"Kini dengan pengakuan yang keluar dari mulutnya, tak ada lagi kesempatanku untuk mendekat selain mendukungnya untuk bahagia dari kejauhan meskipun perih hati ini masih terus menerpa hatiku tanpa henti," *** Bara Aku terpekur melihat Spica yang kini berbaring di rumah sakit. Dokter bilang anemia yang dimiliki Spica kambuh ditambah lagi dia terlalu lelah memikirkan banyak hal belakangan. Tadi ketika Kak Farhan mengabarkan kepadaku dan Adit bahwa Spica dibawa ke rumah sakit dengan ambulans, kami segera berlari ke rumah sakit setelah buru-buru izin kepada bagian perizinan sekolah. Menurut pengamatan Sisca yang merupakan teman sebangku Spica di kelas, ketika jam pelajaran dimulai tadi, wajah Spica pucat dan tiba-tiba setetes darah segar mengucur dari hidungnya. Setelah kejadian itu, Spica p

