Kamu berbeda dari biasanya. Kamu mudah menyakitiku sekarang. Apa benar kamu adalah suamiku? -Catatan Dahlia- *** "Kamu apa-apaan sih, Mas? Kok nyuruh aku kayak nyuruh pembantumu gitu?" Dahlia makin geram. "Apa kamu bilang? Salah ya kalau suamimu nyuruh istrinya? Kamu mau aku minta ke perempuan lain? Kalau nggak becus jadi istri ya nggak usah jadi istriku." Lagi-lagi kata-kata Pram berhasil menikah ulu hati Dahlia. Membuatnya tercabis hanya dalam hitungan detik saja. Kelopak mata Dahlia terasa memanas. Ia menahan air mata sekuat-kuatnya. "Kamu kenapa sih, Mas? Aku ada salah apa sama kamu? Aku tahu kamu capek habis pulang kerja. Tapi, nggak gini juga caramu memperlakukanku. Kudengar barusan kamu juga teleponan mesra banget. Sama siapa? Perempuan mana?!" "Bukan urusanmu. Kamu bi

