya, wajah Dahlia langsung dipenuhi semburat kemerahan di pipinya. Senyumnya juga mengembang seperti bunga sepatu mekar. "Mas Pras mau ngelamar aku minggu depan." Gantian Puspa yang melotot kaget. "Hah?! Seriusan, Mbak?! Secepat itu? Kalian katanya baru kenal? Belum ada setengah tahun kan?" "Terlalu cepat kah?" Dahlia sangsi. "Ehm... bisa dibilang untuk masa pengenalan sih iya. Memangnya Mbak Lia udah diajak ketemu ortunya? Kenalan sama keluarganya gitu?" Dahlia menggeleng. Pras sama sekali tak pernah berbasa-basi akan hal itu. Pernah sekali Dahlia memberanikan diri, mengatakan ingin ikut ke Balikpapan sekalian jalan-jalan ke pantai. Tapi Pras menolak dengan alasan tertentu. Mau tak mau Dahlia pun urung untuk meminta diperkenalkan dengan keluarga Pras lagi. Sebagai perempuan, ia juga punya rasa malu. Tak ingin memaksakan kehendak sendiri juga. Karena merasa heran bercampur penasaran, Puspa pun mendekati kakaknya. Ia duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengambil guling untuk dipangku. Lalu bersiap memulai aksi wawancara dadakan. Alias mengulik lebih dalam tentang kisah cinta singkat antara sang kakak dan pujaan hatinya itu. "Mbak Lia nggak curiga? Barangkali Mas Pras ada yang lain?" "Maksudnya?" "Ya aneh aja gitu. Kalau memang mau lamaran. Kenapa Mbak Lia nggak dikenalin dulu sama orang tuanya? Minimallah ya." "Ehm... katanya sih dia bilang mau kasih surprise ke ortunya gitu. Jadi, mau langsung ajak ke sini aja." "Oh gitu ya?" "Aneh kah?" "Ehm... nggak juga sih. Kalau alasannya memang benar kayak gitu. Semoga aja calon kakak iparku itu bisa dipercaya." "Aamiin Yaa Allah ..." Dahlia berniat meraih gelas di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Entah karena apa tiba-tiba gelas itu jatuh ke lantai dan pecah seketika. Puspa langsung mengangkat kaki ke atas tempat tidur. Perasaan Dahlia tiba-tiba menjadi tak enak. Seakan ada sesuatu mengganjal di relung terdalamnya. Sulit dijelaskan seperti apa rasanya. Seolah ada firasat tak baik mengetuk jiwanya. ==♡ Secrets of Marriage ♡==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN